Sabtu, 29 Oktober 2016

Romantisme Polwan

Akhirnya sirine yang kutunggu itupun berbunyi. Dengan iramanya yang khas, sirine itu menjadi sinyal untuk kami agar segera melaksanakan apel sore dan bersiap untuk pulang ke asrama.
“ jaga kondusifitas keamanan sekitar dan setiap anggota wajib memberi tauladan yang baik kepada masyarakat” kata komandan regu kami mengakhiri amanatnya pada sore hari yang mendung itu.
Akhirnya setelah rutinitas mengisi daftar hadir, aku segera berlari kecil untuk bergegas keparkiran motor, untuk mengambil kendaraanku. Rasanya birahuku sudah sampai diubun-ubun ingin segera menyalurkan hasrat bilogisku yang begitu bergelora.
Namaku Tantri seorang polisi wanita yang bertugas di sebuah kabupaten kecil di negeri ini. Seperti layaknya anggota polwan, tubuhku langsing dan kencang karena hasil latihan fisik rutin yang selalu di lakukan setiap hari. Warna kulitku kecoklatan khas negeri ini, banyak orang yang mengatakan warna kulitku eksotis. Tinggiku 169 dan tergolong tinggi semampai, rambutku tentu saja pendek sampai ke tengkuk. Banyak orang yang bilang, semula tidak kupercayai, bahwa aku tergolong wanita dengan hasrat seksual yang besar. Mereka mengatakan ini karena sosok tubuhku agak bungkuk seperti bongkok udang. Tentu semua omongan ini hanya kuanggap omong kosong. Namun perlahan aku seperti membuktikan sendiri kebenaran omongan ini.

“rrrrrrrt,rrrrrrrrrrt”
Tanda getar di ponsel menandakan ada sinyal sms masuk.
Sambil duduk di jok motor aku buka hp dan membaca isinya , “ Hai Mbak sexy kutunggu kamu di kontrakkan sudah kusiapkan kejutan yang manis buat kamu”.
Itu sms dari laki-laki misterius yang telah berhasil membuatku jatuh hati dan menyerahkan segalanya.
Naluri kewanitaanku secara alamiah bangkit bahkan hanya dengan membaca sms ini. Betapa mahirnya laki-laki yang bernama si Alex ini membuatku ketagihan secara seksual.
Dengan hati yang berdegup secara kencang, aku pacu sepeda motorku untuk menuju kontrakan Alex yang terletak tidak jauh dari asrama tempatku tinggal. Sebagai wanita, kami dibudayakan tertutup secara seksualitas. Bahkan kami tidak diajarkan oleh leluhur kami untuk menikmati aktifitas bersenggama dan berhak memperoleh kenikmatan yang sama seperti halnya laki-laki. Namun Alex perlahan namun pasti mengajarkanku arti nikmatnya berhubungan badan.
10 menit kemudian sampailah aku di kediaman Alex yang cukup mewah untuk ukuran warga kabupaten ini. Alex sendiri adalah seorang mahasiswa anak dari orang tua yang cukup berada. Tubuhnya hanya sedikit lebih tinggi dariku dan dia berkulit putih. Usianya 4 tahun dibawahku, Posturnya sangat terjaga karena dia rajin berolahraga. Awal pertemuan kami terjadi di sana.
Sebagai anggota kami diharuskan untuk menjaga bentuk tubuh. Apalagi untuk wanita, bulliying dari senior akan sangat sadis bila kedapatan tubuh kami sedikit berlemak. Sejak lulus dari asrama, olahraga pagi adalah makanan sehari-hari. Secara rutin aku berlari, fitness dan mengikuti aerobik yang diadakan di gor olahraga ataupun stadion kabupaten.
tempat fitnes Jos Gym yang menjadi saksi awal pertemuanku dengan Alex. Saat itu, ditengah keasyikan berlatih ada seorang laki-laki yang mendatangi dan menyapa.
“ halo, selamat sore, maaf mengganggu Mbak ini aparat ya?”
“ iya benar, Mas siapa ya??”
Jawabku dengan nada tegas dan ketus karena kami memang dilatih demikian.
“ perkenalkan nama saya Alex” sambil menjulurkan tangan, tanda ia ingin berkenalan.
“ Tantri” jawabku sambil menjabat tangan Alex
“ Mbak maaf ya gerakannya sudah bagus kok, tapi kurang tepat, ini saya tunjukkan gerakan yang benar”
Alex kemudian mengambil dumbel tersebut dan mencontohkan gerakan yang tepat dibandingkan gerakan yang tadi aku lakukan.
“ Untuk latihan kaki gerakan yang benar seperti ini Mbak, harus jongkok sampai kebawah ,dengan ini Mbak bisa membentuk pantat, betis, tungkai dan tumit sekaligus”
Aku memperhatikan dengan seksama, sambil menaruh kesan awal yang baik kepada pemuda ini. Bahasanya baik, sopan, tempangnya ganteng, dan yang terpenting dia berani untuk mengajak ngobrol seorang anggota. Bukan rahasia umum, banyak laki-laki yang selalu melirik atau terpesona dengan kecantikan maupun kesexyan polwan yang biasa berbalut busana kerja ketat, namun sayang tidak mempunyai KEBERANIAN untuk mendekati kami. itulah yang membuat beberapa diantara kami kesulitan untuk menemukan pasangan hidup.
Tapi pemuda ini berbeda. Dia bisa mendekatiku dengan lembut dan sopan seperti gentleman. Mungkin itu alasan dia segera mendapatkan tempat di hatiku. Sore itu kami lalui dengan penuh senyum dan canda. Obrolan diantara kami begitu cair dan akrab. Kuperhatikan dari kaca yang bertebaran di tempat fitnes ini bagaimana Alex mencuri-curi pandang terhadap kesintalan tubuhku. Hari itu sebenarnya aku mengenakan pakaian yang biasa saja. Aku mengenakan kaos ketat tanpa lengan warna merah yang menampilkan keeksotisan warna kulitku. Mungkin karena ketatnya kaos yang kukenakan, buah dadaku yang tergolong cukup berisi juga terekspose secara maksimal. Untuk bawahan aku kenakan celana training panjang yang menutup rapat sampai mata kaki.
“ sekarang kita latihan trisep ya Mabak Tantri” alex berkata sambil mengambil barbell ukuran 4 kg yang berada di rak.
“ bagaimana gerakannya??” tanyaku
Jujur olahrafga fitnes memang baru buatku. Di asrama aku biasa olahraga lari mengelilingi asrama, push up, sit up, atau berlatih bela diri karate yang memang diajarkan.
“ pegang barbell dengan kedua telapak tangan Mbak di ujungnya, Seperti ini. Kemudian angkat kedua tangan Mbak rapat di kepala, trus lengan ditahan, barbell diturunkan kebelakang kepala, satu set hitungan 10 kali”
Gerakan ini aku lakukan menghadap kaca besar di salah satu sudut Gym. Pada pantulan kaca aku bisa melihat kedua tanganku terangkat. Kaos tanpa lengan yang kukenakan membuat ketiakku dapat terlihat jelas oleh Alex. Dia berdiri tepat dibelakangku untu menahan kedua lenganku agar tetap lurus. Alex terlihat sangat terpesona dengan kedua ketiakku yang mulus tanpa bulu itu. Selain itu posisi ini membuat bulatnya dadaku semakin menonjol karena kedua tanganku terangkat tinggi keatas.
“ ayo mulai Mbak 1……2………3”
Gerakan latihan trisep itupun dimulai dengan sebuah pantulan cermin yang cukup membuat jantungku berdebar. Posisi kami benar-benar menempel. Dapat kurasakan nafas Alex yang berderu lebih cepat. Bahkan tanpa Dia sadari ada benda yang tiba-tiba menonjol di bawah celana trainingnya. Alex terangsang batinku.
“ Mbak Tantri harum, aku suka bau badan Mbak….10 cukup”
Bisik Alex ketelingaku sambil mengambil barbell yang cukup berat untuk kuangkat .
Sambil mengambil nafas karena kelelahan dan sedikit horny kami lanjut ngobrol. Entah kenapa aku mudah sekali horny. Saat inipun wajahku bersemu merah, orang awam pasti melihat wajar wajahku merah karena habis olahraga tapi jujur sebenarnya aku terangsang. mungkin karena melihat seorang pria tampan yang berdiri tepat dibelakangku sambil pandangannya sangat mengagumi kemolekan tubuhku membuatku sangat terangsang. Atau juga karena tingkat stress di lingkungan kerjaku yang sangat tinggi yang membuatku mudah terangsang, entahlah.
“ Mbak kenapa ikut fitnes disini?”
“ iya biar badanku gak gemuk”
“ badan udah sexy gini kok dibilang gemuk”
“ hush badan semok gini kalo diliat seniorku masih dibilang gemuk tau”
“ berat ya pekerjaan Mbak”
“ iya makanya jarang ada cowo yang deketin aku”
Tanpa sadar aku mengucapkan pikiran negatif yang timbul sendiri. Mungkin karena perasaan bahwa kami ini karena tugas menjadi bukan seperti wanita normal.
“ ada aku kok Mbak Tanti yang mau sama kamu he he” kata Alex sambil bercanda
“ ha ha nanti juga kamu ketakutan sama aku, kayak cowo kebanyakan”
Ujarku sambil melagkah ke ruang ganti untuk berganti baju.
Pertemuan kami hari itu diakhiri tanpa ada yang spesial. Kami melangkah pulang kerumah masing-masing untuk kembali beraktifitas keesokan harinya.
Namun mungkin karena pertemuanku yang pertama itu dengan Alex, fitnes menjadi semakin rutin kujalani. Setiap sore kudatangi Jos Gym untuk berlatih. Alex juga demikian, dia selalu ada di tempat latihan setiap aku ada disana. Setelah dua mingguan rutin belatih kami baru tahu kalo sebenarnya rumah kami berdekatan. Jarak rumah kontarakan Alex hanya berjarak sekitar 7 menitan dari asramaku.
Selama dua minggu itu entah kenapa aku selalu ingin tampil sexy di hadapan Alex. Aku selalu mengenakan baju ketat tanpa lengan yang membuat lekuk tubuhku terlihat. Bahkan yang juga membuatku malu, aku mengenakan training panjang ketat yang bahkan membuat celana dalamku kadang-kadang terlihat. Penampilanku yang demikian rupanya membuat Alex juga semakin berbinar-binar matanya. Sering ketika kami sedang Alex tiba-tiba ijin untuk ke kamar mandi, katanya kebelet ingin buang air.
Hanya dalam dua minggu perubahan telah tampak di tubuhku. Pantatku semakin kencang, dan mungkin yang membuat Alex semakin berbinar adalah dadaku terlihat semakin berisi akibat latihan yang rutin. Gairah dan libidoku rupanya ikut berubah setelah latihan yang rutin. Kurasakan tubuhku begitu bergairah, namun sebagai wanita yang tidak tahu cara melampiaskannya, gairah ini kupendam sebisanya.
Sering terjadi ketika di asrama, gairahku meninggi kususnya pada malam hari. Biasanya menjelang tidur dengan libido seperti ini, kulepas seluruh busana yangmelekat di tubuhku, kadang cd tetap kekenakan kadang juga kutanggalkan . Sering teman-teman kamar yang tinggal seasrama terkejut ketika bangun dan menyadari bahwa sahabatnya tidur tanpa sehelai benangpun.
Buatku pribadi pengalaman tidur telanjang merupakan salah satu bentuk pelampiasan terhadap gairah yang begitu memuncak. Sering aku tidur tengkurap agar putingku yang tanpa penghalang bergesekan dengan seprei kasur dan sensaninya luar biasa. Cd yang melekat di daerah kewanitaanku sering kulepas dan tanganku yang nakal sering menggeseknya dengan guling atau selimut. Aku termasuk wanita yang pembersih. Setiap seminggu sekali selalu kucukur rambut-rambut yang tumbuh di arena intim dan ketiakku, dan melumurinya dengan ramuan tradisional yang mampu membuatnya bersih dan wangi.
Pengaruh libido dan hormon seksual jelas mempengaruhiku, dan jujur akupun telah melakukan eksperimen seperti tidur telanjang untuk menyalurkannya, namun hingga detik itu aku masih belum tau artinya sebuah kenikmatan seksual, sampai pagi itu Alex mengajakku untuk aerobik pagi bersama.
*
“ mbak Tantri besok aerobic pagi bareng yuk”
Itu bunyi sms Alex pada saat aku sedang bersiap tidur.
“ ayo kebetulan besok hari sabtu,kantor libur, jadi gak terburu-buru untuk apel pagi” jawabku
“horeeee, o ya boleh request gak Mbak Tantri?”
“request apa ya Lex?”
“besok Mbak pake kaos merah yang sexy itu ya!”
“emang kenapa Lex?”
“gak apa Mbak , Alex senaeng aja kal liat Mbak pake baju itu”
“yau udah besok Mbak pake baju itu deh”
“ makasih ya Mbak, besok jam lima ditunggu ya deket stadion asrama”
“ haa jam lima??? Gak kepagian tuh Lex??”
“ enggak Mbak udah rame kok jam segitu”
“ ya uda jam lima teng mbak sudah disitu, awas kamunya jangan telat ya mbak push up nanti”
“ siap Komandan”
Setelah tidur yang singkat, akupun bangun untuk kemudian sebentar menggosok gigi dan mengenakan pewangi tubuh, aku berangkat menuju stadion dekat asrama tepat jam lima pagi. Betapa terkejutnya aku karena stadion masih sepi sekali. Bahkan suasanapun masih gelap.
“ pagi Mbak Tantri, mari masuk” seru Alex menaymbutku di parkiran. Sikapnya masih gentel seperti biasa.
“ Alex kamu hebat tepat waktu, tadinya Mbak udah mau ngepush kamu. tapi ini masih sepi sekali, katamu udah rame??”
“ hush sini deh Mbak ada yang Alex mau omongin ama Mbak”
Kami kemudian masuk ke stadion. Dengan lapangan yang biasa mementaskan pertandingan tim daerah kami yang berlaga di divisi 2. Tribun penonton yang kosong. Lampu sorot yang berfokus menyorot ke lapangan. Sitambah udara pagi. Tentu suasana agak horror dan menyeramkan.
Alex kemudian terus berjalan mengajakku kesebuah sudut stadion yang remang-remang.
“ Alex awas ya jangan macem2!!! kamu kan tau siapa Mbak”
Kataku dengan nada tegas karena naluri polisi yanglekas curiga dengan modus Alex yang sangat mencurigakan ini.
“ nggak deh Mbak, Alex toh tau Mbak jago karate, bisa bonyok nantinya . Apalagi kalo dipenjara takut banget deh Mbak. Ini alex Cuma mau jujur saja…..”
“Jujur apa alex???cepet donk ngomongnya!!! Atau mbak panggi l temen-temen mbak yang lagi patroli sekarang!!!” ancamku
“ ampun Mbak jangan donk, Alex Cuma beliin ini kok buat Mbak.” Kata Alex sambil menyodorkan satu bungkusan kado warna pink yang terbungkus sangat indah.
“ ya ampun Alex kejutan apa ini??kamu baik sekali sama Mbak, jadi malu nih”
“ dibuka donk Mbak kadonya” kata Alex
Dalam hati aku sangat bersyukur, akhirnya dapat juga kado dari seorang pria. Sudah lama aku memendam rasa iri ketika ada hari valentine, para pasangan saling berbagi kado, aku hanya merayakannya dengan teman sesama wanita di asrama. Ketika kubuka kado yang terbungkus indah itu, betapa terkejutnya ketika melihat kado ini adalah sebuah kalung emas berbandulkan tanda cinta, dan sebuah coklat import yang pastinya mahal.
“ Alex inikan mahal. Kamu yakin ini buat Mbak????”
“iya Mbak sejak pertemuan pertama Alex sudah jatuh cinta sama Mbak, kalung sama coklat itu hanya wujud cinta sama sayang alex sama mbak kok”
“ kamu baik banget Alex.” Kataku sambil sedikit menitikkan air mata karena terharu.
“ sini mbak Alex pakein kalungnya, Alex sengaja minta Mbak pake baju merah ini biar leher Mabak yang jenjang bisa dipasangin kalung cinta ini. “
Masih bergetar rasanya perasaan ini melihat sebuah kejutan dari pria tampan dihadapanku. Begitu romantis dirinya untuk membuatka terdiam ketika tangannya yang kokoh mengalungkan sebuah kalung di leherku. Sangat lembut dan telaten dirinya untuk memasang kalung cinta di leherku. Masih dalam suasana spechless dan terpesona, aku terlambat menyadari dan begitu pasrah bahkan tanpa perlawanan ketika Alex mulai memelukku dan langsung mendaratkan ciuman di bibirku. Ini adalah ciuman pertama yang kualami dan rasanya begitu menggairahkan.
Alex memelukku demikian erat, bibir kami berciuman dengan begitu bergelora. Kunikmati setiap momen ini, saat-saat dimana bibir kami saling bertemu, saling menghisap, saling menjilat. Dengan lihainya Alex mendaratkan ciuman yang begitu dalam, sangat intim, sampai membawaku terbang langsung ke awang-awang. Mungkin sekitar 5 menitan kami saling berpagut. Tanga kanan Alex memegang kepalaku dengan lembut, untuk kemudian menatapku dengan pancaran penuh dan cinta menggelora.
“ Mbak Tantri aku cinta banget sama Mbak”
Kata Alex singkat untuk kemudian memagut mulutku dan kami kembali tenggelam dalam perciuman yang begitu panas, mengalahkan dinginnya udara pagi hari itu. Dengan sabar Alex memanduku yang masih hijau dalam masalah ciuman ini. Lidahnya membuka perlahan mulutku dan mengundang lidahku untuk saling berbagi cairan kenikmatan. Dengan ragu kujulurkan lidahku kedalam mulutnya dan disambut dengan hisapan yang begitu sensasional. Alex sangat mahir berciuman dia bisa membuatku begitu terangsang padahal tangannya tetap memeluk tubuhku tanpa beranjak kemana-mana.
Perlahan lidahku dikulumnya, untuk kemudian aku ganti mengulum lidahnya. Begitu panasnya kami berciuman. Dengan begitu mahir, Alex kemudia melepas pagutannya untuk kemudian berbisik ketelingaku.
“Mbak percaya sama Aku ya, Alex mau bawa Mbak ke langit ketujuh”
Alex membisikkan kalimat itu sambil menatap wajahku yang telah merah padam karena malu. Anggukan mungkin jawaban terbaik yang bisa kuberikan padnya karena bibirku sudah terbisu tidak mampu mengucap satu katapun. Alex melanjutkan dengan membimbingku untuk berdiri bersandar di sudut kecil stadion. Dalam posisi ini Alex langsung menyusur pori-pori leherku. Menghirup aromanya pelan, untuk kemudian memberikan ciuman-ciuman kecil yang intens disekitarnya. Ciuman untuk merangsang libidoku. Tangan kirinya menengadahkan daguku untuk meudahkannya mencium dan menghisap keindahan leherku. Posisiku saat ini mendangak sambil berdiri, dengan seorang pria yang asyik mengoral leherku yang jenjang.
“aaaarrrgggghhhhhh”
Hanya itu yang dapat keluar dari bibirku, sambil tanganku mengepal di balik bahu Alex berusaha mengendalikan ledakan-ledakan syahwat yang mendesak keluar untuk dipuaskan. Tangan kanan A lex mulai bergeriliya menyentuh bahuku yang tanpa pelindung. Mengelusnya perlahan centi demi centi. Alex kemudian menghentikan hisapannya, meninggalkanku dengan penasaran dan wajah yang merah padam ingin dipuaskan. Alex tersenyum melihat wajahku sambil berucap
“Mbak semakin cantik saja kalo begini”
Kutampar pelan dirinya untuk menyembunyikan kemaluanku akan wajahku yang begitu bergairah. Dengan perlahan Alex memasukkan kedua tangannya masuk ke sela ketiakku dan mengangkatnya ke atas rapat disisi kepalaku.
“pegang besinya Mbak!”
Kata alex sambil meletakkan tanganku untuk memegang besi yang menggantung 10 cm diatasku. Dalam postur berdiri menyandar, dan kedua tangan terangkat tinggi ke atas, ditambah balutan baju ketat merah, Alex secara perlahan mulai menempatkan kedua tangannya disekitar buah dadaku yang masih terbungkus bra. Dia sisir perlahan tepi luar dadaku untuk kemudian membuat gerakan berputar di sekiitar putingku yang telah mengacung tegak. Kupegang erat besi yang ada di atas kepalaku, sambil mataku terpejam dan dan kedua bibirku tertahan.
“hggggggggggggh”
Aku tak tau apa yang terjadi tapi rasanya organ intimku berdenyut kemudian menyemburkan cairan yang membuat semua tubuhku bergetar, darah seperti sampai diubun-ubun, dan semua pikiranku kosong terbawa dengan erotisnya permainan Alex. Ini adalah orgasmeku yang pertama. Padahal Alex baru memainkan putingku dari luar. Alex memelukku erat sambil memberiku kesempatan meredakan orgasmeku. Setelah badai nikmat itu reda. Alex memulai kembali geriliyanya terhadap tubuhku dengan mengangkat kaosku sampai keatas dadaku.
“ jangan dilawan ya Mbak, tetap pegang aja besi itu Alex mau buat Mbak mabuk kenikmatan”.
Kuturuti permintaannya. mungkin benar karena sensasi orgasme yang baru saja kualami membuatku mabuk kenikmatan. Alex turun ke perutku yang telah terbuka menghirup aromanya
“ aroma Mbak membuatku tergila-gila”
katanya untuk kemudian dengan rakus menyerbu pusarku dan memainkan lidahnya menari-nari disana. Rasanya geli namun nikmat. Kembali kutengadahkan wajahku kelangit-langit sambil menggenggam erat besi yang melintang diatasku.
Sambil menjilat pusarku tangan Alex turun untuk membuka celana trainingku. Dalam posisi tertengadah aku tidak menyadari ketika celanaku sudah terlepas meninggalkan cd warna merah yang masih melekat menjadi pertahanan terakhirku. Alex menyentuh pahaku sebelah luar dan sejenak kembali mengembalikan kesadaranku. Kulepas peganganku di palang dan kubangunkan Alex untuk berdiri berhadapan denganku.
“ jangan Alex Mbak malu”
“gak apa Mbak percaya sama Alex”
“sudah kamu disini saja jangan lihat kemaluan Mbak, malu”
“iya Mbak”
Alex kemudian menurut. Tapi dia kembali menciumi ku dan kami saling berpagutan mesra. Aku masih berdiri hanya dengan cd merah yang menutupi bagian bawah tubuhku. Kembali kedua tangan Alex membuka sela-sela ketiakku dan membawanya keatas kepalaku untuk memegang palang. Kuciumi dia dibibirnya dengan sedotan-sedotan dan permainan lidah yang membara . Ditengah pagutan itu tangan Alex tiba-tiba masuk ke dalam celana dalamku dan menyentuhnya dari perbatasan anus sampai ke pangkal klitoris.
“ Youre shaved Mbak, betapa beruntungnya aku”
Itu bisiknya sambil naik menaik turunkan tangannya membelai daerah kemaluanku dari dalam cd merah. Ini juga pengalaman pertama daerah kewanitaanku disentuh oleh seorang laki-laki yang diam-diam aku cintai dan rasanya begitu luar biasa. Kulepas ciuman kami, dikarenakan desakan rangsangan dari bawah tak mampu kutanggung kembali, smpai harus kutengadahkan lagi wajahku keatas memandang langit.
“ kamu cantik Mbak Tantri, kamu sexy sekali”
“………hgg………………………………………”
Tidak mampu kutahan. Dengan tangan Alex yang masih di area intimku kujepeit tangan itu. Aku orgasme. Semua aliran darahdalam tubuhku seolah berkumpul di satu titik vagina dan meledak disana. Oooooow nikmatnya. Begitu nikamatnya. Tangan Alex tetap mengocok cepat meskipun kujepit erat.
“ ayo Mbak Jangan ada yang ditahan nikmati sepenuhnya!!!!”
Bisik Alex kepadaku.
“hahhhh…………………………………………………………..”
Begitu nikmatnya… pikiranku seolah sudah sampai di kahyangan.
Sensasi ini begitu dahsyat. Membuatku melepas pegangan palang dan terjatuh di pelukan Alex.
“ ( heh…..heh….hehhh……) A…Alex”
“Ya Mbak” jawab Alex sambil memeluk tubuhku
“nikmat balet Alex”
“bener Mbak?”
Aku mengangguk
“kenapa bisa senikmat ini batinku
“Alex akan terus member kenikmatan buat Mbak, yang penting Mbak percaya Alex”
Aku kembali mengangguk.
Pagi itu merupakan petting awal yang akan memulai petualangan seksualku yang luar biasa bersama Alex. Tentu tidak ada olahraga hari itu. Lututkuq kopong seperti kehilangan kekuatan. Namun Alex setia menemaniku sampai aku beranjak dari parkiran stadion menuju asramaku kembali.

Setibanya di asrama sejuta pikiran dan perasaan menyerbuku. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Dengan tingkat stress yang begitu menekan, kenikmatan yang diberikan Alex di stadion ibarat menjadi candu yang membuat semua persoalan itu fly terbang lenyap, menghilang ditelan ledakan orgasme. Namun disisi lain, aku adalah gadis yang masih memegang tradisi timur yang menjunjung rasa malu. Disamping itu pendidikan keras di asrama menekankan pentingnya harga diri. Wajarkah seorang gadis anggota kepolisian yang masih perawan, begitu menjunjung harga diri, merelakan dirinya lepas kendali dalam kemabukan kenikmatan? Wajarkah aku yang biasa menilang pengendara dijalan, menghardik masyarakat yang kurang disiplin, kehilangan kendali di tangan seorang warga masyarakat biasa?? Semua pertanyaan ini berkecamuk hebat dipikiranku.
“Brigadir Tantri, benarkah perbuatanmu pagi hari ini??”
Itulah penggalan pertanyaan yang terus menggumuliku sepanjang akhir pekan, pasca Alex memberikanku kenikmatan yang tiada tara. Memberi Kenikmatan?? Dengan insting aparat yang dinaungi perasaan bersalah aku menyebut peristiwa itu kini pelecehan. Ya buatku Alex telah melecehkanku di stadion itu. Tapi apakah aku akan menangkapnya?? Ah jangan aku terlalu mencintai dirinya. Aku terlalu menikmati apa yang telah dia perkenalkan di stadion itu.
*
Sudah dua minggu berlalu sejak peristiwa itu. Setiap sms atau telpon dari Alex tidak pernah kujawab. Aku tau dia pasti kehilangan diriku, karena aktifitas fitnespun kuhentikan. Perasaaan dan pikiran dalam diriku berangsur pulih. Kegalaua kemarin mungkin dipicu oleh sindrom datang bulan yang membuat perasaan wanita jadi tidak karuan. Aku sudah bersih sekarang, tapi Alex tetap menjadi tersangka yang belum mendapat ijin untuk melintasi kehidupanku.
“ Mbak Tantri kemana aja?? Alex jadi khawatir nih. Maafin Alex atas peristiwa di stadion. Sumpah Mbak Alex tidak ada niat ingin mempermainkan Mbak. Alex hanya terbawa suasana karena cintanya Alex sama Mbak.”
Itu sms darinya. Kumatikan hp yang kupegang, tidak mau kujawab sms yang dikirimkannya malam ini. Kupandangi diriku di depan cermin kamar, masih berseragam lengkap, baru saja kutunaikan tugas mengabdi kepada Negara.
“ kamu cantiik Mbak Tantri, kamu sexy sekali”
Terngiang bisikan mesra Alex di sudut stadion pagi itu. Kupandangi lekat-lekat wajahku di hadapan cermin, rambut pendek yang menghiasi tubuhku, mancungnya hidung yang diberikan Tuhan kepadaku, bibir eksotis yang hadir menemaniku. Banyak orang bilang dengan wajah cantik ini aku layak memandu acara terkenal di televisi yang memberikan laporan kondisi lalu lintas terkini. Namun aku bertugas di sebuah kabupaten kecil jauh dari sorotan para petinggi kesatuan, tentu hal itu hanya mimpi. Turun kebawah aku melihat di cermin pantulan tubuhku yang kata Alex sangan sexy. Di bahuku masih menempel pangkat yang memberiku nafkah sehari-hari, lencana , papan nama dan tanda korps, masih menempel lengkap di beberapa bagian baju dinasku. Kulihat dadaku yang begitu dipuja Alex tampak begitu penuh, bulat dan menggairahkan. Perlahan kucopot satu persatu kancing bajuku sampai terlepas semua. Mulai terlihat belahan dadaku yang ranum dibalut BH berwarna putih. Perutku yang ramping dan sexy mulai terekspose. Teringat perlahan bagaimana Alex mempermainkan pusarku dengan lidahnya yang menari seperti penari balet. Berputar putar memicu gairah pada organ intimku.
Kulepas bajuku, kuletakkan rapi di hanger baju yang telah disiapkan. Kini hanya dengan BH dan rok kerja setinggi lutut aku berdiri menghadap cermin. Kuturunkan restleting rokku yang ada di samping kanan pinggul dan kujatuhkan saja dibawah kakiku, meninggalkan CD warna putih yang setia menjadi penutup liang kewanitaanku.
“Tantri…Tantri memang dirimu benar-benar sexy”
Kataku dalam hati, sambil mengagumi tubuhku sendiri yang hanya berbalut BH dan CD warna putih. Kulitku yang coklat eksotis tampak kontras berbalut daleman putih. Sangat menggairahkan. Pelan kudengar lantunan lagu romantis beralun dari kamar sahabatku yang tidur di kamar sebelah. Kupejamkan mataku sambil berusaha tenggelam dalam irama musik. Indahnya suara penyanyi lagu ini membuat kepalaku bergoyang perlahan ,sejenak berusaha menghilangkan permasalahn hidup. Ritmis, bertempo, perlahan kepala ini mulai bergoyang seirama alunan melodi. Goyangnya kepala terasa hambar tanpa gerakan bagian lain tubuhku. Mulai kugoyangkan bahuku yang kanan naik turun sesuai melodi, berganti bahuku yang kiri. Kepala dan bahu kini bergoyang begitu ritmis membawaku relax tanpa memikirkan apa-apa.
“ dum…dum…la….la….la…la…tra…tra..traa”
Bunyi aransemen lagu itu. Merangsang pinggulkupun bergerak kanan kiri seirama. Kubuka membali mataku menghadap cermin, melihat diriku yang begitu menikmati irama musik, berbalut busana yang sangat minim.
“ ohhh kenapa aku jadi bergairah” batinku
Kuangkat tinggi tanganku rapat ke langit-langit . Ketiakku terlihat jelas, sangat sexy, bersih dan terawatt.
“terus goyang Tantri goyang”
Oooh aku mulai merasa begitu horny melihat tubuhku sendiri. Entah apakah ini masa suburku sehingga aku begitu terangsang. Tanganku yang terangkat tinggi membuatku kembali flash back ke peristiwa hari sabtu yang begitu panas. Sepertinya palang besi stadion itu hadir secara nyata di atas kepalaku. Ooh tidak, ternyata bukan hanya palang besi itu yang hadir, tapi sosok Alex perlahan mulai muncul, hadir secara nyata, lengkap dengan aroma tubuh dan deru nafasnya.
Di hadapan cermin rias seolah kulihat diriku yang hanya mengenakan CD danBH putih berhadapan menempal erat dengan tubuh Alex di depanku.
“ Alex gantengku cium aku sayang” fantasiku sambil memejamkan mata dan menggoyangkan tubuh.
“oooooooh”
kenapa bisa Tantri?? Kutuk diriku. Kamu mendesah-desah dikamarmu sendiri.
Begitu panas rasanya. Begitu bergelora. Kubuka kaitan BH yang mengait di punggung dan kubebaskan payudaraku merasakan atmosfer kenikmatan ini. Sudah lebih 12 jam dia terpenjara di dalam BH. Sudah saatnya ia menghirup udara segar. Di cermin kulihat sepasang payudara montok yang pasti membuat Alex penasaran. Dengan warna putingnya yang kehitaman namun mungil dan menggemaskan. Menanti untuk dihisap.
“kamu belum pernah melihat inikan Alex??”batinku
“gimana bila kamu melihat ini??kamu akan terangsang Alex”
Aku semakin meracau. Udara yang cukup panas di kamar, diiringi hentakan music lembut, mulai membuatku fly. Kuangkat tinggi tanganku pemandangan yang kulihat di cermin begitu erotis.
Wajahku yang terpantul begitu binal, sangat mendambakan kepuasan. Kututup lagi mataku. Kubebaskan fantasiku membumbung semakin liar.
“ kulum putting susuku Alex, hisap, hisap sesukamu, buat Mbak puas”
“oooooooooooooooh” jeritku.
Rasanya ada sesuatu yang mau meledak di rahimku. Sesuatu yang menuntut unttuk dicrootkan seperti di stadion.
Segera aku rebah ke ranjang. Kumasukkan tanganku kiriku kedalam celana dalam. Mulai kugesek perlahan persis seperti yang diajarkan guru seksualku Alex. Kukangkangkan kedua kaki selebar-lebarnya. Kutelusuri licinnya vaginaku yang baru tercukur.kuangkat tangan kananku untuk mengacak acak rambutkuuntuk menambah kesan binal, aroma tubuhku yang memancarkan gairah seksual kuhirup sepuasnya melalui ketiak tangan kanan yang terangkat keatas.
Perlahan kugesekkan jari telunjukku ke bibir vagina. Kunaik turunkan perlahan sampai ke perbatasan anus. Stimulasi trus diberikan secara ritmis. Dimulai perlahan beranjak semakin cepat. Semua kulakukan sambil membayangkan Alex hadir disana sedang asyik menyusui payudaraku dengan penuh gairah, menjilati keringat yang hadir disana dengan rakus.
Tangan-tangan nakalku berusaha membuka lubang organ intim yang gundul itu perlahan. Melakukan gerakan-gerakan provokasi menusuk ke sela-sela hymen keperawananku. Seperti wanita nakal aku berfantasi cela vagina itu ditembus oleh Alex, pria tampan yang menerbitkan cinta di hatiku. Gerakan menusuk ini kulakukan perlahan tapi berulang ulang pada pintu liang kenikmatan yang telah bersemu merah.
Tiba-tiba semuanya lenyap, seolah semua dunia ini menghilang, aku seperti memasuki dimensi lain yang berbeda, penuh bintang, penuh cahaya, seperti surga. Kakiku yang terkangkang lebar seperti kesetrum. Diawali dari pantat yang terangkat tinggi, meninggalkan tumit kedua kakiku menyangga seluruh beban tubuhku bagian bawah. Punggungku terungkit dengan kepala tertengadah maksimal keatas. tangan kananku refleks menjambak untaian rambut sebagai pelampiasan kenikmatan.
Bagian bawah tubuhku memberikan reaksi yang tak kalah sensasional. Dalam posisi pangkat terangkat. Vaginaku seperti mengempot, tertutup rapat, untuk bersiap memuntahkan isinya. Tekanan diawali dari perut. Mendadak ada perasaan mengeden seperti hendak buang air, tapi bukan pada organ pencernaan, melainkan pada rahim.
“HEggggggh” aku mengeden untuk mendorong hasrat apapun ini yang mendesak ingin keluar
“aaaaggggggh” orgasme itu meledak.vagina yang tadi mengempot tertutup, seperti terbuka dan mengeluarkan klimaksnya . Dalam posisi tubuh terangkat aku terbujur kaku. Aku kehilangan nafas, tidak sanggup bernafas, semua lenyap. Oooh begitu sulit tergambar kenikmatan ini
“………………………………………………”
“Huhhhhhhhh” 10 detik kemudian kembali kudapatkan nasfasku.
“hah…hahhhhh…hahhhhhhhhhh” aku ngos-ngosan sejenak . tangan kiriku terus bergeriliya. Pantatku yang terangkat mulai bisa rebah kembali ke kasur.
Kaki tetap kukangkangkan lebar. Jari-jariku terus menyisir lender-lendir lengket yang bertebaran disana. Hasil dari semburan yang pertama. Tak kuduga;
“ahhhhhhhh ya Tuhann…….”
Badai itu datang lagi untuk kedua kalinya dalam waktu yang hanya sepersekian detik.
“heggggggggggggggggggggh” kembali aku mengeden dengan mengangkat pantatku tinggi untuk menumpahkan orgasme keduaku .
“aaaaaaaaaa………………………..” begitu nikmat. Sampai bola mataku yang hitam terangkat hingga hanya bagian putihnya saja yang terlihat, menandakan aku mencapai ekstase. Aku mabuk
“huuuuuuuuuh” ledakan kedua ini bertahan lebih lama. Sekilas kulihat dicermin bagaimana tubuhku tersetrum bergetar getar dalam posisi kayang dalam waktu yang cukup lama.
Ooooh akhirnya badai kedua itu berlalu. Aku kembali rebah seperti atlet lompat galah yang baru jatuh ke matras.
Kurapatkan pahaku. Berusaha kuambil nafasku kembali. Tapi tangan kiri belum mau kuangkat dari liang vagina. Aku ingin menikmati lendir yang kuhasilkan. Ingin kurasakan bagaimana rasanya. Terus kueksplore bagian yang sangat sensitive itu. Puting susuku berdenyut denyut sangat tegang. Rupanya putting juga bisa ereksi.
“huhhhh……huhhhh..huuhhhhh” berusaha kuambil nafas lewat hidung dan meghembuskannya lewat mulut.
“Alex ….Alex …Alex belai Mbak sayang.”
Kubayangkan tangan in adalah tangannya yang asyik mendapat mainan baru mengobok-obok organ sensiku.
Tangan Alex yang kubayangkan kemudian kuarahkan agak kea rah pantat, untuk juga mengeksplore anusku yang tadi turut membuka menutup tak beraturan. Ritmis dengan nakal kudorong-dorong jari tengahku masuk ke lubang anal itu.
“Alex itu lubang pantat Mbak, ooo nikmatnya”
Kubayangkan terus kehadiran Alex dengan gerakan perlahan di pintu anusku. Betapa terkejutnya aku ketika asyik menusuk-nusuk liang itu. Desakan kenikmatan kembali hadir.
oooooh apa yang terjadi??
“ooooo my god……………………………….jangan lagi…….”
Ledakan itu datang lagi kembali. Lebih dahsyat. aku tersetrum kehilangan nafas
“huuuuuu……………..ooooooooooooooh”
Crot crot crot rasanya seperti ada pengeluaran cairan besar-besaran dari arah rahimku. Begitu deras seperti air bah. Kugigit bantal yang ada di samping kepalaku. Untuk menetralkan makhluk nikmat bernama orgasme ini. Oooough kurapatkan gigiku. Bahkan nikmat itupun dapat terdengar melalui gemeretak gigi yang bersyukur menerima limpahan lahar cairan nikmat. Kupelintir keras putting susuku dengan tangan kanan. Untuk menyalurkan kenikmatan ini sampai kedua bukit kembarku.
“uuuuuuh Alex……………….” Kutusuk jari tengahku masuk sampai ke anus. Kudorong tajam untuk semakin meledakkan orgasme.
“aaaaghhhhhhhhhhhhhhh……………………………”
Melenting kembali tubuhku dengan tangan kiri yang terhisap masuk kedalam lubang anal 20 detik rasanya keadaan ini terjadi sebelum akhirnya aku benar-benar ambruk.
Kuballikkan tubuhku dalam posisi tengkurap untuk menyalurkan energi rangsangan yang masih bergumuruh di sekitar aerola putting susuku. Kugesek gesek permukaan seprei putih yang telah acak-acakan tak beraturan.
“hahh….hah……hahhhhh” berusaha kukembalikan nafasku agar normal kembali.
Tiga ledakan dahsyat.
“hah hahhh…….Alex….. ”
Lanturku sebelum kesadaranku hilang dan terbang ke alam mimpi yang indah.
*
Pagi harinya
“ Brigadir Tantri persiapan” ujar pelatih berbaju hitam memberi komando.
“siap” jawabku
“ tembak!!”
“dor………….dor………………dor”
“berhenti, pasang pengaman, lepaskan peluru dari senjata, letakkan senjata!”
Pagi itu adalah saat berlatih menembak di lapangan tembak dekat asrama. Pria berbaju hitam itu adalah pelatih khusus menembak yang ditugaskan melatih kami hari ini.
“ ya maju kedepan Brigadir untuk melihat hasilnya!”
Aku maju seperti yang diinstruksikan ke sasaran tembak berjarak 110 meter dari posisi awal yang berbentuk lingkaran bertumpuk dari ukuran kecil sampai yang paling besar.
“lihat tembakanmu sudah menyentuh ring 3 dari 10 ring yang ada. Sangat bagus brigadier. Teruskan berlatih!”
“siap pelatih”
Setelah melihat target, kulepas kacamata khusus menembak dan peredam telinga yang melekat di telingaku.
“huuuufh akhirnya selesai juga”
Batinku lega karena satu tugas telah selesai terlaksana dengan lancar. Tapi dalam hati aku yakin pasti ada tugas lain yang menyusul. Ternyata dugaanku benar.
“ Brigadir tantri anda diminta menghadap kepala bagian”
“ siap senior segera laksanakan.”
Celaka batinku dalam hati. Apa lagi tugas yang akan diberikan kepadaku???atau jangan-jangan aku bikin kesalahan? Jujur aku kurang nyaman ketika dipanggil oleh Kabag unit tugasku. Pria ini sudah berusia pertengahan kepala 4. Badannya tambun, jelek. Terkenal suka main wanita dan kadang melakukan tindak pelecehan kepada anak buahnya. Hahhhh pekerjaan ini benar-benar membuatku tertekan.
*
“tok..tok..tok”
“siapa??”
“siap Brigadir Tantri Komandan ijin menghadap”
“masuk”
Aku masuk ke ruangan berukuran sempit, pengap dan penuh asap rokok itu. Dibalik meja duduk sosok kepala bagian di kursi kerjanya dengan sikap yang sangat menyebalkan. Punggungnya disandarkan di kursinya sampai melengkung tidak tahan menampung beban tubuhnya yang tambun. Tangannya terus menghirup dan menghembuskan asap rokok seperti kereta api. Tatapannya, ini yang paling aku benci, sangat mesum. Seolah menelanjangiku dari atas kebawah.
“ijin menghadap Komandan!” kataku tegas dengan sikap sempurna dan memberi hormat.
“santai aja Tri he he. Gak usah panggil komandan kalo perlu panggil aja Mas Burhan”
“ siap tidak Komandan” jawabku terhadap pria yang bernama Burhan ini.
“ gimana tawaranku untuk ngajak kamu bertugas di ibu kota sudah kamu pikirkan belum???lumayan lho Tri kamu cantik dan cocok tugas disana”
“ siap komandan saya masih belum tertarik”
“Tri..Tri kamu itu kok naïf banget” Burhan bicara sambil berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri aku yang sedang berdiri dalam posisi sikap sempurna tidak jauh dari hadapannya.
“sebentar Bapak tutup dulu pintunya”
Degg berhenti jantungku berdetak dengan komentar bapak mesum ini, dia mau menutup pintu meninggalkan kami berdua. Ooooh tidak .
“krekk” ( bunyi pintu ditutup)
“Tri udahlah jangan terlalu idealis” katanya sambil melangkah menghampiriku dari belakang.
“ kamu itu cantik Tri snif snif snif”. Dia dengan mudah menghirup aroma tubuhku karena posisinya sekarang dekat sekali dengan rambutku.
“snif…snif..rambutmu harum Tri” katanya sambil menghisap aroma rambut pendekku yang memang selalu terawat.
Aku sangat waspada kini. Kukepalkan tanganku menahan geram karena tindakannya yang mesum. Kalo saja dia bukan komandanku.
“ tetap sikap sempurna brigadir!” suruhnya sambil kedua tangannya menempel di kedua pantatku yang terbalut rok kerja ketat.
tangannya memegang erat kedua pantatku yang menonjol dan meremas-remasnya seperti meremas payudara;
“ pantatmu indah Brigadir…….ooh betapa beruntung yang bisa menikmatinya”
Terus dia meremas-remas bongkahan pantat itu , dan aku hanya terdiam. Tidak sanggup melakukan apa-apa karena dia adalah komandanku. Tapi dia sudah kelewatan dan aku harus melawan. Aku masih punya harga diri. Aku kuat.
“ayo Tantri jangan diam saja lawan dia” kata suara hatiku.
Baiklah aku harus lawan perbuatan mesumnya ini.
“kkooooomandan” kataku dengan bergetar namun tegas
“ apa Brigadir???”
“lepaskan tangan komandan dari tubuh saya!!!”
“kamu berani sama aku sekarang Tri??”
“kalo komandan masih menyentuh lagi, Tantri akan laporkan ke markas besar”
“kurang ajar kamu ya Tri, gak tau diuntung kamu, dasar perempuan sundal”
Tertusuk hatiku mendengar ucapannya yang begitu merendahkan itu
“keluar kamu jalang!!!!” teriaknya sambil membanting asbak rokoknya sampai jatuh dari meja.
Segera aku balik kanan dengan perasaan yang begitu hancur setelah menerima tindakan pelecehan yang begitu tragis. Aku melangkah cepat dengan mata yang berkaca-kaca untuk segera menuju parkiran motor. Aku ingin segera pulang untuk menenangkan diri.
“Tri, Tantri mau kemana kamu inikan baru jam 11, belum waktunya pulang” tanya Sinta polwan teman wanita satu asramaku yang melihat aku hendak cabut ke asrama.
“ iya Sinta ada barang yang tertinggal sebentar ya aku pulang dulu” dustaku
Selepas pertemuan dengan Sinta kugeber motorku dengan kecepatan tinggi sambil menangis tersedu sedu. Sesampainya di asrama tangisanku semakin menjadi. Kubanting barang-barang dikamarku sebagai pelampiasan atas emosi akibat peristiwa tadi.
“rrrrrrt….rrrrrrt”
Bunyi sms sejenak menyadarkanku untuk tidak tenggelam dalam emosi berkepanjangan. Kubuka hp ku untuk melihat isinya siapa tau penting, ternyata itu Alex
“ Mbak maafkan alex ya. Mbak sudah menghilang 2 minggu ini. Alex ijin maen ke asrama nanti malam ya Mbak??kalo dibolehin”
Aku masih kesal dengan Alex tapi memerlukan seseorang untuk memelukku, menentramkan hatiku yang sedang sedih akibat pelecehan tadi.
Cepat kuketikkan sms untuK menjawab smsnya:
IYA NANTI MALAM MBAK SENDIRIAN, SINTA LAGI ADA TUGAS MALAM. JAM 7 MBAK TUNGGU KAMU. AWAS JANGAN TELAT !! KALO TELAT KAMU JANGAN BERANI MENGHUBUNGI MBAK LAGI!”
Hahh kutarik nafas panjang.
“Rrrrrrt rrrrt”
datang sms balasan dari Alex
“SIAP MBAK PERCAYA ALEX PASTI TEPAT WAKTU”
Bip (kumatikan hp)
Hufffff kembali kutarik nafas yang lebih pajang dari sebelumya.
“tolong Hibur Mbak Alex”.
*
Menjelang malam masih dalam suasana pikiran yang berkecamuk, aku mengurung diri di kamar. Kuputar musik grup band lokal papan atas untuk membunuh suntuk yang menyerang. Namun bahkan alunan musik merdupun tak membantu. Aksi bullying atasanku tadi siang benar-benar meninggalkan trauma psikologis tersendiri. Aksi tangan bandot itu untuk menggerayangi pantatku benar-benar bejat. Jijik diriku membayangkan perbuatannya. Apalagi kata-kata kasarnya itu ”jalang, sundal ” kata-kata macam apa itu? . Layakkah seorang atasan mengucapkan kata serendah itu?.
Satu-satunya pelipur lara hari itu adalah rencana kedatangan Alex nanti malam. Sudah lama aku tidak berjumpa dengannya. Sebenarnya baru 2 minggu tapi serasa sudah sangat lama. Hadir perasaan dag dig dug, antara malu, cemas, rindu maupun penasaran berbaur menjadi satu. Mungkin inikah rasanya seorang wanita jatuh cinta?
Dibalut perasaan campur baur aku beranjak mempersiapkan diri. Seperti layaknya seorang gadis ABG remaja aku mulai bersolek. Kupandang diriku berkali-kali di cermin untuk memastikan apakah diriku sudah cukup cantik untuk menerima kedatangannya. Pengalaman di stadion membuat diriku merasa harus menghias diri luar dalam.
Sudah tiga kali rasanya sore ini aku mandi. Iya ada perasaan kurang percaya diri jangan-jangan badanku masih bau. Ah jatuh cinta berjuta nikmatnya. Kupandang tubuh ini yang masih berbalut handuk berhadapan dengan cermin besar yang setia mendampingiku di kesunyian asrama. Kuturunkan handuk itu meninggalkan ketelanjangan total tubuh sexyku polos tanpa busana.
Kuangkat kedua tanganku tinggi , perlahan kukangkangkan kedua kakiku untuk memastikan semua sudah bersih tercukur. Kupalingkan tubuhku kanan kiri untuk melihat apakah semuanya sudah terawat dengan baik. Dari laci lemari rias kuambil bedak pengharum warisan racikan leluhur. Di taburi tipis-tipis pada wajah, leher, serta sela-sela ketiak untuk semakin meningkatkan kepercayaan diri.
Bagaimana dengan busana yang akan kukenakan?? wah ini cukup menyita pikiran. Maklum sebagai Anggota, jarang kami dihadapkan dengan acara yang mempertontonkan kecantikan kami sebagai wanita. Paling banter asap debu knalpot, teriknya matahari berbalur raungan speaker para demonstran adalah kondisi paling sering kami hadapi. Untungnya ada satu stel baju yang pernah kubeli di sebuah pusat perbelanjaan yang menurutku sangat layak untuk dikenakan. Sebenarnya kala membelinya diriku tidak tau akan pernah mengenakannya atau tidak. Tapi kencan malam ini menjadi ajang peluncuran baju terusan ini untuk mementaskan dirinya.
Baju terusan ini berwarna putih mengkilat dengan belt coklat menyangga pinggul. Menurutku baju ini cukup anggun dan cenderung sexy. Bentuk V di bagian leher membuat kalung hadiah Alex terpasang anggun untuk membei r kesan menghargai pemberiannya. Baju sexy ini menutupi area tubuh bagian bawahku sampai 10 cm diatas lutut. tentu hal ini membuat jenjangnya kendahan kakiku yang jangkung menjadi terlihat jelas. Hal yang paling kusenangi dari baju ini adalah mampu menonjolkan keeksotisan kulitku yang coklat menggairahkan.

Mulailah ritual wanita yang sangat ingin terlihat cantik. Kukenakan gaun ini. Berawal dari mengenakan CD dan BH berwarna senada. Mengenakan BH? Ah sepertinya tidak. Keberadaan rumbai-rumbai di dekitar dada pada gaun ini rasanya cukup. Apalagi tampak tak lucu bila aku menenakan BH dan talinya mengintip diantara bahu gaunku yang terbuka lebar. Selesai semua urusan daleman berhasil terpasang pada tempatnya tibalah giliran baju terusan ini.
“Nah Tantri kamu cantik, sexy dan wangi sekarang”
Kataku pada diri sendiri setelah memasang belt coklat untuk semakin mempertegas rampingnya tubuhku.
“sssrt…srrrt…srrrt” ( Tantri menyemprotkan pewangi)
Kesemprotkan parfum beraroma sensual, pada beberapa bagian tubuhku untuk memberi kesan sexy sebagai penutup rangkaian acara berhias seorang gadis yang sedang dimabuk cinta..
*
“tok…tok….tok…( suara pintu diketuk)”
“ selamat malam Mbak Tantri”
“Akhirnya tiba juga dia padahal belum jam 7” .
Segera kubukakan pintu untuk menyambut kedatangannya.
Krek ( suara pintu dibuka)
“akhirnya kamu datang Alex, Mbak sudah menunggu lama sekali”
Demikian sambutku dengan memasang muka ketus dipenuhi kekecewaan ( inilah seni yang hanya dimiliki oleh kaum wanita dalam menyembunyikan perasaan) .
“A……A…….A…….”
Tanggapan Alex tanpa bisa mengucap satu patah katapun. Dalam hati aku senang luar biasa persiapan yang begitu panjang untuk berdandan terbayar tunai. Alex terkesima, terpukau dengan sosok wanita dihadapannya.
“M……..M…….. Maaaf Alex terlambat Mbak…..”
Ujarnya sambil menatap penuh kebingungan pada arlojinya. Pasti dia berpikir ini bahkan belum jam 7..
“ UNTUK KALI INI SAJA MBAK MAAFKAN! Kamu telat lagi, jangan pernah berani datang kesini!”
Kataku dengan nada tegas.
“Ss….sss…..ss…siap Mbak maafin Alex”
Ujarnya demikian gugup sambil tertunduk sambil menyeka keringat dingin dari dahinya. Sebenarnya hatiku terbahak. Bagaimana bisa seorang pria berbadan kekar, berpostur lebih tinggi dariku, bersikap begitu grogi. Rasanya tidak sesuai dengan perawakannya. Tapi, he he bukankah dia tidak berurusan dengan jenis wanita biasa yang dapat diperlakukan seenaknya.
Laki-laki ini sedang berurusan dengan seorang anggota polisi wanita. Urusannya bukan masalah sepele tapi masalah berat yaitu hati. Untuk masalah ini tes yang kuberikan sangat berat dan hanya bila dia lulus barangkali ia bisa memiliki hatiku. Bisakah Alex bersikap sopan dan hormat kepada wanita? sebuah pertanyaan yang merupakan tes tersulit yang harus dia lewati. jawabanya tidak cukup dengan kata-kata khas buaya darat. Tapi harus dapat dibuktikan dengan sikap nyatanya dalam memperlakukanku.
“masuk Lex!”
Perintahku sambil membuka lebar pintu rumah.
Sangat kik-kuk Alex melepas sepatunya kemudian melangkah masuk ke ruang tamu.
“Duduk!”
“iya siap Mbak”
Hening. Lama kami terdiam. Dalam diam kulirik Alex mencoba melirik glamornya dandananku.
“ Mmmbak… mohon ijin Alex mau minta maaf yang sebesar-besarnya……”
Ucapnya terbata
“….Atas kejadian di stadion. Semuanya di luar kendali Mbak. Alex khilaf dibakar cinta. “
Dalam diam aku mendengarkan tanpa berusaha memberi jawaban. Kehadiran laki-laki ini membangkitkan gairah beberapa hari lalu ketika sosoknya kugunakan sebagai khayalan seksual.
Kusandarkan tubuhku pada bantalan sofa, sembari kubentangkan tangan kanan menyangga telinga dan sisi kepala bersikap “seolah-olah” sedang serius mendengarkan . Siapa sangka sikap cuek ini malah membuatku tampak semakin sexy.
Mungkin ini pengaruh baju terusan dengan bawahan yang sangat mengekspose kaki jenjangku. Sembari kusilangkan kedua kakiku bertumpuk yang kanan diatas yang kiri, kesexyan pahaku jelas sangat merangsang laki-laki manapun yang melihat. Ditambah tangan yang sedang membentang menyangga kepala membuat keindahan ketiakku dapat terlihat jelas oleh Alex.
Gerakan yang kusuguhkan sangat sensual , sangat mengundang birahi. Bagaimana reaksi Alex? dia benar-benar gugup. Berulang kali mengambil nafas panjang entah untuk apa barangkali untuk mengendalikan nafsunya.
“Mmmmm…. Alex bener-bener mohon maaf Mbak”
Katanya sembari melirik kalung pemberiannya yang menempel indah di leherku.
Sepertinya sikap tubuhku yang cuek membuat lidahnya kelu.
Sambil kumainkan rambut yang menempel ditelinga aku berucap ketus , “ TRUS??”
Kembali kupalingkan wajahku dengan angkuh ke arah televisi.
“Mbak….mungkin Alex dianggap laki-laki nakal yang hanya mau mengambil keuntungan dari Mbak….”
“( Bisa jadi )” ujarku dalam hati sambil tetap bersikap malas.
“”…..trus ninggalin Mbak setelah mendapat apa yang Alex inginkan…”lanjutnya
“ ( awas saja kalo sampai terjadi Lex. Mbak buat jadi dendeng kamu)” geramku dalam hati
“ ……sumpah Alex bukan pria seperti itu Mbak. Jujur Alex cinta ama Mbak dan Aku tipe laki-laki yang bertanggung jawab kok Mbak.Sebentar lagi Alex lulus. Habis itu……”
“(Habis itu????)” mulai kuhadapkan seluruh wajahku menghadapinya.
“………..Alex berencana melamar Mbak….” ujarnya penuh ketegasan . Selepas mengatakan itu dirinya kembali menundukkan wahahnya memandang lantai.
“(Rasanya meragukan)” batinku. Merasa masih sulit percaya dengan ucapannya.
Sebagai Anggota tentu sinyal “Curiga” sangat kuat memancar dari naluriku .
“…… mungkin Mbak tidak percaya dengan omonganku. Tapi waktu juga yang akan menjawab.”
Kembali kupasang modus cuek untuk mendengarnya. Berpaling kembali wajahku menyimak tayangan televisi. Untukku ucapanya masih meragukan. Ibarat pengakuan maling yang membela diri saat ditangkap.
“ ….sebagai bukti awal Alex mau buktika dengan menjaga Mbak!…..”
“(DEG)”
Sejenak degup jantungku terhenti. Kuarahkan kembali tatapanku kehadapannya. Kupandangi lekat wajahnya. Mungkin karena peristiwa tadi siang kata MENJAGA menjadi sangat berarti. Keberadaan seorang pria yang aku cintai untuk menjagaku. Melindungiku dari para hidung belang.
“….. Alex ingin ngelindungin Mbak. Memang Alex gak punya pistol. Tapi tubuh aku bisa dijadikan tameng untuk Mbak. Biar Alex duluan yang kena bila ada penjahat yang berniat jahat kepada Mbak….”
“ Kamu siap mati untuk Mbak Lex??” tanyaku mengakhiri puasa bicara yang sedari tadi kulakukan.
“sangat siap Mbak. Bukan hanya Mbak saja lho yang bisa bilang siap! KAMI ORANG BIASA SERING LEBIH IKHLAS SIAPNYA…..Alex SIAP MATI BUAT MBAK”
Demikian ujarnya penuh keyakinan. Api keyakinan untuk pertama kalinya terlihat memancar jelas dari kedua bola matanya.
“ Bagaimana kalo ada atasan yang jahatin Mbak? ” tanyaku terbayang peristiwa tadi.
“ Ada atasan yang berani jahatin Mbak????? ALEX PASTI AKAN CARI DIA MBAK!! LARI SAMPAI MANAPUN DIA ALEX KEJAR”
“BERANI kamu Lex?”
“SANGAT BERANI MBAK.”
“Apa yang buat kamu berani Lex?? Bisa jadi dia punya POWER KEKUASAAN bahkan senjata??”
“Alex punya CINTA Mbak. Kekuasaan atau senjata apalah artinya ketika berhadapan dengan cinta Alex yang tulus kepada dirimu Mbakku sayang”
Kalimat terakhir itu tanpa dapat kutahan telah menyentuh kedalaman hati nuraniku. Alex PERCAYA DENGAN KEKUATAN CINTA. Kenapa aku selalu meragukan cinta??? Kenapa Aku tidak mencoba yakin pada laki-laki ini???.
Perlahan butiran air mata menetes dari sudut mataku. Butiran itu kemudian berubah menjadi linangan air mata yang membasahi gaun putih ini. Inilah lembutnya hati seorang wanita. kami sanggup berakting begitu sempurna, namun saat hati sudah tersentuh wanita bisa bersikap sangat emosional. Penuh air mata.
Tanganku yang semula menyangga leher sedikit kuusapkan ke mata untuk menyembuyikan air mata yang telah mengalir. Namun terlambat karena Alex telah melihatnya. Dia bergegas maju mendekatiku.
(“ssssssst”) suara jempol tangan kanan Alex menyeka air mata yang menetes.
“ Mbak jangan nangis” bisiknya sambil menyeka air mataku sambil menarik wajahku agar mendekat ke wajahnya.
Bukannya berhenti aku malah menjadi sesengukan
“Hu…hu..hu….Lex…….”
Alex terus mengusap kedua mataku.
“jangan nangis Mbak ada Alex. Yakin sama cinta Alex. Yakinlah cinta Alex begitu besar untukmu” ucapannya sangat menenangkan.
Sambil memeluk, bibir Alex mulai mencium bibirku yang berbalut lipstick warna merah. Begitu menentramkan hati ciuman yang diberikannya. Sangat memberi kedamaian. Seolah melepaskan beban yang semula begitu berat membebani. D alam kondisi mata berlinang kubalas kulumannya dengan bergelora.
Kami saling berpagut bagai sepasang kekasih yang telah lama terpisahkan, saling memeluk tak ingin terpisahkan. Lama ciuman berlangsung dengan kedua bibir kami saling menghisap, mencium, dan bertukar rasa. Kami para wanita sangat menghargai ciuman. Bagi kami itulah momen emosional yang membawa persatuan hati dengan sang kekasih.
Sambil tetap berciuman. Alex merebahkan tubuhku ke sofa kuning yang berada di ruang tamu. Posisi kami kini aku ditindih oleh dirinya di sofa panjang. Pintu rumah masih terbuka. Takut diriku menutupnya agar menghindari kecurigaan dari para anggota lain yang rumahnya bertetangga denganku. Alex seakan tak peduli dengan pintu yang masih terbuka. Dia begitu kusyuk menciumi leherku yang jenjang. Dia ciumi , jilati, bahkan sering menghisap bahkan menggigit kecil.
Kuangkat kedua tangan untuk menahan gempuran badai kenikmatan yang mulai menyapu seluruh tubuhku. Sambil menciumi leher, tangan Alex mulai nakal memegang kedua payudaraku yang semakin menyembul dalam posisi tangan terangkat. Kubiarkan saja dirinya karena kenikmatan ini terasa begitu nikmat.
Alex terus menyerang leherku, sambil tangannya mulai beranjak menyentuh dan membelai ketiakku yang terpampang jelas dikarenakan model gaun yang kukenakan. Disingkirkan dengan mudah rumbai-rumbai baju yang sedikit menghalangi akses ke arah ketiakku.
“Mbak tidak pakai BH ya?? Mbak nakal deh tapi Alex suka”
bisikknya sambil tangan kirinya mulai memilin-milin puting susuku yang sebelah kanan.
“oooow”
desahku tertahan mengharapkan Alex segera menyerang bagian payudara yang telah tegang itu.
“ooooouuw…Lex apa yang kemu lakuuu……Ahhhhhhh”
Jeritku keras tidak menduga Alex akan menyusup ke ketiak tangan kiriku yang sedari tadi memang dia belai.
“huhhhh………..oooooohhhhhhhhh”
Jeritku tidak kuat menahan sensasi yang ditimbulkan oleh gempurannya.
Kepala Alex masuk ke dalam sela ketiakku dengan tangan kiri yang menahan tanganku sehingga tak dapat kugerakkan. Diciuminya, disedot-sedot dan dijilat ketiakku yang mulus itu dengan gerakan melingkar untuk kemudian dijepitnya dengan bibir dan dihisapnya.
“oooouuuughh”
Daguku langsung tertengadah disertai mataku yang langsung berubah menjadi putih bersih seperti orang teler. Aku memasuki kemabukan orgasme. Alex yang menyadari hal ini justru semakin mempercepat serangan yang dia lakukan dengan jilatan yang semakin liar. Tangan kanannya seolah bekerja sama membantu peluncuran orgasmeku. Tangan itu membuka terusan rok gaun yang kukenakan dengan sangat mudah untuk kemudian menjarah organ intimku yang tersembunyi disana.
“………..uuuuuuuuuuuuuughhh…………h….”
Meledaklah diriku akibat ketiak yang terstimulasi secara sensual oleh rangsangan Alex. Kenapa ketiakku begitu sensitive? Apakah bagian ini salah satu kelemahan tubuhku??? Aku tak sempat befikir lagi. Dengan mulut Alex yang begitu gencar aku orgasme.
Tubuhku tegang melintir ke arah kiri dengan pantat terangkat penuh keatas.
“hgggh……………………hhhhh………………”
Hilang kata, hilang nafas, lenyap semuanya berganti bintang-bintang kenikmatan.
Lama lentingan tubuh ini terjadi sebelum ambruk mencium sofa dengan Alex yang menghentikan serbuannya dan beralih mencium bibirku. Disibaknya rambutku yang berantakan akibat badai orgasme. Dipandanginya dengan penuh senyum wajahku nan merah merona. Sangat malu aku dibuatnya. Alex sangat menikmati pemandangan wajahku yang merah padam terbakar api birahi.
“Mbak semakin Cantik kalo orgasme” bisiknya tepat ditelingaku.
“Yakin sama Alex!Mbak itu cantik”
“….iii…ya Lex…”
“Bilang Mbak!!!” perintahnya
“A…aku cantik Lex…”
Sambil mendengar ocehanku Alex kembali melanjutkan permainan yang telah dimulainya. Kedua tangannya kembali nakal membuka terusan rokku dan mencari pinggulku. Dicarinya kaitan celana dalam putih yang menempel disana lalu diturunkannya. Kali ini tidak ada perlawanan dariku. Kedua bola mata kami saling bertemu, memandang penuh cinta begitu mesra dengan deru nafas yang sama sama memburu.
“hah…hah…hah….”
“Nikmat mbak??”
“ (Aku mengangguk)”
“Mbak cantik sekali kalo begini”
“(kuelus pipi imut Alex)
“ Mbak masih kuat??”
“(aku kembali mengangguk)”
“aku mau kebawah Mbak ( sambil menatap bawahan rokku)”
“hah…hah..kamu Yakin Alex??”
“(Alex ganti mengangguk)”
Kembali dia arahkan kedua tanganku keatas kepala untu menyentuh pinggiran sofa.
“lepaskan saja Mbak apapun yang akan Mbak rasakan”
“(Aku mengangguk)”
Alex beringsut menuju kebagian bawah tubuhku. Dia lepaskan dengan tidak sabar belt coklat yang telah acak-acakan menahan pinggangku.Kemudian diangkatnya gaunku smpai ke pusar.
Untuk pertama kalinya, aku mengijinkan seorang laki-laki mendapat akses menyaksikan bagian intim tubuhku yang merupakan harta karun kenikmatan yang selalu kurawat. Kulihat sekilas tatapan Alex yang begitu berbinar menyaksikan area kewanitaanku yang telah bersih mulus dari rambut disekitarnya.
“ Indah sekali Brigadir Tantri..indah sekali”
Kupejamkan mataku menahan malu.
Mendadak
“ooouuuuuugh”
Seperti cetar membahana, Alex mulai menyerang paha dalam kaki kananku terlebih dahulu dengan hisapan dan jilatan yang penuh nafsu. Kemudian beralih dirinya menyasar paha luar, kemudian beranjak naik ke paha belakang yang berbatasan dengan pantat. Semuanya dia jilat dengan penuh nafsu birahi.
“ooough”
“aaah aaaah aaah”
“uuuuh”
Jeritku berulang ulang tak kuat menahan sensasi geli-geli nikmat yang mulai merayap menyerang seluruh pori-pori tubuhku.
Alex begitu memuliakan kedua kaki jenjangku yang terawat. Bahkan dia jilati setiap jempol kakiku dengan lahap seperti sedang menjilati permen lollipop.
Kemudian Alex mengangkangkan kedua kakiku. Yang kiri dia letakkan dahulu naik di bahu sofa. Menyusl yang kanan diturunkannya sampai terjuntai menyentuh lantai. Akhirnya terkangkang lebarlah kedua kakiku dengan kepala Alex berada diantara keduanya.
“huffff ( Alex meniup Vagina)”
“oooow”
segera kurapatkan tanganku. Bahkan hembusan anginnya saja begitu nikmat.
“sssslurrg ( gerakan Alex menjilati perlahan memutar di sekeliling vagina)
“oooooow”
“oooooow”
(jilatan Alex terus melingkar searah jarum jam di area klitoris Tantri)
“Uuuuugh ampun…..ampun”
Desahku. Rasa jilatan di kemaluanku begitu cetar. Menyambar sarafku melebihi apa yang pernah kualami.
“Brigardir Tantri!”
Panggil Alex dari sela-sela kakiku.
“Huh”
kuangkat kepalaku merespon panggilannya. Tatapan sayu penuh kenikmatanku menjadi pemandangan yang Alex liat sebagai jawabannya seruannya.
“ Nikmati kenikmatan yang akan kuberikan sayang!!”
“iya….”
“sssssssslrrrg” ( Alex memulai jilatannya)
“oooooooooooooouhhhh ooooo my godddddddddd”
Cetar… cetar…… cetar cetar badai orgasme itu datang bertubi-tubi seiring dengan jilatan, hisapan, ciuman dan permainan tangan Alex di area itu.
“…………” (Tantri kehilangan nafas)………….
“ ouugh hah hah ha…..haggh”
Aku orgasme!!!
“huggggh yesssssss”
Terangakatlah pantatku keatas sebagai puncak ledakan orgasme. Demikian hebat letupan ini hingga turut meledakkan segala stress, beban kehidupan, pelecehan, maupun permasalahan apapun itu.
Alex begitu mahir.
Ditahannya pantatku agar tetap terangkat dengan kedua tangannya. Sambil trus lidahnya menjilat terfokus pada area klitoris yang telah menebal. Dijilatnya area itu lima menit lamanya sejak titik awal orgasmeku. Puncak kenikmatan ini membuatku mengeden… menumpahkan cairan ….kembali mengeden….kembali crot…crot terus demikian berantai sampai dua menit lamanya.
Jangan tanyakan bagaimana rupaku. Rambutku acak-acakan. Semua make up dari sore luluh beratakan. Lama Alex baru menghentikan hisapannya meninggalkan tubuhku dalam kondisi bergetar bergetar dan bergetar hebat. Dia peluk diriku yang masih berguncang..
“hhhhh……hhhhh….Alex oooooh”
Seruku berusaha menghentikan efek orgasme yang terus terjadi, bahkan ketika pelakunya tidak lagi ada disana.
“hhhhgh….hgggh”
Ada tiga menitan rasanya aku terus bergetar sambil dipeluk oleh Alex.
Ketika badai itu berhenti aku betul-betul lelah. Alex mengelus alisku, membelai hidung mancungku, dan memainkan jarinya di bibirku sebagai bentuk pemujaannya terhadap kecantikan wajahku.
“Mbak Tantri kamu cantik” katanya sambil memasukkan telunjuknya pelan kedalam mulutku agar kuhisap seperti anak kecil dengan permennya. Kuturi kemauannya dengan menghisap jarinya. Hal itu rupanya sangat menenangkan hatiku ibarat obat anti mabuk yang menyadarkan.
Lama aku dalam pelukan Alex sebelum dia mendudukkanku kembali. Ketika didudukkan pantat ini kembali bergetar. Alex sangat mengerti hal ini dan kembali memelukku. Dia bantu rapikan rambutku yang acak-acakan agar kembali rapih. Inilah enaknya memiliki rambut pendek, cukup dengan belaian tangan, rambut itu kembali rapih seperti sedia kala.
“Dimana tempat air minum Mbak?” tanya Alex
Kuangkat tanganku menunjuk ke arah dapur masih dalam kondisi tidak mampu berkata apa-apa.
Alex beranjak dan kembali tak lama kemudian sambil membawa segelas teh manis yang dibikinnya sendiri.
“Minum ini ya Mbak biar cepat segar!.”
Dengan romantis dia menyuapi mulutku yang dehidrasi akibat banyaknya cairan yang terbuang. Begitu telaten dia menyuapiku sebelum kuambil gelas itu dari tangannya dan kuminum sisanya sendiri.
“tttertima kasih ya Alex”.
Kataku masih bergetar
“sama-sama Mbak cantik. Alex cinta sama Mbak” hiburnya sambil memelukku.
Merasa cukup pulih kulepaskan pelukannya.
“Lex Mbak punya sesuatu untukmu. Sebentar Mbak ambil dulu kamu tunggu di dapur saja” Pintaku.
“ Iya Mbak siap. Sesuatu apa ya Mbak?? “
“Kamu tunggu saja!”
Pintaku seraya berdiri merapikan gaun terusan putih yang telah berantakan menjadi saksi kenikmatan yang baru saja kureguk.



….Segera kuberanjak ke kamar untuk mengambil sesuatu. Lebih tepat sesuatu ini dinamakan “KEJUTAN”. Kumelangkah masih dengan perasaan geli-geli nikmat khususnya di area selangkangan.
“uuuuf…”
Desahku sembari menjulurkan lidah akibat sensasi nan tak kunjung henti akibat orgasme lalu.
Kejutan apa yang telah kupersiapkan buat Alex??? Aku tidak menyiapkan hadiah apa-apa. Lantas surprise apa yang harus kuberikan???. Nah otak nakalku bekerja saat melihat seragam dinas yang telah kusiapkan untuk berdinas esok hari.
“ Lex sudah dua kali kamu membawa Mbak ke langit ketujuh. Sekarang gilirang Mbak he he”
Kataku dengan senyum pada diriku sendiri.
Segera kukenakan seragam harian berwarna coklat dengan atasan berlengan pendek dan bawahan rok ini.
“uuuuuuuuufffff”
masih sensitive sekali putingku ketika bergesekan dengan kain baju.
Untuk melestarikan rasa nikmat, aku memilih tidak mengenakan BH lagi didalam kemeja kerja. Ketika perlahan kukancingkan satu persatu kancing baju ini rasanya ”wwwuuiiiih” masih begitu cetar. Setelah baju terpasang rapi barulah kukenakan rok kerja yang ketat juga tanpa celana dalam akibat bagian sensitifku masih begitu basah.
Selesai semua terpasang. Beralih perhatianku kualihkan menuju lemari mengambil “ SESUATU” yang merupakan kejutan terbesarku buat Alex.
Sekarang aku berjalan menuju TKP dengan peraasaan seorang wanita yang memendam sejuta kenakalan dalam dirinya. Kenakalan untuk mendatangkan kenikmatan kepada kekasihnya.
Kudatangi perlahan Alex dari belakang.
“ SIKAP SEMPURNA SAUDARA ALEX! JANGAN COBA-COBA MENOLEH!!!”
Hardikku dengan nada mengancam.
Alex tampak terkejut dan langsung bersikap siap sebisanya. Dia berusaha menoleh namun tidak berani.
“Mmmbak????ada apa Mbak…kenapa tiba-tiba???Alex jadi takut ???”
“ANGKAT TANGANMU!!” Suruhku sambil mengacungkan pistol ke arah punggungnya.
“Iiiiiiiya Mbak ssssiaaap”
Jawabya memenuhi perintahku untuk mengangkat tangan penuh kegugupan.
“MERAPAT KE TEMBOK! MBAK MAU GELEDAH KAMU!!!”
Tanpa bersuara Alex memenuhi perintahku.
Dalam posisi menghadap tembok aku menyuruhnya untuk merentangkan kaki untuk mempermudah proses penggledahan. Dengan cepat kutendang pelan bagian kaki dalamnya untuk semakin memperlebar kakinya terbuka. Prosedur resmi penggledahan.
“ PEJAMKAN MATAMU LEX!”
“Iiiiiya Mbak”
Mulai kugeledah dia. Sebenarnya bukan menggeledah tapi menggerayangi. Kumulai dari menjamah dadanya yang bidang dari belakang. Bergerak untuk menelusuri simetris bahunya. Turun ke pinggangnya kurasakan begitu kokoh tubuhnya. Figur lelaki jantan yang perkasa.
Alex yang awalnya nampak terkejut dengan perlakuanku mulai terlihat terangsang.
Keringat dingin mulai mengalir dari tengkuknya.
“ Mbak main main apa nih serius sih Alex jadi takut….”
Ujarnya dengan suara lirih.
“ SSSSST GAK USAH BICARA”
Kembali kugerayangi tubuhnya.
Sekarang giliran bagian bawahya. Kuremas pantatnya yang cukup sexy hasil rajin berolahraga.
Kuremas perlahan dengan kedua tanganku.
“Plak” (suara Tantri menampar pantat Alex)
“Mbak……???” ujar Alex sambil nampak gelisah.
Kuarahkan kedua tanganku ke bagian depan celananya. Kurasakan benjolan benda dibalik celana. Ini pengalaman pertama sebagai wanita tapi ini sangat mengasyikkan. Pelan kuturunkan resleting penyangga celananya.
“ssssrrrrrrrt…. ”(suara resleting diturunkan)
“Mmmmmmbak kenapa celana Alex diturunkan emang apa salah Alex Mbak???”
“Salahmu ??Kamu membawa senjata Lex” ( kedua tanganku bermain di bagian depan CD alex”)
“ Senjata apa Mbak??”
“senjata Lex. Peluru tajam lagi. Pelanggaran berat. . Makanya kamu Mbak geledah.”
Pelan kuoles tonjolan penisnya yang masih tersembunyi di balik CD. Masih mengkerut mungkin dia benar-benar ketakutan.
“..ggak ada senjata apa-apa kan Mbak, Alex gak bohong”
“ kamu pinter bohong Lex! Kalo gitu kamu harus mbak BORGOL!”
Ujarku sambil membawanya bergeser dari tepian tembok ke sebuah tiang jemuran yang ada di dekat situ.
“pegeng tiang di atas kepalamu Lex!”
Alex menurut. Kedua tangannya diarahkan keatas memegang tiang besi yang lebih tinggi sedikit darinya.
“Kreeek” (suara borgol dikunci).
“ampun Mbak kenapa main borgol???”””
“hush diam. Mbak akan buktikan kamu bawa senjata jadi kamu diam saja!”
Dari arah belakang kuturunkan CD Alex hingga tidak ada lagi pelindung bagian bawah tubuhnya.
“Lhooo Mbak Alex kok ditelanjangin begini???”
“ Lex..Lex namanya digeledah ya ditelanjangi”
Ujarku cuek sambil bergerak masuk ke kamar Sinta yang kosong. Segera kutemukan mini componya yang biasa memutar musik, kemudian kubawa ke dapur untuk menambah rencana nakal ini.
Sampai dengan momen ini Alex belum melihat penampilan terbaruku. Pasti dia masih mengira aku mengenakan baju putih tadi.
“klek” (bunyi tape dinyalakan)
(terdengar lagu romantic ONLY YOU)
Alunan music yang mulai tedengar membuat Alex penasaran. Dia berusaha menoleh ke belakang. Begitu terkejutnya ia ketika melihat diriku sudah mengenakan pakaian seragam lengkap.
Siap bertugas member kenikmatan untuknya.
“Mbak kok pake baju dinas???apa Alex mau ditangkep beneran Mbak???” (Alex gugup)
Kumelangkah maju ke hadapannya .
“Kamu bawa senjata lex dan kamu bohong! Mbak akan buktikan kebohonganmu”
Posisiku berhadap-hadapan dengan Alex. Sambil mengatakan itu Aku mulai menggoyangkan tubuhku seirama dengan alunan musik. Dengan gerakan yang sangat erotis. Masih dengan seragam lengkap kuangkat kedua tanganku kebelakang hingga menyentuh tengkukku.
kugoyang tubuhku perlahan. Alex terkesima menatapku. Semula dia takut. Sekarang????……… Dia bahkan tidak mampu mengedipkan matanya.
Penampilanku yang semula galak kini berubah binal .
Erotis kugoyangkan pinggulku ke kiri dan kanan.
“Mbaaaak…..” ujar Alex nyaris meneteskan air liurnya.
Kubalik badan sambil kuturunkan tubuhku hingga wajahku sejajar lutut. Alex tentu dapat melihat penuh kemontokan pantatku dalam posisi ini. Kembali kuangkat sedikit punggungku dengan posisi pantat yang menonggeng. Menyesuaikan irama aku mulai bergoyang itik dalam tempo lambat. Gerakan pantat yang meliuk-liuk membuatku terlihat hendak mengebor. Begitu nakal suguhan yang kutampilkan ini.
“Pantat Mbak…..sexy sekali……”
“ Hush diam!!! Kamu sedang digeledah Lex. TIDAK BOLEH BICARA!!!”
Kembali kuhadapkan tubuhku menghadap ke arahnya. Kugoda dia perlahan dengan melepas satu persatu kancing baju kerjaku sampai terlepas semua. Setelah itu kulepaskan baju kerjaku dan kuletakkan di meja kecil yang ada disana. Tak lupa lirikan dan senyum nakal kuberikan kepadanya untuk semakin membuatnya bergelora.
“ Mbakk tetekkmu indah sekali Mbakkkk…”
Reaksi Alex yang baru saja untuk pertama kalinya menyaksikan payudaraku terpampang jelas.
Terus kugoda dia sambil meletakkan kedua tanganku di depan payudaraku. Sambil memelintir pelan kumainkan pelan puting susu berwarna coklat kebangganku.
“montok sekali Mbak……..oouuggh”
Tanpa berkedip Alex terus menyimak aksi nakalku.
Kuangkat tanganku ke atas membuatnya bisa melihat dadaku semakin jelas.
Kudekati dirinya.
“ Kamu liat tetek Mbak Lex??’’ seruku sambil tetap mengankat tangan tinggi sedikit bergoyang nakal.
“iiiiiiiya Mbakkkk…” ujarnya sedikit mengeluarkan air liur.
“ sexy gak Mbak Lex?”
“Sangat Mbak……sangat Sexyyy sekali” ujarnya dengan mata melotot ke arah payudaraku.
Kuturunkan tanganku menuju penisnya yang telah terangsang hebat akibat striptease kecil barusan. Kupegang dengan tangan kiri. Alex Nampak terkejut. Kuurut pelan dari helm ujung penisnya yang sudah berwarna merah keunguan terus turun hingga kedua peler yang menyangganya.
“Mbbbaaaak apa yang…??” ( Alex terkejut mengeram menahan nikmat)
“ini senjatamu Lex! Lihat sendiri! Sudah panjang tegak kencang lagi”
Kukocok perlahan terus menjelajahi urat-urat yang telah tegang di batang penisnya.
“iiiiiya Mbaaaaaak …..” ( Alex menahan nikmat)
“masih mau bohong???”
“nggak….. mbaaak ampunnnn”
“kamu ngaku bohong Lex??” tanyaku sembari mengurut lebih cepat batang penisnya.
“iiiiya Mbakkkkk Alex ngaku berbohooong”. Tatapan Alex menatap kalangi- langit. Kedua Pahanya direnggangkan lebar.
Sepertinya dia terangsang hebat.
“Bilang yang keras Lex!!!”
“MBAK TANTRI ALEX NGAKU BERBOHONG”. (katanya keras sembari merem melek menahan nikmat).
Kuhentikan aksiku.
Kubiarkan dia dalam posisi ereksi hebat seperti itu. Tanpa penyelesaian.
“ Nah karena kamu sudah mengaku sekarang Mbak harus memberi hukuman buat kamu. Ini supaya gak berani bohong lagi” kataku sembari kembali bergerak membelakangi tubuhnya.
“pluup” ( Tantri membuka kotak lotion beauty cream)
Kebetuan aku masih mempunyai persediaan sabun aroma terapi yang bisa kugunakan untuk semakin memanaskan aksi ini.
“sssrrrt” (Tantri melumuri tangannya dengan sabun)
“oooooh Mbaaaak kok disabuni anuku?????……” Tanya Alex ketika kumilai aksi hand jobku padanya.
Seluruh batang itu kulumuri sabun beraroma wangi lavender. Mulai kupijat secara lebih kencang. Sangat mudah karena permukaannya kini telah licin sepenuhnya.
“ooooouggh Mbaaaak….”
Jeritnya menahan gelinya permainan tanganku.
Mulai kuurut perlahan dengan tangan kiriku dari ujungnya sampai dekat perutnya. Tangan kanan kugunakan memainkan kedua kantung pensinya yang juga tampak mengencang mengundang penasaran.
“Mbbbbakk…mbakkkkk aampunnn ampuunn…”
Stimulasi rangsangan gencar kuarahkan ke batang kejantanannya. Alex semakin meracau berusaha melebarkan kakinya agar datangnya rangsangan makin nikmat.
“Mbbbbaaaaakkk jangan cepat-cepat ngocokknyaaaaa……!”
“kenapa Lex??’”. Bisikku nakal.
“Nanti …. Nanti…. Keluar Mbak……”
“ Apanya yang keluar Lex?”. Godaku sambil mencium tengkuknya.
“OUUUgf Mbak………”.
Rintihnya, kehilangan suara kala kubentuk ibu jariku bersama jari tengah dan kelingkingku membentuk lingkaran kecil di pensinya. Dengan tekanan yang tepat kutekan penisnya menghadirkan sensasi vagina yang begitu ketat nan hangat.
“oooooougggh god yessssssss”.
Erang Alex dengan kepala tertengadah sembari kaki mengangkang lebar.
“ Sekarang gantian kamu ngrasain apa yang tadi Mbak rasakan.” Kataku.
Aku tidak mau buru-buru.
kukalungkan tanganku perlahan membentuk cincin sambil menikmati setiap tekanan coli yang kuberikan di tiap sudut penisnya.
“Mbak….Mbak…Mbak Alex gak kuat Mbak”
racaunya sambil bersiap menuju surga kenikmatan.
“ Tidak secepat itu Lex” . Bisikku.
Kulepas tanganku dari penisnya. Otomatis membuatnya terkejut dan belingsatan menoleh kiri dan kanan.
“Mbak kenapa berhenti Mbak????Alex belum sampe Mbak………”
Kunikmati wajahnya yang penasaran dengan kenikmatan yang menggantung.
“Kamu mau Mbak apain Lex???”
“Terusin Mbakkk…terusin please….”. Ujarnya penuh harap.
Kuturuti kemauannya.
Kembali penis itu berada dalam genggaman tangan kiriku. Kukocok cepat….semakin cepat… semakin cepat. Tangan kanan kuturunkan ke area antara peler dan anus. Kubaca di majalah dewasa kalo inilah area laki-laki yang bila ditekan mampu menahan ejakulasi.
“Mbakkkk cepetinnn Mbakkk…. Alex nyampe ouuughhh”
Kembali kuhentikan kocokanku. Tangan kiriiku mengenggam lubang kencing penisnya, sementara telunjukku tangan kanan menekan tepat di area “skrotumnya” tepat di saat bersamaan.
Alex bergetar hebat. Kepalanya sampai terangkat-angkat. Cengkraman tangannya yang terborgol semakin kencang.
“Tahan sayangg……….tahan sayang…..jangan cepat-cepat”
Bisikku sambil menghentikan ejakulasinya.
Alex bergetar mengalamiorgasme hebat. Tanpa ejakulasi.
“Mbakkk…Mbakkkk…apa yang terjadi…Mbak kenapa????”
Alex penasaran kenapa dia belum ejakulasi. Ini pengalman baru baginya. Mampu merasakan orgasme tanpa ejakulasi.
“ Mau lagi sayang???”. Bisikku sambil menjilat telinganya.
“Mau mau mauu….Mbak”
“Tapi kamu tahan ya….kamu hanya boleh ejakulasi kalo Mbak udah ijinkan” Perintahku kepadanya
Sebenarnya semua pengetahuan ini kuperoleh dari buku dan majalah. Namun hasilnya ternyata luar biasa. Alex betul-betul mabuk kenikmatan.
Terus kubaluri semua batang penisnya sampai licin. Lanjut aku mengocok cepat sekali…dan…. Kembali kutahan ejakulasinya. Alex terus bergetar hebat seperti reaksiku ketika orgasme.
Berkali-kali kubuat dia seperti cacing kepanasan. Multiple orgasme kalo tak salah namanya.
Alex menggeleng-gelengkan kepalanya. Pusing juga dia tampaknya akibat orgasme berkali-kali tanpa ejakulasi. Kantung pelernya juga terus kupijat pelan sambil membayangkan betapa banyak cairan yang ada disini sekarang.
“ Kamu mau Mbak keluarin Lex”
“Iiiiiiiya Mbakkkkkk…..Alex udah gak kuat dibeginiin terus Mbak….. Pusinggg”
“janji sama Mbak ya Lex!!!!!…..”
‘’Janji apa Mbak ???????………………………”
“ janji untuk jangan mempermainkan Mbak ya Sayang..please….”
Harapku sambil mencium keningnya.
“Iiiiya Mbak…..ALEX JANJI GAK AKAN MEMPERMAINKAN MBAK”
“ Kamu Serius sayang???”
“iyyyyyya Mbak. ALEX SERIUS…….”
“Ok Lex. Sekarang Mbak ijinkan kamu ngecrot….Keluarin semua ganteng!!!..jangan ada yang ditahan-tahan..”
Ujarku sambil tersenyum penuh kenakalan.
Kini kukocok kencang penisnya membawanya merasakan kenikmatan surgawi.
Tangan kanan yang sedari tadi menghambat kenikmatannya, kuarahkan sedikit naik menuju lubang anusnya untuk membuat rangsangan ejakulasinya semakin meledak. Licinnya jari tanganku mempermudah telunjukku sliding masuk sedikit kedalam anus Alex semakin menambah nikmatnya stimulasi.
“hugh…..Mbak….Hugh…..Mbak….oooooh”
Kupercepat kocokanku sampai Alex tidak mampu lagi berkata kata maupun menggeram.
“……………………(Alex ejakulasi)”
Penis Alex membesar di tanganku untuk kemudian meledak-ledak menghamburkan cairan kental berwarna putih.
“crooot….crooot..crooot” (suara ejakulasi)
“oooogh….Mbak Tantri….” Ujarnya dengan bola mata yang tinggal putihnya saja.
“…………………….”
“Keluarin semua sayang…ayo keluarinn!!!!…..”
Bisikku sambil mempercepat kocokan tangan. Dari bawah kubantu mengurut penisnya hingga naik ke atas menuju saluran kencing. Semakin membuatnya mudah mengeluarkan lahar kenikmatan.
“aaaagggggghhhhhhhhh” . (Alex histeris menumpahkan cairan terakhir)
Tumpah ruah cairan itu di lantai dapurku.
“hah….hah…hah” ( Alex merasakan kenikmatan)
Giliran Alex yang merem melek. Seolah berliter-liter cairan telah tumpah akibat kelakuan nakal tanganku.
“huuuuuff”
Pasca ejakulasinya mereda. Segera Kubuka kunci borgolnya agar dia bisa kembali bebas. Setelahnya kami kembali berpelukan mesra.
“Terima kasih Mbak….. Terima kasih banyak nikmat sekali….”
“sama-sama sayang”. sambil kuelus kepalanya penuh rasa cinta.
Dengan penuh kemesraan kubantu dia memakai celana panjangnya kembali.
Karena waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam, kuminta Alex untuk pulang. Bagaimanapun juga kehidupan malam asrama tentu berbeda dengan kehidupan masyarakat biasa.
Sebelum dia pergi diambang pintu kami masih sempat saling berpelukan dan berciuman mesra sangat intim. .
Akhirnya malam itupun berlalu dengan sejuta rasa diantara kami berdua.
Tidur nyenyak dan mimpi indah mengakhiri petualangan kami malam itu.

********

Keesokan harinya
*************
“hoshh…hoshhhhh…hoshhhh” (suara Tantri Joging)
‘RRRRT..RRRRRT….RRRRT” (TANDA PESAN SMS MASUK)
Kuhentikan lariku melihat ponsel.
Kubaca isinya dari komandanku dari unit Kriminal.
“Tantri jam 11 Kamu bertugas mendampingi GABY Sseorang KORBAN PERKOSAAN. Harap tepat waktu ”
“Huuuuf perkosaan semakin marak terjadi akhir-akhir ini”. Batinku
“…Gaby??? Namamu indah sekali tapi nasibmu……”.
Kuputuskan untuk berhenti berfikir dan kembali berlari.
“hooooshhh….hossshhhhh” (Tantri kembali berlari)



(Jam 10.45 Depan ruang perlindungan saksi dan korban Bagian Kriminal Kantor Tantri bertugas.)
“ Tok…Tokk….”
“Siapa di luar??’
“ Mohon ijin Komandan Brigadir Tantri menghadap!”
“ Masuk Brigadir!!”
Dengan langkah tegap kumasuki ruangah Bapak Hendri Kepala Bagian Kriminal Polres.
Beliau pribadi yang berdedikasi. Salah satu tipe Komandan favoritku. Orangnya ganteng dengan tubuh terawat hasil latihan fisik rutin. Sangat idealis bahkan dapat dikategorikan Pejabat yang bersih.
“Mohon arahan Komandan?”
“ Ada kasus baru Tri. Terkait rombongan bajing loncat yang biasa menjarah truk. Saya sudah menginstruksikan TEMBAK DI TEMPAT kepada seluruh anggota yang melihat aktifitas komplotan ini. Kamu sudah dengar siapa orang yang berhasil kita identifikasi sebagai piminan komplotan??”
“SIAP Komandan informasi yang kami dengar dari Brigadir Sinta, pimpinan rombongan ini bernama Cakra seorang Preman kambuhan”
“Bagus Tri! Kamu benar.”
“Siap Komandan”
“ Beberapa hari yang lalu, sejumlah Reserse menggerebek sebuah rumah yang dicurigai merupakan rumah selingkuhan Cakra…….. “
Terus kudengarkan serius berita dari Komandanku.
“…..Betapa terkejutnya para Anggota menjumpai dalam rumah itu sedang terjadi perkosaan terhadap pemilik rumah dengan melibatkan seorang Laki-laki tua dan seorang anak muda. Anggota langsung bertindak menghentikan tindak perkosaan ini dengan membuang tembakan yang melumpuhkan mereka. Kini kedua orang itu sudah meringkuk di sel tahanan.”
Agak miris hatiku mendengar bagaimana kedua orang itu tega merampas kebahagiaan dari seorang wanita tidak berdosa.
“Bagaimana kondisi wanita pemilik rumah itu Komandan?” . Tanyaku.
“ Dia sudah dirawat oleh tim kesehatan Tri. Kondisinya terus membaik. Sebenarnya dia Wanita yang sangat cantik, kulitnya putih dan badannya sexy. Sayang suaminya sekarang hidup terpisah dengannya di luar kota.”
“ Siap?..”
“Nah tugasmu Brigadir Tantri adalah berusaha menjalin komunikasi dengan korban! Sampai saat ini tim investigasi gagal mendapatkan informasi darinya. Korban yang bernama Gaby ini kami yakini mempunyai akses penting untuk mengetahui keberadaan Cakra.”
“ Si Gaby ini kenapa bisa memiliki hubungan spesial dengan Cakra Komandan???”
“ Cinta Tri. Sepertinya Gaby jatuh cinta kepada Cakra”
Terbit empati di hatiku kepada sosok wanita ini. Apalagi baru saja aku mengalami sendiri bagaimana misteriusnya kemunculan CINTA. Hadirnya tidak diundang pulangnya tidak dijemput.
“ Kami masih berusaha mencari motif kedua pemerkosa melakukan tindakan itu. Kuat dugaan ini berlatar dendam mereka berdua kepada Cakra yang dilampiaskan kepada selingkuhannya. Oleh karena itu kamu harus segera melakukan pendekatan emosional kepada korban! Gali informasi sebanyak-banyaknya darinya”.
“ Siap. Ada petunjuk metode apa yang sebaiknya saya gunakan Komandan?”
Tanyaku sambil meminta saran.
“ Komunikasi Tri dari hati ke hati! Aku yakin wanita akan lebih mudah membagi rahasianya terhadap sasama wanita”
“ Siap laksanakan Komandan!”
“Berangkat Tri jangan buang waktu!! Korban sekarang ada di Rumah Sakit Harapan Sehat”
“Siap Komandan Tantri langsung meluncur”
Sambil mengucapkan itu aku menghormat dengan sikap sempurna ke arah Pak Hendri kemudian langsung balik kanan menuju TKP.

************************************************** ********

(Jam 13.00 Rumah Sakit Harapan Sehat Ruang perlindungan korban dan saksi.)

“Selamat siang Ibu Gaby….boleh aku masuk?”. Tanyaku dengan penuh kelembutan.
“ooooh mari silakan Mbak…..maaf masih berantakan…tadi barusan pulang dua orang polisi jadi berantakan tempatnya”. Sambutnya ramah.
Cukup ramah wanita ini pikirku. Untuk seorang korban perkosaan dia terlihat sangat baik. Secara psikologis biasanya aku sering menemui para korban dalam kondisi depresi berkepanjangan. Beberapa diantaranya bahkan tidak sanggup diajak bicara sama sekali. Tapi wanita bernama Gaby ini?? Dia terlihat baik-baik saja.
“ Mbak Polwan ya?”. Tanya Gaby penuh selidik.
Siang ini aku memang sempat berganti baju sebentar ke asrama khusus untuk menemuinya. Sangat mengintimidasi pikirku, bila aku berusaha meminta informasi darinya lengkap dengan baju dinas. Sebaiknya Aku memilih baju yang menenangkan dan membuatku terkesan menjadi wanita biasa-biasa saja.
“ Bukan Mbak saya petugas dari rumah sakit ini yang bertugas member konseling psikologis kepada wanita korban kekerasan seksual ”. Jawabku ramah.
“Mbak” adalah panggilan yang cocok kuberikan padanya daripada “Ibu” yang kuberikan diawal. Sosoknya masih sangat muda. Betul kata Komandan wanita ini sangat cantik, juga sexy. Bahkan baju piyama rumah sakit tidak mampu menyembunyikan pesona kecantikannya. Kulitnya putih bersih seperti para artis bu kota.
“Hmmm cantik, sexy, sedikit mungil. Wanita ini pasti menjadi impian seksual banyak laki-laki”.
Batinku sebagai bentuk penilaian awal terhadap dirinya.
“ Syukurlah Mbak. Hari ini saja sudah lima orang polisi yang mendatangiku bolak-balik…”
“…. Tapi rambut Mbak pendek lho kayak Polwan??” . tanyanya dengan nada curiga.
“ Banyak yang bilang bgtu Mbak. Padahal diriku petugas rumah sakit ini kok. Ini tanda pengenalku!”
Jawabku sambil menujukkan ID palsu.
“ O iya nama Mbak Tantri ya???”.
Ujarnya sambil mencocokkan wajah di tanda pengenal rumah sakit dengan wajahku.
“ Betul sekali Mbak Gaby”. Jawabku sambil menjulurkan tangan mengajaknya bersalaman. Diterimanya ajakan itu dengan ramah. Akhirnya setelah awal pertemuan yang berbau saling menelisik. Kamipun mulai mengobros seputar kehidupannya selama tinggal di rumah sakit.
Setengah jam kemudian obrolan kami masih berputar-putar. Kami masih tarik ulur. Saling menjaga belum percaya sepenuhnya.
Aku berusaha masuk ke dalam dirinya. Dia berusaha menjauh dariku.
( Tantri bicara dengan dirinya sendiri)
“Tantri harus bagaimana kamu untuk membuat wanita ini mau menceritakan kisahnya???
(Dahi Tantri mengerut berusaha berpikir keras).
“Hmmmm ah ya coba cara ini saja”
(Tantri memililki ide)
“ Mbak Gaby tadikan kita udah ngobrol banyak. Tantri nilai Mbak ini dewasa banget lho Mbak. Ditengah serbuan pertanyaan Polisi, kehidupan rumah sakit yang penuh keterbatasan Mabk menghadapinya dengan penuh ketabahan ”
“ Ahh masak sih tantri? Persaann Mbak gak begitu deh”
“iya Mbak mungkin pengalaman Mbak membuat Mbak jadi terlihat sangat dewasa. Sangat sabar. Sangat tabah.”
Gaby agak tertunduk. Mungkin ini awal yang baik batinku.
“ Aku boleh curhat masalah asmara diriku gak sama Mbak??” tanyaku dengan nada wanita manja.
“ Boleh banget Tantri. Mbak seneng banget denger cerita. Udah lama soalnya Mbak tinggal sendiri”.
“Emang suami Mbak ada dimana sekarang??” tanyaku.
“ panjang ceritanya Tri. Nanti deh Mbak certain setelah kamu yang cerita”
Horeeee aku bersorak di dalam hati wanita ini terkena perangkapku. Mudah-mudahan dia akan mau segera bercerita sebentar lagi.
“ayo cerita!”. Gaby berucap lembut
“ Gini Mbak, aku baru punya pacar namanya Alex…………..”
(tantri menceritakan hubungannya dengan Alex)
Lama rasanya aku bercerita kepadanya mengenai hubunganku dengan Alex. Tentunya dengan banyak editing plus sensor disana sini.
“…Nah begitulah Mbak.. jadi aku bingung sebenarnya dia laki-laki bertanggung jawab yang cocok buatku gak ya Mbak?????”
(Tantri mengakhiri ceritanya)
“ hmmmm menurut pengalaman Mbak sih Alex cocok buatmu Tri.”
“ Mbak kok bisa ngomong begitu??”
“ Dari pengalaman Mbak Tri. Dulu suami Mbak waktu pacaran selalu bertanggung jawab sama kayak Alex… ………….”
(Gaby panjang bercerita perihal suaminya)
“………semua bahagia Tri. Sampai aku bertemu dengan seseorang…….yang mapu merubah seluruh perjalanan hidup Mbak….”
“wah siapa orang itu Mbak???”. Tanyaku sangat ingin tau.
“ hmmm kamu bisa nyimpen rahasia ini ya Tri! Soalnya Mbak juga gak sanggup menanggungnya sendiri. Mbak udah capek. Mbak harus berbagi kisah ini kepada orang yang Mbak percayai. Semoga kamu bisa menjaga rahasia cerita Mbak ini ya Tri!”
“ Amin Mbak percaya sama Tantri! Gimana ceritanya Mbak??..”
(Hidup Tantri kamu berhasil) .Tantri bersorak dalam hati.
“Hmm. ….iya jadi begini Tri. Semua berawal dari pertemuanku dengan seseorang yang bernama CAKRA…..”

(Gaby mulai bercerita)
“Semua berawal ketika aku dan suamiku sedang dirumah. Lalu…….”
(Tantri menyimak dengan serius)
Lama rasanya aku harus termangu mendengar cerita Gaby. Sampai sejauh ini aku mencatat sejumlah perkembangan menarik. Semua bermula dari paksaan Cakra kepada Gaby untuk menemaninya menghadiri resepsi pernikahan temannya. Dari sanalah berawal “perkosaaan”. Harus kuberi tanda petik karena saudari Gaby menikmatinya. Harus diteliti lebih jauh apakah benar seorang korban perkosaan dapat menikmati penganiyayaan yang dialaminya. Apalagi hingga berujung orgasme hebat seperti yang suadari Gaby ceritakan kepadaku.
Kemudian kisah berlanjut dengan Cakra yang “mendisiplinkan” Gaby sesuai dengan kehendaknya sendiri. Kata displin harus kugunakan karena kejadian berikutnya sangat mengejutkanku bahkan dalam kapasitasku sebagai sesama wanita. Pada tengah malam Cakra mengharuskan Gaby melangkah tanpa sehelai benangpun. Permintaan sangat tidak biasa inipun anehnya dipenuhi oleh Gaby dengam alasan melindungi keselamatan suaminya dari ancaman Cakra .Dalam peristiwa ini Gaby kembali mengalami orgasme hebat karena kepatuhan dan kepasrahan totalnya atas kehendak pria penjahat bernama cakra ini dalam persetubuhan yang sangat panas. Kembali harus diteliti apakah syarat mutlak seorang wanita bisa mengalami orgasme adalah munculnya kepasrahan kepada kehendak lawan jenisnya?.
Setelah peristiwa itu rupanya bibit “kebinalan” dalam diri wanita cantik ini tumbuh dengan subur tanpa dapat dikendalikannya. Celakanya bibit kebinalannya inilah yang akan berujung kepada tindak perkosaan kepada dirinya.
Tanpa malu-malu Gaby bercerita kepadaku perihal “kenakalannya”. Dimulai dari hobinya untuk mengenakan busana sexy. Dilanjutkan terbitnya keinginan dalam dirinya untuk memamerkan kesintalan tubuhnya di alam terbuka. Dengan resiko besar dapat terlihat oleh orang lain. Dalam pelajaran yang kudapat di sekolah sifat seperti ini kuketahui bernama “EKSHIBISIONISME”.
Sifat Eksib ini entah bagaimana rupanya telah berhasil dicekokkan Cakra kepada dirinya. Dengan nekad dia berangkat ke pasar kabupaten yang berjarak lumayan jauh hanya mengenakan busana seadanya. Nah dalam perjalanan pulang inilah ia bertemu dengan kedua sosok pria yang akan memendam hasrat besar untuk menikmati tubuhnya.
“ Jadi Mbak pertama ketemu dua orang ini di bus kota??”
“ iya Tri bener. Saat itu Mbak begitu bodoh. Entah setan apa yang buat Mbak begitu. Dengan hanya berbalut daster pendek warna putih, tanpa daleman, Mbak menaiki Bus kota itu. Siapa sangka rupanya bus itu sangat penuh.”
“Mbak tidak kebagian tempat duduk??” tanyaku penasaran.
“Enggak Tri semua penuh. Mbak terpaksa berdiri sambil kebingungan karena baju yang Mbak kenakan begitu pendek. Akhirnya Mbak berpegangan ke tiang penyangga penumpang.”
“ terus gimana kedua orang itu bisa ketemu sama Mbak??”
“ mereka menghampiri Mbak Tri. Lebih tepatnya menjepit diriku. Si tua menjepitku dari depan, sedang si muda memborbardirku dari belakang”
Kembali aku termenung untuk memikirkan penjelasan Sis Gaby ini. Kalo dari ceritanya di satu sisi bisa dibilang ini tindak pelecehan di dalam kendaraan umum. Namun pada sisi lain perlakuan dua orang ini kepadanya malah membuatnya “kembali” mengalami klimaks hebat.
“Gaby..Gaby..aku bingung dengan ceritamu. Apa mungkin karena sebagai sesama wanita aku belum pernah menghadapi situasi seperti yang engkau hadapi ya?? Sehingga sulit bersimpati pada dirimu”
“Tadikan Mbak gaby cerita kalo peristiwa itu berhenti sampai disitu. Mbak berhasil turun dari bus dan melarikan diri. Kenapa mereka masih dapat menjumpai Mbak kemudian??”. Tanyaku menyelidik.
“ Tri kamu cocok lho jadi polisi! Pertanyaanmu mirip mereka he he”
Tersipu aku menyadari keteledoranku sendiri. Terbawa suasana kata-kataku menjadi terlalu detektif sehingga member kesan demikian. Bahaya penyamaranku bisa terbongkar.
“EEiiit aku dulu memang pengen jadi wartaman Mbak jadi pertanyaanku banyak. Apalagi kalo kisahnya kayak gini”. Ake mengeles dengan cerdik.
“Lanjut donk Mbak!!” pintaku dengan suara yang memelas.
“Iya Tri jadi di belakang hari baru kuketahui bahwa mereka sebenarnya masih penasaran denganku. Bahkan bukan penasaran laki tapi TEROBSESI PADAKU. Setelah aku berhasil kabur dari bus, mereka berdua bertekad bekerja sama untuk mencari tau segala hal tentang diriku. Termasuk keberadaanku”
“Mereka kenal Cakra ?” . tanyaku menyelidik.
“ Enggak Tri. Ini gak ada kaitannya sama mas Cakra. Mereka berdua memang murni terobsesi padaku. Saat mereka meperkosaku mereka menceritakan bagaimana mereka telah mengubek-ubek seluruh wilayah ini untuk menemukanku. Semua ini terjadi karena kesan pertama mereka ketika bertemu denganku di dalam bus kota. “
“ Bagaimana mereka bisa menemukan Mbak untuk kedua kalinya??”
“Ini karena kebodohanku Tri…semua karena kebodohanku…..”
(air mata mulai mengalir dari mata Gaby)
(Gaby mulai menangis)
“Mbak jangan nangis donk! Maafin Tantri ya Mbak kalo mengorek luka lama!” ujarku sambil menyodorkan tissue
(Tantri menghibur gaby)
(Gaby menyeka matanya)
“Gak apa kok Tri. Semua kesalahan Mbak…Sebebtar ya Mbak redakan dulu kesedihan Mbak..”
(Tantri berusaha menghibur Gaby hingga kesedihannya mereda)
“ udah baikan Mbak Gaby??”
“Udah Tri makasih ya udah menghibur Mbak!”
“Tantri selalu ada untuk Mbak percaya ama Tantri ya Mbak”
(Gaby mengangguk)
“Jadi gimana lanjutan ceritanya tadi Mbak?”. Tantri berusaha bertanya.
“Begini Tri ceritanya………..”
(Gaby mulai bercerita dan akupun mulai mendengar dengan seksama untuk menyimak kisah kehidupannya):
(Cerita Gaby):
“….Suamiku pergi ke luar kota karena mendapat promosi pekerjaan. Dia mengajakku untuk ikut besertanya namun aku menolak. Segala kenikmatan yang diberikan Cakra kepadaku telah membuatku ketagihan untuk mendapat kenikmatan yang sama lagi..lagi..dan lagi. Itulah alasan utamaku untuk menolak permohonan suamiku. Jujur aku ingin bersama Cakra. Bahkan lebih ingin daripada hidup bersama suamiku….
…Singkat cerita suamiku yang baik itupun mengabulkan permohonanku. Dia berangkat sendirian untuk tinggal di kota baru meninggalkanku disini sendirian.
Tidak perlu waktu lama bagiku untuk menemukan pengganti dirinya. Sosok Cakra mulai masuk dalam kehidupanku berperan sebagai suami keduaku.
“ Tri kamu belum rasain menikah sih. Nanti kalo kamu sudah menikah kamu akan tau betapa nikmatnya berhubungan badan itu”.
Setiap hari sepeninggal suamiku aku dan Cakra seperti pengantin baru. Aku berbulan madu setiap hari. Hobi cakra pada komelekan tubuhku membuatku selalu merasa harus berdandan sexy dihadapannya. Apalagi Cakra sangat suka dengan ketiakku yang putih mulus ini. Hal itu yang semaki menambah motivasi dalam diriku untuk selalu berpenampilan sexy.
Baju tidur, Lingerie, g-string, daster-daster sexy semua menjadi sudah menjadi seragamku sehari-hari ketika melayani Cakra.
“ tadi Mbak udah cerita belum Tri kalo pekerjaan Cakra itu preman. Mungkin karena hidup bersama laki-laki yang seperti itu aku menjadi semakin “berani”. Pakaian sexy nan mengundang birahi itu dengan berani aku pentaskan keluar untuk membeli sayur, berjalan-jalan di komplek perumahan, bahkan membeli barang ke pasar kabupaten seperti yang dulu aku lakukan.”
“ Aku pikir diriku aman Tri. Ternyata aku salah.”
Saat itu mas Cakra menghilang dari rumah sudah empat hari lamanya. Dia bilang ada “kerjaan”. Aku tidak tau apa sebenarnya yang dia maksud dengan “kerjaan” itu. Sepeninggalnya dengan berani aku pergi ke pasar hanya dengan mengenakan daster Bali bertali satu yang terang-terangan memamerkan kebinalanku. Siapa sih yang berani denganku kan ada Cakra. Mungkin begitu alasanku waktu itu.

[IMG][/IMG]

Daster berwana putih ini membuat diriku menjadi pusat perhatian kaum pria di pasar itu.
Seperti biasa naluri Ekshibisionisku kambuh dalam sasana seperti ini.
Kembali kulakukan ritual untuk menggoda penjual buah, penjaga pasar sampai bapak tua penjual mainan dengan kemolekkan tubuhku.
Begitu joroknya pikiranku hingga aku gagal untuk menyadari kalo ada dua orang yang terus mengikutiku sedari tadi.
Saat menunggu bus untuk pulang. Kedua sosok laki-laki itu menghampiriku langsung mengambil tempat di kedua sisi kanan dan kiri tubuhku. Tubuh mereka yang jauh lebih tinggi dariku membuat aku seperti terjepit diantara mereka.
“ Halo Gaby ,masih ingat kami???”
kata bandot tua yang akhirnya kutahu bernama Bejo sambil tersenyum nakal.
“Bapak siapa ya???” . jawabku penuh keheranan.
Saat itu sebersit perasaan “tidak enak” sudah menyergapku.
Bahkan sebagian naluriku telah memerintahkanku untuk segera berteriak minta tolong dan kabur dari kedua orang ini. Mereka jelas bukan orang baik. Kalopun mereka orang baik cara berpakaianmu akan membuat mereka menjadi tidak baik.
“Masa lupa sama kami Neng sexy??”. Giliran pemuda disamping kananku yang bertanya.
Pemuda ini kuketahui keudian bernama Dodiseorang mahasiswa.
Pandangan matanya cabul ketika melihatku, sambil tangan kirinya menggerayangi pinggulku.
“Apa-apaan sih jangan kurang ajar ya!!!”
“sssst manis jangan berisik…”
kata bandot tua yang bernama Bejo dari sisi kiriku sambil menodongkan sesuatu.
Dengan gugup kulirik sejenak benda apa yang ditodongkannya . Betapa terkejut dan takutnya aku ketika mengetahui ternyata itu adalah pisau tajam.
“ jadi anak baik hari ini ya cantik he he he” . kata Bejo sambil meremas pantatku.
Posisiku kini seperti dendeng yang terjepit oleh kedua pria yang begitu asyik memainkan kesexyan tubuhku.
Yang satu menikmati indahnya pinggulku. Yang lain mengubek-ubek bongkahan pantatku.
“ahhh pak Bejo akhirnya bus yang kita tunggu sudah tiba mari kita naik” . kata Dodi sambil menggandengku naik ke atas bus.
Mereka berdua menggandengku dengan mesra seolah tidak ada yangbersedia kehilanganku.
“ Dodi itu ada bangku yang kosong di sudut belakang ayo kita duduk disitu. Mari Nduk he he he” ujar Bejo penuh kemenangan mendapat mainan baru.
Akhirnya kami duduk di deretan kursi bus dua baris dari belakang.
Posisiku kini duduk di tengah mereka.
Sore itu penumpang bus sangat sedikit tidak seramai biasanya.
Bangku bus banyak yang kosong.
“..Cantik mimpi apa kami semalam akhirnya bisa menemukanmu disini ?? Biar kucium aroma tubuhmu..”
Hmmm ( Bejo menghirup aroma tubuh Gaby).
“ Bapak tolong yang sopan ya!!! jangan….Ahhh apa yang…….”
Cup…….(Dodi mencium Gaby dibibir)
Tiba-tiba Dodi mendaratkan ciumannya di bibirku.
Lama diciumnya diriku sembari tangannya asyik bergeriliya diseputaran payudaraku yang tidak mengenakan BH dan hanya berbalut daster tipis ini.
“Kamu gak mau sopir bus atau seluruh penumpang bus ini yang laki-laki tau kan manis betapan sexynya dirimu??? Nanti mereka bisa memperkosamu ramai-ramai lho!” . Ancam Dodi sambil berbisik dan sambil menatap lekat ke arah wajahku.
(aku menggeleng)
(Dari kiri si tua Bejo tak henti menciumi aroma leherku.)
“ Kamu nurut saja sama kami berdua ya Neng ! Seperti waktu itu aja” ujarnya samba kembali menciumi bibirku.
(aku mennggangguk)
“Harumnya Mbak Gaby ini Dod. Sangat terawat hmmmmm.” (ujar Bejo kepada Dodi).
“ sejak pertemuan pertama kita. Kamu sudah membuatku gak bisa tidur Nduk. Kesexyan tubuhmu, kecantikan wajahmu, mulusnya kulit tubuhmu dan hmmmm bau aromamu yang wangi ini..bener-bener….” kata Bejo di telingaku.
Plup (Dodi melepas ciumannya)
“Mbah Bejo, kenapa Mbah gak coba bagian tubuhnya yang “itu”. he he he katanya Mbah penasaran sampe kebawa ke mimpi sama itunya si Neng…”
Aku terdiam tidak tau apa yang dimaksud oleh Dodi
“he he he iya Dod. Kamu bungkam mulutnya dulu ya biar gak berisik…Mbah mau itunya he he….”
“Ayo neng sayang kita ciuman lagi. Enak kan ciuman abang???”. Goda Dodi sambil mulai menciumku.
Ketika Dodi tengah asyik menciumiku otomatis semua perhatianku tertuju padanya sehingga tidak menyadari apa yang Bejo rencanakan pada tubuhku.
“ Ayo angkat tangannya Nduk. Pegang atasan jok ini!”. Perintah Bejo kepadaku.
Kuturuti kemauannya untuk mengangkat tangan sembil terus member jatah ciuman pada Dodi.
Celaka aku. .Batinku. Daster bertali satu tanpa lengan yang kukenakan jelas membuat ketiakku yang mulus, terpampang jelas dihadapan muka si bandot Bejo dengan kondis tangan seperti ini.
Snifff….sniiifff (Bejo menghirup aroma ketiak Gaby)
“tahan kepalanya ya Dod. Biar gak berontak kemanan-mana!” perintah Bejo yang semakin membuatku ketakutan.
(Dodi mengedipkan mata sambil memegang kepalaku terus mencium).
Cuuuuuup (Ciuman dalam dari Dodi)
“mmmmmm”(Dodi dan Gaby saling berpagut).
“nyam nyamm nyammmm he he he” (Dengan tampang mesum dan lidah terjulur Bejo bersiap menjilat ketiak Gaby.
“hhhhhgggggggghhh” (Gaby terkejut sekaligus terangsang hebat ketika merasakan datangnya serangan Bejo di ketiaknya)
Bandit tua Bejo itu menyusup ketiakku dengan lidahnya. Dia benar-benar terobsesi dengan ketiak itu. Seperti orang dehidrasi yang bertemu dengan air. Dia jilati bagian itu berkali-kali seperti menjilati coklat atau permen. Kemudian diciuminya bertubi-tubi.
“sssssssllllrg…..ssssssllllrrrg ( suara Bejo menjilati ketaik Gaby)
“………………………” (Gaby tidak sanggup berbicara karena dicium Dodi)
“Plup” (Dodi mencabut ciumannya)
“He he he manis tahan ya! Kamu harus bisa bertahan dari rangsangan kenikmatan ini! kalo kamu teriak salahmu sendiri lho!!!”
Dodi berkata sambil memegang kepalaku. Tampaknya ia ingin melihat momen wajahku yang sedang terangsang akibat jilatan di ketiakku.
“hhhhhmmmm…oooh…Hmmmmmmm” (Gaby menahan desahan sambil terus menggigit bibir).
“ he he he bagaimana kalo kita buat lebih sulit sayang. Kenikmatan yang ditahan itu lebih nikmat saat dilepaskan”
kata Dodi sambil mengangkat batasan rok daster dari bawahan tubuhku. Berusaha keras dirinya membuka celah kedua kakiku yang tertutup rapat.
“ayooo gak usah ditutup rapet gini Neng ….abang kangen sama jembutnya neng…”
Pinta Dodi dengan kalimat jorok.
Terpaksa kukangkangkan sedikit kakiku untuk memudahkan tangannya bermain disana.
(tangan Dodi menyibak vagina Gaby)
Oooouuuugggggh (Gaby menahan desahan hebat. Berusaha menggigit bibir )
“ ayo angkat tanganmu yang kanan Neng. Masak pak Bejo doank yang kebagian ketiak neng. abang juga mau donk!!” Perintah Dodi.
Sambil berusaha mati-matian menahan syahwatku sendiri, aku tidak mau memenuhi perintahnya tetap kujepit tanganku. Tidak mau membawanya keatas.
“he he jual mahal ya! Sini abang bantu. Diselipkannya tangannya ke ketiakku. Dengan tenaganya yang besar dengan mudah dia bawa tangan ku ke atas kepala.
“Oooh ketiak yang sexy”
Sssslrrg ( Dodi dan Bejo sama-sama menjilati ketiak gaby)
Samar kulihat dari kaca spion yang terpantul sebuah pemandangan mirip fil porno.
Aku yang duduk terjepit diantara dua pria dengan kedua tangan terangkat tinggi dengan kedua ketiakku yang tengah dinikamati dengan buas oleh mereka berdua.
Pemandangan dari bawah yang tidak tertangkap oleh spion itu tak kalah mendebarkan dan mendebarkan.
Kini kedua tangan laki-laki ini bersama-sama mempermainkan vaginaku. Dodi yang paling pintar mempermainkan area nikmatku ini.
Seolah dia tau semua titik sensitive dari vaginaku.
“ammppunnnnn Pakkkkk…ampuuun massssss….”. rintihku
“Pakkkkk…Masssss……Ampunnn…..aaagggggghhhhhhh”
(Gaby orgasme)
“oouuughhhh…………….(Gaby kehilangan nafas)…”
“hehhhhgggg (Gaby berontak ke kiri ke kanan seperti orang sedang kesetrum)
“AMPPPPPP……..( Gaby menjerit lepas control namun tangan Bejo membungkam jeritan Gaby) .
“hooooghhhh….hogggghhhhh…oggggghhhhh” (Gaby dihantam badai orgasme dengan tangan Bejo dimulutnya)
“AAAAAAhhHHHHHHHHHH (Gaby menjerit sambil menarik kedua tangannya yang terangkat turun otomatis menghentikan jilatan. Tangan Bejo tidak mampu menahan Gaby yang berontak)
“……………………………………………..” (Bus hening)….(semua penumpang melihat kearah Gaby)
“MMMmmmmaaaaf maafkan saya. Tolong hentikan busnya pak supir…. ssssaya turun disini saja” (ujar Gaby dengan wajah merah padam akibat orgasme. )
Ckiiitttttt( suara bus berhenti)
(Gaby turun diikuti Bejo dan Dodi)
“………………………..”
Bus berjalan kembali meninggalkan aku dan kedua pria ini.
Dodi dan Bejo kembali berdiri menjepit Gaby
“he he enak Nduk???” kata Bejo di telinga Gaby
(Gaby menggeleng tidak bersuara)
“ha ha jangan suka bohong Nduk. Kalo enak ya bilang enak!!”
(Gaby menunduk menggeleng).
“He He biasa Mbah, Neng Gaby ini biasa main sandiwara. Sejak pertama kali ketemu kayaknya kayak wanita baik-baik. Taunya? he he jembutnya kemana-mana”. Dodi berujar melecehkanku.
(Bejo tiba-tiba menarik rambutku membuat posisiku tertengadah…)
“Nduk hari ini kamu milik kami berdua!!!” kata Bejo.
(Gaby merinding)
“Aku pastiin cairanmu disini (tangan Bejo kearah perut Gaby) terkuras habis malam ini! Kami berdua akan membuatmu keenakan sampe kamu kehabisan cairan he he. “
(Gaby terus merinding sambil tertengadah)
“sekarang tunjukin rumahmu dimana Nduk!” (Bejo melepas jambakannya.)
“Malam ini kamu milik kami berdua!!!” Bejo berbisik kembali ke telinga Gaby.
“Ayo Neng tunjukin rumahmu!”
………………………………………………………….
“ akhirnya sambil tertatih aku melangkah menuju rumahku membawa kedua laki-laki ini…………”
“….Sepanjang perjalanan menuju rumah mereka terus melecehkanku. Apabila ada kesempatan, baik Mbah Bejo maupun Dodi selalu menyusupkan tangannya ke bagian sensual tubuhku. Tangan Mbah Bejo sangat suka menyusup ke bagian ketiakku, sementara Dodi sangat menggemari pantatku.
Akhirnya perjalanan yang “seolah” sangat jauh itupun berakhir dengan terlihatnya pekarangan halaman rumahku yang asri.
“ Emmm Itu rumahku Mbah….”. Kataku penuh kegugupan.
“ Oow itu rumahmu ya Nduk? Bagus. Ayo cepat buka pintunya Mbah sama Dodi udah gak sabar nih!”.
Sambil memerintahku untuk segera membuka pintu mereka kembali menggandengku mesra penuh pandangan cabul.
“….Ckreeeeek….”., dengan gugup aku membuka pintu.
“ Hmmmmm bersih dan wangi rumah ini Dod.. bisa betah nih he he”.
“ Bener Mbah! Bisa lama nih kita maen sama Neng cantik ini he he”. Sahut Dodi
“ Neng dimana kamar mandinya?? Abang Dodi mau mandi dulu nih. Kotor banget badan Abang dari pagi belum mandi”.
Kutunjuk dengan telunjuk tempat kamar mandi kami yang terletak di ujung lorong. Tanpa banyak omong lagi Dodi segera bergegas menuju kamar mandi.
“ Nah mumpung Dodi lagi mandi tunjukin kamarmu ya Nduk! Mbah mau liat kamarmu”.
Masih dipenuhi ketakutan kuantar Mbah Bejo masuk ke dalam kamar tidur yang biasa menjadi saksi persetubuhan panas antara diriku dan Mas Cakra.
“ Cek…Cek.. luas ya kamar ini Nduk! Apalagi tempat tidurnya bisa muat buat bertiga. Kamu memang udah siap dengan kedatangan kami Nduk”.
Setelah mengatakan itu Mbah Bejo kembali memelukku.
Kutahan badannya sebisaku dengan tenaga yang kalah kuat darinya.
“Mbaah.. Mbaah.. ampun Mbah jangan lagi ya! …..ampuni Gaby! Ambil aja semua uang atau perhiasan Gaby tapi tolonng lepasin Gaby ya..”.
Aku mengucapkan itu dengan badan gemetar diiringi butir air mata yang mulai mengalir dari kedua bola mataku.
“ Kamu gak usah nangis Nduk!”, tangan Mbah Bejo menyeka mataku yang mulai berkaca-kaca.
“..Kami datang kesini gak niat nyakitin kamu. Hartamu kami gak butuh!. Dodi sama Mbah udah cukup dalam soal harta…”
“….Jadi apa yang bisa Gaby kasih ke Mbah biar Gaby gak diperkosa??”. Tanyaku memelas.
“ Udah kamu NURUT aja sama kami Nduk! Itu aja yang Mbah mau. Memperkosa? Kamu sendirikan yang suka make baju sexy untuk menggoda mata laki-laki?. Kalo sudah jadi begini salah siapa coba Nduk??”.
Aku terdiam menyadari kebodohan kelakuanku sendiri.
Kejadian ini mulai membuatku mengutuk diri sendiri atas “kenakalanku”.
“ Kamu sendiri yang ngundang kami Nduk. Sekarang kami datang untuk memenuhi undanganmu“.
Aku mulai menitikkan air mata menangis.
“ Udah kamu gak usah nangis! Mbah sama Dodi janji gak akan maen kasar sama kamu!. Tapi kamu harus NURUT sama kami NGERTI!”.
“ Iya Mbah tapi..hanya untuk malam ini aja ya Mbah”. Pintaku penuh harap sambil mengangguk pasrah.
Tangan Mbah Bejo yang semula hanya menyeka air mata kini telah memelukku. Setelah itu dia kembali memegang wajahku untuk menatapnya kemudian mengangguk sebagai tanda setuju.
“ Mbah janji Nduk “. Jawabnya sambil mencium bibirku.
Mungkin karena pengaruh karismanya , aku menyambut ciuman Mbah Bejo dengan bergelora .
Lama kami saling berciuman mesra sambil saling berbagi keintiman sebelum Mbah Bejo melepaskan ciumannya.
“ Kamu bau keringet Nduk..ayo ikut Mbah kita mandi bareng Dodi!.”
“ Mbahh jangan Mbah gaby takut. Masak mandi bertiga…”
“ Hush kan kamu udah janji mau nurut Nduk!”. Ujar Mbah Bejo penuh ketegasan langsung menghujam jantungku.
“…Iya Mbah Gaby patuh…”.
Aku menunduk lesu untuk memenuhi keinginan dari pria paruh baya ini.
“ Sebentar Nduk…nah ini cocok untuk kamu..ayo kita jalani”. Kata Mbah Bejo sambil mengambil sesuatu dari kaca riasku yang tidak kuketahui apa sebenarnya yang diambilnya. Setelah itu dituntun oleh Mbah Bejo kami melangkah menuju kamar mandi. Sebelum sampai disana terdengar suara nyanyian Dodi.
“ la….la…la….Neng Gaby betapa sexynya dirimu”.
Dodi sedang asyik bernyanyi di kamar mandi sambil memanggil-manggil namaku.
“ Dod buka pintunya! Mbah sama Neng cantik mau mandi bareng kamu nih…”
“ Wah yang bener Mbah?? asyikkkk”. Suara Dodi terdengar sangat bergembira dan bersemangat. Tiba-tiba Dodi membuka pintu.
Pemandangan yang kulihat ketika pintu kamar mandi terbuka sangat mengejutkan.
Dodi berdiri disana telanjang bulat. Bentuk tubuhnya sangat atletis. Sebagai mahasiswa sepertinya dia rajin berolahraga dan merawat tubuhnya. Posturnya menyerupai Mas cakra.
“ Dod Neng Gaby barusan udah bikin kesepakatan sama Mbah”.
“ Bikin kesepakatan apa nih Mbah??? “.
“ Kita gak boleh nyakitin dia selama si Eneng nurut sama kita. Kamu ngerti kesepakatan ini kan Dod?”
“ So pasti donk Mbah. Lagipula siapa sih yang mau nyakitin kamu Neng? Kami berdua Cuma mau buat kamu puas he he Abang mau buat kamu crot lagi kayak di bus…”.
Demikian kata Dodi sambil maju kearahku langsung memeluk dan mencium bibirku.
Basahnya tubuh Dodi membuat seluruh dasterku bagian depan juga ikut basah karena ulahnya ini.
“ Dod kamu bikin basah dasternya Neng tuh.. kasian dia nanti masuk angin”. Kata Mbah Bejo menghentikan aksi ciuman kami.
“ O iya ya maafin Abang ya cantik. Sebagai gantinya Abang mau mandiin kamu biar kamu gak masuk angin. Ayo angkat tangannya! Abang mau bantuin Neng lepasin bajunya.”
Bagai seorang anak penurut kupatuhi perintahnya dengan mengangkat tanganku.
Ketika mengangkat tangan mulai kupejamkan mata tak sanggup menantikan apa yang mereka berdua telah persiapkan.
Kesunyian yang begitu lama tentu membuatku penasaran. Sedikit kubuka mataku untuk melihat apa yang sebenarnya mereka tunggu.
Terlihat di hadapanku Dodi masih termangu mungkin terkagum-kagum menyaksikan kemolekan tubuhku.
Dari belakang Mbah Bejo juga tampak sangat terperangah dengan kemolekan tubuhku hingga tak mampu berbuat apa-apa.
“ Gleg” . Mbah Bejo menelan ludah.
“ Ayo Dod dimulai jangan bengong aja “ . Akhirnya mbah Bejo mampu mengeluarkan suara untuk mengakhiri ketakjubannya.
“ iiiiya Mbah “. Dodi mulai sadar dan menyosor diriku.
Permainan merekapun dimulai.
Dodi memulai serangan ini dengan menanggalkan daster satu tali yang sedari pagi tadi telah membalut tubuhku. Lepasnya daster mini ini tentu membuatku langsung telanjang bulat.
Ketelanjanganku tanpa sehelai benangpun semakin membuat mata mereka berbinar ingin segera melumat tubuhku.
Secara bersamaan mereka berdua menghimpitku dari dua arah.
Dodi yang memang telah telanjang bulat dengan rakus langsung memagut bibirku. Tangannya segera menjelajah naik ke arah puting payudaraku yang telah bebas. Mbah Bejo dari arah belakang kurasakan sangat bernafsu dengan kedua pantat telanjangku. Dengan buas dia meremas-remas kedua pantat montok itu.
Dodi yang telanjang tidak mampu menyembunyikan betapa terangsangnya dia terhadap diriku. Dalam waktu singkat “pusakanya” yang semula lunglai langsung teracung tegak. Deras sepertinya aliran darah di alat kelaminnya itu sehingga membuat penisnya tegak mengacung.
Sedikit dikangkangkannya kedua belah kakiku, kemudian diletakkannya senjatanya di celah nikmat itu untuk kemudian digesekkannya ritmis.
Mbah Bejo sepertinya tak mau ketinggalan panasnya permainan kami. Cepat dia melepas baju dan celananya hingga bertelanjang bulat. Kini kami bertiga sama-sama polos.
Aku sendiri mulai menikmati apa yang mereka lakukan padaku.
Ledakan Gairah seksualku yang empat hari ini kurang terpuaskan akibat kepergian Mas cakra seolah terobati dengan kehadiran mereka berdua.
Mbah Bejo kembali berkata pada Dodi, “ Dod, sebelum kita mandiin Neng Gaby gimana kalo kita pangkas dulu “hutan lindung” yang ada di bawah? He he udah rimbun tuh. Mbah juga gak seneng “maen” ama cewe yang ada bulunya lebat begini”.
Dodi melepaskan ciumannya langsung menginspeksi vaginaku.
“ Eeiit iya Mbah bener banget. Ini jembut Dodi udah cabutin lho pas di bus waktu itu, gak nyangka udah lebat begini”.
Aku memang tidak pernah mencukur habis rambut yang tumbuh di sekitaran kelaminku. Baik Mas Cakra maupun suamiku lebih menyuakai kalo di “situ” ditumbuhi sejumlah rambut. Kata mereka itu membuatku semakin sexy. Sontak saja keinginan dua pria asing dalam kehidupanku ini membuatku takut. Sebagai bentuk refleks kututupi area genitalku dengan kedua tangan.
“ Jangan Mas Dodi….Mbah tolongin Gaby jangan “rambutnya” Gaby dipotong Mbah…..”. kataku memelas berharap belas kasihan dari kedua makhluk yang telah dimabuk birahi ini.
Mbah Bejo memelukku dari belakang menahan gerakanku.
“Nduk kan kita udah sepakat. Kami gak akan kasar sama kamu sepanjang kamu nurut Nduk. Kamu udah lupa ya??”
Aku menggeleng, masih bergidik ketakutan.
“ Neng percaya aja ya ama Abang Dodi. Abang yang mau nyukurin Neng kok jadi jangan khawatir ya Neng. Percaya deh ama Abang nanti juga Neng sendiri yang bakal keenakan!”
“ Gimana Nduk mau nurut??” . Tanya Mbah Bejo .
Kembali aku mengangguk pasrah patuh dengan segala keinginan “aneh” mereka.
“ Bagus!!! Semakin cantik kamu Nduk kalo nurut ”. Kata Mbah Bejo sambil memegang daguku dari belakang”.
“ ayo kita mulai Mbah!”. Ajak Dodi yang langsung disambut Bejo.
“ Gelar handuk di lantai yang masih kering itu Dod! Kasian Gaby bisa kotor nanti kulitnya!”. Perintah Mbah Bejo.
Dengan tangkas Dodi menghamparkan handuk besar untuk menjadi alas diantara lantai kamar mandi. Mereka berduapun mulai menuntunku untuk rebah disana dalam posisi terlentang.
Mbah Bejo sedari tadi telah menyuruh Dodi untuk mencukur vaginaku. Sedangkan dirinya sendiri lebih memilih memangku kepalaku dengan kedua pahanya.
“ Ckk..ckk.ckk mulusnya Mbah si neng geulis ini”.
Dodi terdengar sangat mengagumi pemandangan vaginaku.
“ Ssst udah gak usah banyak ngomong Dod. Gundulin aja cepetan”. kata Mbah Bejo tidak sabar.
“Mmmm pelan-pelan ya Bang. “ harapku sambil menatap ke arah Dodi yang terlihat sangat bergairah menyaksikan penampilan vaginaku.
“ Udah kamu gak usah mikir apa-apa Nduk kamu oral punya Mbah saja”. kata bandot tua Bejo sambil mengarahkan penisnya ke mulutku.
Dalam posisi terlentang seperti ini kepalaku memang menindih paha Mbah Bejo. Tanpa kusadari penis Mbah Bejo telah ereksi maksimal akibat menyaksikan ketelanjanganku yang begitu menggiurkan.
“ Hush gak adil donk Mbah masak Dodi lagi nyukur Mbah udah dapat jatah”. Dodi memprotes Bejo.
“ Kamu tuh masih muda Dod sabar donk ngalah sama yang tua.”
“ Gak mau ah. Dodi gak mau nyukurin kalo gtu”. Ambek dodi sambil memasang muka sebal.
“ Ya udah deh Mbah ngalah. Dasar anak muda jaman sekarang. Sebentar kamu tunggu disini Mbah ambil bantal dulu buat nyangga kepalanya si Neng. Mbah mau nikmatin bagian tubuhnya yang lain”. Sambil berkata Bejo seger beranjak menuju kamarku untuk mengambil bantal.
“ Nah Nduk cantik kepalamu rebahin aja disini. Kakinya dibuka lebar atuh biar gak kepotong kulitnya. Kamu gak mau “itunya” luka kan?”. Tanya Mbah Bejo.
Aku menggeleng penuh ketakutan segera membuka lebar kedua kakiku.
“ Dod mulai gundulin si Neng!”. perintah Mbah Bejo pada Dodi.
Mendapat instruksi darinya Dodi mulai mencukur kemaluanku.
Dodi sangat sangat telaten. Dia mengambil rambut kewanitaanku yang panjang kemudian diguntingnya dengan gunting pendek yang ada di lemari riasku. Setelahnya diambilnya “shaving cream” yang telah Mbah bejo siapkan kemudian dioleskannya merata keseluruh area genitalku.
Selain telaten Dodi juga sangat nakal. Sambil mengusap cream tidak henti dia berusaha merangsangku dengan gerakan tangannya yang menggoda.
Setelah rambut panjang yang tumbuh disana terpangkas, Dodi mulai menggunakan pisau cukur khusus wanita untuk melakukan “pembersihan” untuk menjadikan vaginaku semakin licin, botak dan bersih.
Sebaliknya Mbah Bejo yang mendapat jatah “ menikmati “ bagian atas tubuhku juga melakukan tugasnya dengan penuh nafsu dan gairah.
Pria tua ini memulainya dengan menyangga kepalaku menggunakan bantal yang diambilnya tadi dari kamar tidurku. Setelah kepalaku tersangga dan tubuhku telah terlentang dengan nyaman Mbah Bejo memulai aksinya. Mula-mula dia mencium bibirku dengan ganas sepeti tidak ada hari esok.
Kemudian kedua tanganya mengambil kedua tanganku dan membawanya ke atas kepalaku. Bandot tua ini sangat mengidolakan ketiakku, bahkan ketika asyik berpagut matanya kuperhatikan selalu mencuri-curi pandang kearah ketiakku yang telah terpampang jelas akibat ulah tangannya . aku sendiri mulai pasrah menyerahkan diriku menjadi bulan-bulanan kedua pria ini.
“ Mbah udah kebabat semua nih hutannya”. Seru Dodi dari bawah sana.
“ Dodi harus ngapain lagi nih Mbah”.
Mbah Bejo melepas ciumannya dibibirku.
“ Udah kamu rasain aja tuh “pepeknya” si Neng geulis, pasti rasanya manis kayak orangnya”.
Sebelum aku sempat memprotesnya Bejo kembali menciumku dengan ganas. Kurasakan dari bawah kedua kakiku telah dikangkangkan maksimal oleh Dodi. Terasa getaran nafasnya yang mulai berputar-putar di area itu.
Mas Cakra ataupun suamiku telah menyetubuhikau berulang kali, namun aku belum pernah merasakan daerah sensitifku itu begitu “semriwing” ketika ditiup oleh nafas Dodi. Apa mungkin ini karena rambut yang semula melindungi organ intim itu telah digunduli oleh Dodi??.
“ He he Neng siap-siap ya punya Neng yang udah licin ini mau Abang “poles” rasain ya ada bedanya atau nggak sama waktu ada rambutnya..”, Dodi mulai menjilati vaginaku .
“Uuuuuuuuugggghhh”. Aku tersontak mendesah dengan serangannya dari bawah tubuhku.
Begitu nikmat kurasakan seperti cetar membahana. Permukaan lidah Dodi bersentuhan langsung dengan permukaan sensitive liang vaginaku tanpa penghalang apapun. Sensasinya yang ditimbulkannya sangat luar biasa. Rasanya aliran darah yang semula mengalir ke seluruh bagian tubuh tiba-tiba beralih untuk terpusat mengaliri zona nikmatku.
“ ooooouuuughhhhhhh”. Aku mulai mendesah sambil memejamkan mata mulai tidak kuat menahan desakan nikmat dari arah sana.
“ He he Dod si Neng udah keenakan banget tuh kayaknya wajahnya udah merah padam”. ujar Bejo sambil melepas ciumannya dari bibirku.
“ Aaggghh..oooohhh…masssss…”. Aku mulai bisa berdesah lepas setelah Bejo melepas kulumannya dari bibirku.
“ Tetekmu ini Nduk udah “ngaceng” kenceng banget”. Mbah Bejo dengan nakal mulai menjamah payudaraku yang memang telah ereksi akibat seni oral tingkat tinggi yang diberikan Dodi kepadaku.
Sambil meremas tetekku Mbah Bejo mulai memijat susuku itu seperti seorang peternak yang ingin memerah susu sapi. Dari pinggir dia urut permukaan montok payudaraku, kemudian dengan penuh imaginasi dia arahkan urutan itu perlahan seperti ingin mengeluarkan air susu.
Sensasi yang timbul akibat ulah Pria tua ini semakin membuatku lupa daratan.
Serangan dari dua arah yang dilakukan oleh dua pria dengan kemampuan tinggi ini membuatku semakin pasrah kehilangan kesadaran. Kuremas bantal yang menyangga kepalaku. Desakan kenikmatan yang mulai menuntut dilepaskan membuatku semakin lepas mendesah untuk menyalurkan kenikmatan syahwat.
“ Aaaaaaaah Masss……Uhhhhhhhh Mbahhhh…Aaaaah”. Berulang-ulang aku mendesah hebat untuk mengeluarkan kenikmatan yang masih tertahan.
“ Ouuughh Mbbbaahhh apa yang Mbahh laku….Ouuughhh”. Aku kembali histeris setelah Bejo mulai menghisap putingku dengan penuh penghayatan. Selepas memijat payudaraku seolah ingin mendapatkan susunya, kini Mbah Bejo memperlakukan payudara sexyku dengan begitu menggoda. Dihisapnya dalam-dalam putingku kemudian dibiarkan lidahnya menari-nari dipermukaannya yang telah tegang untuk kemudian diakhiri dengan gigitan yang langsung membuatku menjerit.
“Auuuuuuuuggghhh……Ouuuugggghhhh”. Aku memekik kencang.
Segala perlakuan nakal kedua pria ini benar-benar membawaku ke awang-awang. Sangat nikmat.
Sambil bergantian menyedot payudaraku yang kiri maupun kanan tangan Bejo kini bergeriliya menjarah ketiak putih sexyku yang merupakan kebanggaan Mas cakra. Diolesnya ketiak itu dengan kedua tanggannya untuk semakin menambah titik rangsang ditubuhku.
Bagaimana dengan Dodi??.
Ough jangan tanyakan lagi bagaimana lihainya dia bermain di bawah sana. Bibir vaginaku terus dihisap maupun dijilatinya dengan bersemangat. Dodi seperti sangat mengetahui mana bagian paling sensitive di harta karun kenikmatanku itu. Tangannya terus menjepit area intimku untuk memunculkan klitoris yang tersembunyi. Digunakannya telunjuk dan jari tengahnya untuk menekan pelan area intimku secara intens. Dodi sudah berpengalaman “mengerjai” wanita.
Dia nantikan munculnya titik kecil yang akan memicu ledakan orgasmeku itu dengan sabar. Terus dia berikan stimulasi-stimulasi rangsangan yang luar biasa dengan telaten. Tangannya yang lain ikut membantu dengan mempermainkan paha putihku bahkan bongkaha pantat hingga lubang analku.
Derasnya serangan yang dilakukan secara intens ke arah dua titik tubuhku ini memang segera memunculkan si kecil mungil klitoris yang ditunggu-tunggu. Titik kecil itu mulai terlihat menonjol dari celah atas vaginaku menegaskan betapa aku telah terangsang hebat. Dodi yang telah melihatnya muncul menatapnya berbinar.
“ He..He Neng cantik siap-siaap terbang ya…”. Ujarnya singkat langsung menyerbu klitoris yang telah memerah itu.
“OUuugggggghhhh…..”. Aku mulai sulit bernafas menandakan detik-detik orgasmeku semakin dekat. Mbah Bejo sangat menyadari hal ini. Hisapannya di payudaraku mulai berpindah kea rah ketiakku. Kejadian di bus kota tadi sore seolah menyadarkannnya bagaimana rangsangan di ketiakku dapat membuatku orgasme dalam waktu singkat. Mulai dijilatinya dengan ganas lembah-lembah ketiakku bersamaan dengan jilatan liar Dodi terhadap klitorisku.
“Mbaaaah……..Doddii……Gaby mau nyampe………”.
Demikian racauku sebelum orgasme itu meledak membuatku mengalami “ekstase” luar biasa.
Aku kembali merasakan Orgasme hebat semua berawal dari rasa “fly” dalam pikiranku. Seluruh beban kehidupan seolah terangkat hilang sama sekali. Rasa fly yang timbul kemudian berpadu dengan kepasrahan tubuhku dalam menyambut nyanyian kenikmatan.
“OOOuuuggghhh”. Pantatku terangkat tinggi untuk melepaskan ledakan yang timbul dari bawah.
“Huuuggggghhhh”. Tubuh atasku melenting tak beraturan akibat setruman orgasme hebat yang berturut-turut datang,
Ledakan kenikmatan yang datang membuat tubuhku terbujur kaku berusaha menyalurkan semua gelombang orgasme yang datang.
Tidak ada suara yang dapat kukeluarkan. Lidahku seperti tercekat kelu tidak mampu mendesahkan suara apapun. Yang ada hanya gerakan penuh kenikmatan yang dapat kupertontonkan kepada kedua orang asing ini. Entah karena pelajaran yang telah kuterima dari Mas Cakra sebelumnya, atau karena libido seksualku yang memang tinggi aku menyerah pasrah kepada mereka.
Mereka baru mengenalku beberapa jam yang lalu. Namun dosa yang telah kulakukan sebelumya dengan memamerkan tubuhku di tempat umum telah membuatku demikian pasrah kepada mereka.
Kubiarkan mereka menyaksikanku tenggelam dalam nikmatnya hysteria kenikmatan. Mbah Bejo ataupun Dodi pasti sangat menikmati wajahku yang semula cantik meraung-raung binal.
“ Haggggh Ahhhhhhhhhh”.
Raungku keras setelah mampu mendapatkan nafasku kembali. Kegelian teramat sangat mulai kurasakan dari arah vagina. Keberadaan Mbah Bejo yang mengunci kedua tanganku keatas membuatku hanya mampu berusaha menyilangkan kakiku sebagai bentuk permintaan kepada Dodi untuk menghentikan jilatannya.
Namun janji Dodi ketika turun dari bus memang mulai terbukti. Mereka berdua ingin mengeluarkan seluruh cairan kenikmatanku sampai habis. Dodi dengan tenaganya yang kuat kembali menjepit kedua pahaku dan membawanya untuk kembali mengangkang lebar. Dijilatinya kembali bagian itu dengan kecepatan yang semakin bertambah cepat.
“ Amppuuuun…ammppppuuun….Ouuuugggghh”
Aku kembali orgasme hebat dengan serangan mereka yang luar biasa. Nikmat sekali rasanya mendapat semua perlakuan ini. Mereka membawaku dengan begitu mahir sampai ke ambang tertinggi kenikmatan seksual.
Mereka terus memperlakukanku dengan begitu mahir hingga aku mengalami rangkaian orgasme berkelanjutan.
mereka baru berhenti saat menyadari aku sudah benar-benar tidak berdaya kehabisan nafas dan cairan.
“ Hahhh….hahhhh…hahhh…Amm..punnnn”.
Kataku sambil memejamkan mata akibat badai orgasme yang baru saja mereka sajikan kepadaku dengan permainan oral mereka yang luar biasa.
Mbah Bejo dan Dodi betul-betul menjadi pakar seksual bagiku. Mereka tidak serta merta meninggalkanku pasca momen “special” ini.
Mereka memelukku dan memberikan ciuman-ciuman menenangkan pada sejumlah bagian tubuhku. Mbah Bejo yang berada diatasku memelekku erat sambil mencium bibirku. Sedang si anak muda Dodi dengan penuh kasih sayang merapatkan kedua celah kakiku yang masih sangat sensitive itu dan memberikan ciuman penenang diantara area perbatasan vagina yang telah gundul dan pusar.
Mereka terus memeluku seperti mereka berdua sangat sayang kepadaku. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka berdua berniat jahat akan memperkosaku.
Perilaku baik dan santun mereka ini, semakin membuatku pasrah keteka mereka mulai membantuku berdiri dari lantai dan mulai memandikanku. Bagai permaisuri aku dimandikan oleh mereka berdua. Mereka betul-betul menyadari kelelahanku pasca orgasme dan mengambil inisiatif untuk memberiku siraman dan usapan hangat pada seluruh bagian tubuhku.
Semua ritual mandi mereka lakukan sampai menghanduki tubuhku yang basah kuyup karena air. Dengan handuk yang terbalut Bejo menyuruh Dodi untuk menggendongku dan membawaku ke ruang utama.
Di ruang utama itu rupanya mereka telah menyiapkan kejutan lain yang lebih nikmat untukku….

Seperti pengantin baru Dodi menggendongku menuju ke ruang utama rumahku.
Pengalaman orgasme “sejati” yang baru saja kualami benar-benar membuatku kelelahan. Kenikmatan yang berujung pelepasan sejumlah cairan ini ibarat berlari marathon 10 km jauhnya. Aku bahkan sangat kesulitan untuk berdiri tegak karena lututku yang begitu gemetar.
“ Mbah, Si Neng paling hobi mempertontonkan kesexyan tubuhnya ya, gimana kalo ronde berikutnya kita main di halaman belakang saja? Neng Gaby pasti suka”
“ jangan….jangan Mas……Aku malu mas..”. Segera aku menggeleng untuk menghentikan niatan dari Dodi untuk mengajak kami main “out door” di halaman belakang rumahku..
“ Boleh Dod, tapi kasian si Neng udah mandi gitu masa main kotor-kotoran lagi. Udah kita main di ruang utama ini saja. Tapi….”.
“ Tapi apa Mbah?”.
“ Pintu ama jendela rumah ini kita buka semua saja biar tambah “semriwing” permainan kita he he”.
“ Lho jangan donk Mbahh gimana kalo ada yang ngeliat nantinya??”. Kataku memelas mengharapkan Mbah Bejo mengurungkan niatnya.
“ Ha ha gak apa Neng itung-itung Neng kasih “hiburan gratis” untuk mereka”.
Dengan lemas aku kembali merinding membayangkan skenario yang telah mereka siapkan.
“ Memang Mbah ini bener-bener tinggi ilmunya. Iya Dodi sepakat sama Mbah kita main dengan “pintu terbuka” saja he he”.
Sehabis mengatakan itu Dodi segera membaringkanku di kursi dan beranjak membuka pintu dan dua jendela di ruang tamu itu.
Aku masih sangat lemas. Namun membayangkan sensasi yang akan timbul ketika berhubungan badan dengan “kemungkinan” dilihat oleh orang lain membangkitkan gairahku. Sifat Ekshibisionis dalam diriku tampaknya betul-betul parah.
Setelah semua pintu dan jendela terbuka, angin malam mulai berhembus masuk menerpa kulit kami bertiga yang masih bertelanjang bulat.
Mungkin hanya diriku yang masih cukup merasa hangat karena berbalut handuk.
“ Mbah kayaknya lebih seru mainnya kalo kita “dandanin” dulu nih Neng Gaby. Jangan polos gini aja.”
“ Iya Dod di kamar tadi Mbah liat si Neng banyak ngoleksi baju-baju sexy. Coba kamu cari ke dalem ambil yang kamu suka. Biar si Neng istirahat aja dulu disini sama Mbah!”.
Dodi terlihat sangat bersemangat memasuki kamarku untuk mengambil pakaian sexy. Hubungan gelapku sama Mas Cakra telah merubahku menjadi seorang kolektor pakaian-pakaian sexy. Dodi pasti bingung memilih baju mana yang harus kukenakan.
“ Ayo Neng mumpung si Dodi lagi di kamar, Mbah minta jatah duluan ya he he he”.
Mbah Bejo benar-benar tidak mau melewatkan kesempatan untuk menikmati tubuhku. Kepergian Dodi yang sebentar rupanya masih saja berusaha dimanfaatkan olehnya.
“ Mbah belum kebagian liat “punya” Neng yang bawah. Sekarang giliran Mbah ya”
Bejo mendorongku perlahan untuk segera terlentang dan menyingkirkan handuk yang membelit tubuhku.
“ Ck…ck…ck… Neng cantik memang indah bener punya Neng. Warnanya merah merona Neng ini nunjukkin kalo Neng lagi horny he he. Apalagi kalo udah “bersih” gini wahhh Mbah tambah “ngaceng”.
Bejo tersenyum nakal. Aku malu melihat tatapan mesumnya dan memutuskan untuk mengangkat tanganku ke atas untuk menutup mataku.
Kurasakan dari “bawah” Bejo mulai menggosok-gosok organ intimku dengan kedua tangannya.
“ ini buat pemanasan aja Neng. Mbah mau mijitin bagian Neng yang udah “gundul” ini!”.
Dengan perlahan Bejo mulai memijit area itu. Sepertinya profesi bapak tua ini memang tukang urut atau tukang pijit. Dia begitu mahir. Proses memijatnya begitu lembut dan perlahan.
Sebagai ahli pijit dia tidak langsung “menyosor” vaginaku” tapi perlahan-lahan dijamahnya mulai dari area pusar dan perut bawah, kemudian menyisir seluruh permukaan pahaku..
“ Dah relax aja Neng. Ada banya aliran darah yang kurang lancar nih”. Suruh Mbah Bejo kepadaku.
“ Mbah…Mbah aku udah dapet baju yang sexy nih..hee …Lho Mbah lagi ngapaian? kok Dodi gak diajak….”. Ujar Dodi dengan nada kecewa.
“ Hussh udah kamu tunggu aja duduk disana liatin nih kemampuan Mbah mijet mumpung “anunya” si Neng udah bersih gampang dipijetnya. Nanti juga kamu crot duluan. Coba kamu bantu cariin di kamarnya si Neng ada minyak gosok yang wangi gak!”
Dodi segera beranjak ke kamar dan kembali dengan minyak gosok milikku yang cukup harum di tangannya. Diserahkannya minyak gosok itu kepada laki-laki tua yang tengah bersiap memijatku. Dengan sikap seperti layaknya pemijat professional Mbah Bejo mulai memijatku.
Beliau benar-benar mahir. Dengan kedua tangannya dia seolah mampu merasakan seluruh aliran darah, urat, atau persendian yang ada di tubuhku. Dipijatnya dengan tekanan yang berubah-ubah.
Setelah melumuri seluruh betis dan tulang keringku dibawanya kedua kakiu ke atas hingga kini tubuhku membentuk sudut 90 derajat. Kemudian mulai ditekuknya kakiku hingga bibir lututku menempel di perutku. Dipjatnya bagian paha belakang sambil mengurut-urut pelan. Setelahnya kakiku kembali diturunkan dan ia beranjak ke bagian atas tubuhku. Dipijatnya bahuku dengan kekuatan yang pas. Kemudian diangkatnya kedua tanganku dilanjutkan memijat otot-otot tangan.
Sangat sabar dia mengurut-urut lenganku sampai ke ketiak.
Pada area ketiakku dia cukup lama memberikan pijatan. Mungkin sebagai pemijat piawai Mbah Bejo dapat mengetahui bahwa ketiak adalah zona erotisku. Dengan diurut sedemikian rupa aku sendiri merasakan kemunculan kembali syahwatku yang semula telah habis terkuras di kamar mandi.
Dari ketiak dia kembali mengurut payudarakau seperti yang dilakukannya sebelumnya. Dia urut bukit kembarku itu seakan hendak mengeluarkan air susu dari dalam kulitnya. Lama juga dia memelintir-mlintir payudaraku dengan teknik yang sangat lihai.
Diperlakukan seperti ini “gairahku” kembali bangkit dan nafasku mulai tak beraturan.
“Huuuff….huuuuuuff”.
Demikian bunyi nafasku sambil berusaha menahan gejolak syahwat yang mulai bangkit.
Saat jari tengah dan telunjuknya mulai menjepit putingku aku langsung mengalami “orgasme kecil” yang untungnya masih dapat kusembunyikan.
Sedikit kubuka kakiku untuk menyalurkan energy orgasme kecil tadi.
Mungkin hanya Mbah Bejolah yang menyadari hal ini. Aku mengetahuinya sebab pijatannya langsung beralih ke bagian bawah pusarku dan menekan wilayah itu seperti membantu proses “pengeluaran cairan”.
Menyadari orgasmeku sudah lewat kembali dia pijat zona itu kali ini dengan lebih “berani”. Tangannya secara rutin kini telah “mengobok-obok” vaginaku.
“ NIhhh…Neng kuranng lancar dikit darahnya di daerah sini. Neng pasti kebanyakan makan yang berlemak akhir-akhir ini”. Katanya sambil memijat perbatasan vagina dan pusarku.
Aku meresponnya dengan mengangkat tanganku yang menghalangi mata dan mulai kulihat Mbah Bejo yang sedang asyik memijat.
Mbah bejo kembali memijat dengan intens daerah itu.
“ Nah udah mulai lancar. Neng bentar lagi kalo daerah ini udah “plong” Neng bisa “ngecrit” lho….”.
Bejo mengatakan sesuatu yang mengingatkanku pada peristiwa di sawah.
“ Masak cewe bisa ngecrot sih Mbah??”. Tanya Dodi tiba-tiba nimbrung dengan penasaran.
“ Kamu anak muda taunya “ngentot” doank sih. Masuk cabut ngecrot gitu doank gak ada seninya. Nih liat ilmunya Mbah bisa buat Neng cantik ini Ngecrit kayak kencing. Untung kamu “nyukurnya“ bersih tadi Dod Mbah jadi gampang mijitnya”.
Tangan kanan Mbah Bejo mulai berusaha menyeruak masuk ke liang vaginaku, sementara tangan kirinya menekan area atas vaginaku. Diambilnya lotion gosokku lebih banyak dari sebelumnya kemudian dilumurinya vaginaku sampe becek dengan cairan lotion.
Sampai titik ini aku tidak tau apa yang akan diperbuatnya lebih jauh.
Kemudian secara perlahan tangan kanannya mulai membuka celah sempit yang menutupi liang senggamaku. Lama dibukanya kemudian dikatupkannya lagi sambil kadang-kadang memainkan jarinya di jalur lurus area itu sambil menyibakkan kulit luar itilku.
Dengan sangat perlahan sekali dengan jari tangan yang sudah sangat licin, dibantu cairan sisa orgasme kecilku, Bejo memasukkan jari tengah dan kelingkingnya masuk ke dalam liang kenikmatanku.
“ Uuuugghh Mbahhh”. Aku mulai mendesah.
Dimasukkannya sedikit saja dalam liang itilku kedua jari itu.
Lama dia memasukkannya dalam posisi lurus, sebelum jarinya mulai ditekuk ke atas menggesek-gesek dinding atas vagina seolah mencari-cari sesuatu.
“ Mmmm….uuuh….mmmmmm”.
Aku mulai tak sanggup menahan gejolak syahwat..
Tangan kiri Mbah Bejo yang sedari tadi membantu menekan perutku rupanya sangat membantu memunculkan “sesuatu” yang terletak di atas dinding vagina. Dengan “feeling” yang sangat tajam Mbah Bejo dapat merasakan timbulnya gundukan daging berukuran sebiji kacang merah itu dari atas dinding vaginaku.
Setelah mampu “merasakannya” Mbah Bejo menyerang secara terfokus khusus ke bagian itu.
Kedua jemarinya bergerak naik turun untuk memberi rangsangan pijatan.
Tangan kiri Mbah Bejo tidak beranjak tetap kokoh menekan perut bawahku. Jepitan serbuan tangan Mbah Bejo dari atas dan bawah menghadirkan “sensasi” yang berbeda pada diriku.
“ Dod kamu jangan bengong! Cepat pegangin tangannya Neng Gaby biar gak berontak. Sebentar lagi si Neng pasti ngecrit..”
Dodi yang mendengar perintah itu segera bergerak cepat untuk menangkap tanganku ke atas untuk kemudian ditahannya dengan kekuatan ototnya.
Aku sendiri suudah seperti cacing kepanasan terus bergerak liar penuh gejolak kenikmatan yang siap meletup kapan saja.
Jepitan Mbah Bejo di sekitaran titik kecil yang nantinya kuketahui benama “G-Spot” ini bukan hanya membawaku ke langit ketujuh namun juga menghadirkan perasaan ingin kencing di dalam rahimku.
Sebenarnya ini bukanlah pengalaman baru, peristiwa di sawah yang lalu ketika aku asyik bermastrubasi di alam terbuka juga mengeluarkan cairan yang keluar dari alat kelaminku. Namun pijatan “professional” Mbah Bejo benar-benar mendesak cairan itu untuk keluar dengan lebih hebat lagi.
“ Mbahh..uughh…Mbahh..Gaby gak kuat ingin pipis Mbah…..tolong hentikan Mbah…”.
Rengekku kepada Mbah Bejo.
“ Udah Neng lepasin aja. Mbah seneng kok “dikencingin” ama Neng ayo keluarin. Apalagi memeknya udah licin gini Mbah bisa lebih jelas lagi ngeliat Neng kencing!!”.
Mbah Bejo terus mengocokku dengan kecepatan yang semakin bertambah. Desakan orgasme membuatku semakin histeris dan liar namun jepitan tangan Dodi yang memegang tanganku menahanku.
Aku terus bergerak sensual tak terkendali. Kepalaku menggeleng histeris seperti baru saja menenggak obat gedek.
“ Mbahhh…Mbahhh…Gaby mauu……pipis.”
“ Ayo Neng moncrotin aja ..ayo moncrotin….”
Dengan gerakan jari tangan kanan yang begitu cepat diiring tekanan dari tangan kirinya Mbah Bejo secara tiba-tiba mencabut jarinya tepat ketika vaginaku mengempot begitu kencang.
“ Plooop”. Bunyi jari yang dicabut dari vagina
Kaget diriku mendapati Mbah Bejo tiba-tiba melepaskan jarinya.
Kutengadahkan kepalaku untuk melihat apa yang terjadi “dibawah” sana.
Pemandangan air yang memancar dari lubang kencingku menjadi pemandangan terakhir yang kulihat. Air itu tidak terlalu banyak. mungin itulah yang membuat Mbah Bejo menyebutnya “ngecrit”.
Warnanya bening agak mirip air seni namun tidak berbau dan yang paling membedakan.. rasanya. Ketika aku mengeluarkan air seni tidak pernah melibatkan ledakan kenikmatan yang seperti ini. Namun yang sekarang kualami begitu..”cetar membahana”.
Dalam waktu sepersekian detik setelah melihat “ngecritnya” air dari vaginaku hantaman orgasme dan ejakulasi langsung menerjangku dengan “brutal”.
Kepalaku langsung sontak tegang dengan mata nanar tidak mampu menahan sensasi ejakulasi yang timbul. Badanku melonjak-lonjak histeris kehilangan kesadaran. Ya aku tidak sadar. Untuk sesaat aku seperti “fly” terbang mengawang-awang di tengah hamburan bintang-bintang.
Rasanya yang kulihat hanya kunang-kunang berbentuk hamburan cairan syahwat nikmat.
“ Critt….Critttt….Criiit…Crittt…Criit…”
“ ouuugghhh.. ouugghhhhhh…….aggghhhhh…aggghhhhh”.
Aku terus mengerang tidak tahan dengan luncuran cairan yang datang bertubi-tubi.
Mbah Bejo begitu lihai menguras habis seluruh cairan ini.
Dalam keadaan terus mengeluarkan cairan aku tidak sanggup menahan desakan getaran seluruh badanku yang meminta terus bergetar. Getaran ini benar-benar menghilangkan kesadaranku.
“ Wuuiiiih Mbah hebat benerrr si Neng jadi kelejotan merem melek gini..liat geter trus nih Mbah badannya..”. ujar Dodi penuh ketakjuban
“ Iya Dod..si Neng ini wanita sehat yang “hypersex”. Kamu liat betapa banyaknya cairannya yang keluar. Hanya wanita yang “hyper” yang bisa begini. Nih Mbah bantu lagi biar keluar semua cairannya. Ayo Neng kencing lagi..kencingin Mbah Neng..ayooo lagii”
“ Ooouugh Mbahhh janggannn…Aaaahhhhhhh”.
Kembali Bejo mencelupkan kedua jarinya masuk ke vaginaku yang masih begitu sempit seperti punyanya para gadis remaja.
Diulanginya lagi ritual sebelumnya dengan mengocok jarinya ke atas dinding dalam itilku.
Déjà vu.
Setelah dirasakannya rongga rahimku seperti hendak meledak dicabutnya keluar jari itu untuk meninggalkanku dalam raungan histeris.
“Ouuuuugghhh…Oooo myyyy Goooooddd…Ahhhhhh…”.
“ Ouuuggghhhh Gaby pipiiissss lagiii Mbahhhhh………”
“ Crit….crit…..criiit…….”.
Cairan ejakulasiku kembali tumpah ruah bersamaan dengan tersetrumnya badanku melonjak-lonjak dalam pegangan Dodi. Pandangan mataku sudah buram bahkan aku sudah tidak mampu melihat dunia ini lagi.
“ougggghhh…ahhhhhhh……..ammmmpuuuuun”
Aku terus berteriak memuntahkan cairan secara berturut-turut selama 3 menitan.
Tubuhku bergetar demikian hebat mendapatkan rasa nikmat seperti ini.
Mbah Bejo yang tau benar apa yang “sebenarnya” menimpaku kemudian berusaha menekuk kakiku menuju perut untuk membantu “ meredakan” badai yang terus bergelombang datang menghantamku.
“ Ayo Neng ambil nafas lewat hidung buang lewat mulut..ayo ikutin Mbah biar “reda” ejakulasi Neng”
Kuikuti nasihatnya dan terasa sangat membantu.
Lambat namun pasti ledakan itu mulai surut meninggalkan tubuhku yang betul-betul kelelahan dengan nafas yang sangat terengah-engah.
“ Peluk si Neng Dod kasian!”. Kembali Bejo member perintah kepada Dodi.
Seperti anak yang patuh Dodi melaksanakan perintahnya dan mulai memeluk tubuhku.
Pelukan hangat dari Dodi ditambah pegangan tangan Bejo yang membantu kakiku menekuk benar-benar membuatku nyaman.
Rasanya badai orgasme plus ejakulasi yang baru saja menghantamku berangsur reda dinetralkan oleh bantuan mereka.
“hhoshhh…hhosssh…hhoshhhh..uuuh.uuuhh”. Desahku sedikit ngilu
Nafasku tak beraturan cukup lama mungkin inilah pengalaman “orgasme yang sejat”i.
Rasanya begitu “Cetar membahana” tak terlukiskan.
Ledakannya membuat semua saraf dari ujung rambut hingga ujung kaki bergetar begitu cetar. Mungkin hanya pengalaman seksualku dengan Mas Cakra yang dapat mendatangkan kenikmatan yang sama.
Mbah Bejo dan Dodi begitu telaten menunggu badai nikmatku berlalu.
Setelah mereka yakin bahwa orgasmeku telah reda barulah Mbah Bejo melepaskan genggamannya di pahaku.
Diluruskannya kembali kakiku menyentuh kursi.
“ Wanita hyper si Neng. Suamimu pasti puas banget sama kamu Neng. Tipe wanita yang mudah meraih orgasme lagi lagi dan lagi….”. Sedikit analisa Bejo terhadapku.
“ sekarang giliranmu Dod masukin barangmu yang udah “ngaceng” berat itu ke “memeknya” si Neng yang udah becek banget itu..”. tiba-tiba Mbah Bejo memberi perintah pada Dodi
“ Wah yakin Mbah Dodi yang dapet kesemapatan pertama???”
“ Iya Mbah udah tua harus ngalah sama yang muda. Tuh Mbah udah buat Si Neng siap. Ejakulais tadi bikin “itilnya” siap dimasukin. Nanti kamu rasain sendiri betapa nikmatnya “diempot-empot” sama itil yang abis ejakulasi”.
mendengar itu aku berusaha berontak
“ Mbah jangan dulu Gaby masih cape. Kasih kesempatan Gaby istirahat dulu..masih geli banget “itunya” Gaby Mbah..”
“ ha ha Neng harus patuh ya percaya ama Mbah Neng nanti pasti ngerasa lebiiih nikmat. Mumpung masih”ngempot” Neng”
“ jangan Mbah Gaby masih cape …masih geli bangettt.”.
Ketika Dodi memaksa membuka kakiku, dengan sisa tenaga yang tersisa berusaha kulawan dia.
Sisa-sisa orgasme yang masih tersisa memang membuat bagian “itu” jadi terlalu sensitive, masih belun siap untuk di penetrasi.
Aku kembali melawan.
“ Mbah si Neng berontak nih bantu pegangin donk!”.
Kata Dodi sambil memaksa membuka kakiku.
Perasaan sensitive dan geli yang berasal dari vagina membuatku wajib melawan mereka. Belum siap liang vagina ini untuk ditembus batang tegak milik Dodi. Berusaha aku berontak dengan menendang-nendang dan memukul-mukul ke arah mereka.
“ jangan Mbah…jangan Mas…”
“ Udah Nduk kamu jangann……”
( Tiba-tiba)
DOR………. DOR……… DOR (suara tembakan peluru)
Terkejut aku dengan apa yang terjadi.
Tiba-tiba saja Dodi sudah roboh sambil bersimbah darah mengerang-ngerang memegang kakinya.
Dia tertembak.
Mbah Bejo juga langsung menjerit-jerit sambil terkapar di lantai. Sepertinya dia juga terserempet peluru yang dilepaskan.
Dari pintu dan jendela yang tak tertutup tadi samar kulihat beberapa pria berbadan tegap berhamburan untuk menyerbu kedua pria ini.
“ Tangkap kedua bandit pemerkosa ini! Ambilkan selimut untuk menutupi Nona ini!”.
Itulah samar-samar perintah yang kudengar dari seseorang yang sepertinya merupakan Komandan dari para pria “penyerbu” ini.
Dalam waktu singkat mereka berhasil meringkus untuk kemudian menggelandang kedua pria itu.
“Para laki-laki yang baru muncul ini pasti Polisi”. batinku.
Terbit rasa kasian di hatiku melihat Mbah Bejo dan Dodi harus tertembus peluru seperti itu. Namun apa dayaku mereka memang berniat memperkosa.
Setelah kedua pria itu dimasukkan ke mobil tahanan . Para aparat ini kemudian menyelimutiku dan segera melarikanku ke rumah sakit.

************************************************** ***************

“ Jadi begitulah yang terjadi Tri. Selepas kejadian itu para Polisi mulai menanyaiku perihal hubungan kedua pria tadi dengan Cakra. Tentu saja aku terus menyangkal keterkaitan mereka karena faktanya mereka memang bahkan tidak saling kenal.”
( Tantri mulai mengerti dengan keseluhan jalinan kisah ini dan berusaha memberikan pendapatnya)
“ Dua orang itu memang tidak ada kaitannya dengan Cakra Mbak. Tapi menurut Tantri mereka memang harus ditangkap. Kalo saja Anggota Polisi tidak segera menghentikannya Mbak bisa saja benar-benar diperkosa.”
“ Kamu bener Tri. Andai saja mereka tidak membawaku ke puncak-puncak kenikmatan yang begitu hebat aku pasti mengutuk mereka”. Kata Gaby seolah masih bimbang dengan penilaiannya terhadap mereka.
“ Udah Mbak cantik Jangan sesali nasib mereka yang tertembak itu. Biarkan mereka merasakan akibat perbuatan bejatnya.”. Tantri bangkit untuk memberikan pelukan hangat ke arah Gaby.
“ iya Tri makasih banyak ya udah mau mendengar cerita Mbak”.
Lama Tantri masih menghibur Gaby dan menguatkannya terhadap peristiwa yang baru saja dialaminya. Sebagai anggota Polisi Wanita penilaiannya terhadap kedua bandit itu sudah jelas. Mereka pemerkosa titik.
Terlepas dari Gaby menikmati apa yang menimpanya itu hanyalah efek samping dari tindakan pemerkosaan yang harus diteliti lebih jauh.
Waktu yang semakin beranjak malam menjadi alasan Tantri untuk berpamitan kepada Gaby.
Seorang wanita cantik yang ceritanya banyak memberinya pelajaran. Figure yang cantik ,sexy, cerdas, awalnya alim namun mempunyai sejuta “keliaran” dalam dirinya.
Masih terngiang dalam ingatan pesannya di dalam rumah sakit tadi :
“ Tantri tolong Mbak ya kasih pesen kepada Polisi yang ada diluar ucapan terima kasih Mbak karena telah menyelamatkan jiwa Mbak. MINTA MEREKA UNTUK SELALU MENGHORMATI DAN MELINDUNGI WANITA DIMANAPUN MEREKA BERADA.”
“Gaby..Gaby.. Tantri pasti tidak akan melupakan ceritamu.”
( Tantri mulai bersiap memacu motornya untuk menuju ke markas besar)
Tribute to Gaby tamat…



=============

Setelah berhasil menggali informasi yang cukup dalam dari Gaby. Aku segera melapor kepada Komandanku Pak Hendri mengenai segala hal yang kuperoleh.
“ Gimana Tri, sudah kamu wawancara saudari Gaby?”.
“ Siap sudah Komandan”.
“ Gimana hasilnya Tri?”.
“ Mohon ijin Komandan, setelah mendengar dengan seksama informasi dari Saudari Gaby, kami dapat menarik tiga kesimpulan…”.
“ Bagus Tri hebat kamu, sebentar Bapak ambil catatan dulu, mana pulpen Bapak itu..Ah ini dia..silakan Tri bagaimana kesimpulanmu?”.
“ Ada tiga kesimpulan Komandan yang pertama Gaby tidak tau dimana keberadaan Cakra. Kesimpulan berikutnya kedua orang itu tidak ada hubungannya dengan Cakra. Yang ketiga tindak pemerkosaan ini murni dilatarbelakangi masalah “nafsu birahi” kedua tersangka dan tidak ada kaitannya dengan motif dendam”.
“ Sebentar Tri! Darimana kamu bisa menyimpulkan bahwa Gaby tidak tau mengenai Cakra?”.
Harus kujawab pertanyaan Pak Hendri dengan menjelaskan dari awal detail kisah Gaby seperti yang dituturkannya kepadaku. Kepada Komandan kuterangkan bahwa Gaby sebenarnya adalah sosok istri yang “terjebak” dalam permainan Cakra. Juga kujelaskan mengenai keterlibatan kedua pemerkosa yang sebenarnya mengejar Gaby karena “kelakuannya” sendiri. Terakhir sedikit kutambahkan pendapatku sendiri mengenai dimana kira-kira keberadaan Cakra.
Dari informasi sekilas yang kudengar dari Gaby, Cakra sering menceritakan aktifitasnya untuk “menjarah” truk di sebuah kawasan tertentu. Seringnya nama kawasan ini dikatakan oleh Gaby tentu membuatku dapat menarik kesimpulan.
“ Jadi menurutmu kawanan Cakra akan beroperasi disana Tri?”
“ Siap komandan, naluri Tantri mengatakan demikian”.
“ Ya sudah kami akan mengadakan operasi besok malam di kawasan itu. Terima kasih atas informasimu Brigadir Tantri. Semoga nalurimu benar. Sekarang istirahatlah! Kamu terlihat sangat lelah”.
“ Siap Komandan, Brigadir Tantri mohon ijin kembali ke kediaman!”.
“ Silakan Tri! Hati-hati di jalan”.
“ Siap terima kasih Komandan”.
Akhirnya hari yang panjang ini berakhir juga. Seharian aku mendengar curhatan Gaby dan itu sangat melelahkan. Rasanya aroma bantal dan kasur asrama begitu kurindukan. Pekerjaan sebagai aparat menuntutku mejadikan tugas dan tanggung jawab pada pekerjaan sebagai prioritas.
Lantas bagaimana dengan hubungan asmaraku?. Bukankah sebagai wanita normal aku juga berhak untk mencintai dan dicintai oleh seseorang?. Sejuta pertanyaan seputaran “ masalah hati” tiba-tiba hadir dalam pikiranku. Ahh bagaimana kabar Alex ya? Seharian ini aku tidak mendengar kabar darinya. Ups bukankah itu salahku sendiri yang tidak membuka handphone seharian ini akibat permasalahan Gaby.
Segera kuambil ponsel yang masih dalam keadaan mati untuk kuhidupkan. Bunyi tanda pesan yang begitu banyak mendadak bermunculan setelah hand phone itu menyala, menandakan banyak sekali orang yang berusaha menghubungiku seharian tadi. Kubaca sekilas, ada dari Sinta, dari PakBurhan mau apa lagi pria cabul ini, ada dari teman Polwanku yang lain, dan ini dia yang kutunggu Alex..”. segera kubuka rentetan sms darinya.
“ HALO MBAK TANTRI CANTIK APA KABAR??”.
“ SAYANG KOK GAK DIBALES?? MASIH SIBUK BANGET YA??”.
“ UDAH MALEM NIH?? MASIH TUGAS TERUS YA?? SEMANGAT YA MBAK”.
Kasian kekasihku ini, seharian tidak mendapat kabar dariku. Memang inilah resiko menjadi pacar “Kami” , harus siap menantikan Kami menuaikan tugas dulu buat Negara. Setelah urusan tugas selesai baru sisa waktu kami untuk mereka.
“ LEX MAAF YA HP MBAK BARU AKTIF. BANYAK KERJAAN TADI DI KANTOR”.
Jawaban sms singkat untuk Alex yang kuketik sebelum kembali mengendarai motor untuk kembali ke asrama.
Dalam perjalanan aku mulai dilanda kantuk. Sebenarnya wajar karena waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Bagaimana ya caranya agar dapat terus terjaga. Sangat berbahaya mengendarai motor dalam kondisi seperti ini.
Di tengah situasi mengantuk seperti ini seperti muncul ”bisikan setan” yang membisik kepadaku untuk “berpikir jorok” saja agar tidak mengantuk. Lucunya mulai kupatuhi bisikan itu dengan mengingat kembali “kenakalan” antara aku dan Alex. Kubayangkan dengan seksama kejadian di dalam stadion, cumbuan-cumbuan kami di dalam asrama, sampai keusilanku kepadanya di dapur.
Ternyata berfikir jorok itu ada manfaatnya. Membayangkan kenikmatan yang kualami dan kekarnya tubuh Alex membuatku kembali terjaga. Mungkin karena keasyikan mikir yang “nggak-nggak” itu membuat perjalananku ke asrama menjadi tak terasa. Dari jauh dapat kulihat rumah dinasku sudah menanti.
Kehidupan asrama memang sangat disiplin. Di tengah malam semua rumah di kompleks ini sudah senyap. Penghuninya pasti sudah beristirahat. Hal ini lumrah karena besok sebelum subuh teman-temanku dari kesatuan Lantas pasti sudah kembali bertugas melayani masyarakat di jalanan. Melayani dan melindungi begitu indahnya semboyan itu.
Setelah kuparkir motor dan menguncinya kubuka pintu rumah yang telah terkunci. Rumah ini mempunyai dua kunci yang satu dibawa oleh Sinta sedang serepnya kubawa. Sudah menjadi kesepakatan diantara kami siapapun yang datang duluan di rumah harus mengunci pintunya demi alasan keamanan. Suasana di dalam rumah begitu sunyi, hanya bunyi jangkrik yang sedang “bersimfoni” hadir menemani kesendirianku. Kubuka pintu kamar Sinta untuk memeriksa keadaan kawanku ini.
“ Tidur nyenyak ya Sin besok kamu harus semangat bertugas lagi!”.
Ujarku memberi semangat meskipun Sinta sudah tertidur pulas. Memang sebagai “kaum perantauan” yang hidup jauh dari keluarga kami menjadi sangat akrab satu dengan lainnya. Sinta sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri demikian pula sebaliknya. Kami biasa melewati suka duka bersama. Bila kaum wanita lain hiburannya shoping di mall atau berlama-lama mempercantik diri di salon , buat kami “ngobrol” dari hati ke hati seputar masalah sehari-hari merupakan hiburan yang “mewah”.
Tak terasa ada bunyi getar tanda ada sms masuk.
“ MBAK UDAH SAMPAI ASRAMA BELUM?? UDAH JAM 1 NIH ALEX JADI KHAWATIR. MBAK ADA DIMANA ALEX JEMPUT AJA YA??”.
Belum tidur dia rupanya. Wah betapa besarnya perhatiannya padaku.
“ GAK USAH KHAWATIR LEX JANGAN LUPA MBAK POLISI LHO”.
Cepat kubalas smsnya.
Rupanya Alex seorang yang sudah terbiasa smsan dengan cepat. Dalam waktu singkat saja kami sudah bergelut dengan hp masing-masing asyik smsan.
“ MEMANG MBAK POLISI TAPI TETAP WANITA YANG LEMAH DAN PERLU DILINDUNGI”.
“ SEMBARANGAN KAMU! SIAPA BILANG MBAK LEMAH?? KAMU AJA K.O SAMA MBAK”.
“ ENAK AJA ALEX GAK K.O CUMA NGALAH DOANK HA HA”.
“ O YA?? MBAK BORGOL LAGI MAU??SUPAYA KAMU TAU SIAPA YANG LEMAH”.
“ AMPUUUUUUN MBAK”.
“ GAK MAU??”.
“ MAUUUUUU. KAPAN DONK ALEX DIBORGOL LAGI UDAH KANGEN NIH HE HE”.
“ BOLEH! KAMU MAU MBAK BIKIN MONCROT LAGI??”.
“ MAU MAU MAUU BANGET”.
“ ADA SYARATNYA!”.
“ APA MBAK SYARATNYA ALEX JABANIN DEH”.
“ KAMU AJAK MBAK LIBURAN KE TEMPAT YANG ROMANTIS. TAKUT KETAUAN ORANG TAU KALO MAEN DI ASRAMA”.
“ AYO MBAK KEBETULAN ALEX PUNYA TEMEN DI TRAVEL TINGGAL KAPAN WAKTUNYA MBAK AJA SIAPNYA KITA JALAN-JALAN”.
“ ITU MASALAHNYA LEX MBAK GAK PUNYA WAKTU HE HE. KERJA TERUS”.
“ YAAAAAAAAAAH”.
“ PANJANG AMAT YAAAHNYA??”.
“ KECEWA BANGET MBAK PADAHAL ALEX UDAH NGAREP’.
“ JANGAN KECEWA GTU MBAK JANJI DEH”.
“ JANJI APA MBAK??”.
“ KALO MBAK DAPET CUTI KAMU BOLEH BAWA MBAK LIBURAN. TAPI…”.
“ WADUH ADA TAPINYA.”
“ GAK IKHLAS?”
“ IKHLAS BANGET DONK MBAK! APA TAPINYA ALEX JANJI PENUHIN DEH”.
“ KAMU YANG BAYAR YA! GAJI MBAK PAS-PASAN SOALNYA”.
“ SIAP MBAK JANGAN KHAWATIR TABUNGAN ALEX BANYAK KOK BISA BAWA MBAK KEMANAPUN. O YA MBAK NGOMONG-NGOMONG INI UDAH SAMPE MANA? ALEX JEMPUT AJA YA”.
“ UDAH DI RUMAH KOK MBAK LEX!. MAU TIDUR DULU YA BESOK HARUS APEL PAGI LAGI JAM 7”.
“ GAK BOLEH BOLOS YA MBAK??”.
“ SEMBARANGAN KAMU! BISA DI HUKUM NANTI MBAK SAMA SENIOR”.
“ YA UDAH DEH MET TIDUR YA MBAK CANTIK. SLEEP TIGHT. MISS U MUCH”.
Kuakhiri smsan panjang ini dengan mematikan handphoneku.
“Huh Alex kapan ya Mbak dapet libur, terus kita bisa liburan bareng?? Mbak juga udah agak jenuh harus kerja terus”, Sambil bicara sendiri aku segera terlelap menuju mimpi indah menyambut hari esok dengan sejuta persoalannya.
************************************************** *********
Begitu cepat waktu berlalu. Rasanya tepat bila para pujangga mengatakan bahwa waktu itu seperti pisau bermata dua. Bila tidak hati-hati kita bisa teriris olehnya. Hari ini saja tanpa terasa sudah pukul 7 pagi. Irama rutin sirine terompet kembali memerintah kami semua untuk berbaris rapi mengikuti apel pagi di halaman kantor.
Pemandangan khas sehari-hari kembali hadir. Ada anggota yang berlari-lari karena terlambat. Beberapa Polisi tampak asyik bergosip mengenai problema kehidupannya sehari-hari. Ada juga Anggota yang sedang membawa absen sibuk memeriksa kehadiran para anggota.Disiplin memang yang utama untuk kami.
Setelah rutinitas protokoler awal Apel dipenuhi, kini pasukan telah berdiri rapi dalam “saf“ dan “ banjar” siap menerima pengarahan dari Pembina apel yang hari ini diambil langsung oleh pak Hendri Kepala Bagian Divisi Kriminal.
“ PASUKAN DIISTIRAHATKAN!”.
“ UNTUK PERHATIAN, ISTIRAHAT DI TEMPAAAAAAAAT GRAK!”.
Pak Hendri memulai sambutannya dengan mengingatkan para Anggota tentang pentingnya menjaga disiplin dalam bekerja. Kemudian Beliau juga menekankan bahwa setiap Anggota harus mampu memberi contoh kepada masyarakat. Selain itu Beliau mengangkat topik krusial mengenai peran Polisi dalam memberantas kejahatan di tengah masyarakat.
Pak Hendri meneruskan pidatonya.
“ ……….Berkaitan dengan pemberantasan “penyakit” di tengah masyarakat. Seluruh anggota Divisi Kriminal setelah apel ini wajib kumpul di ruangan. Ada informasi penting dari “sumber yang dapat dipercaya” yang harus segera ditindaklanjuti….”.
“ Pasti yang dimaksud oleh Komandan masalah Cakra”, batinku dalam posisi sikap istirahat di tempat.
“ …Akhirnya demikian sambutan yang dapat saya sampaikan. Sebelum mengawali kegiatan hari ini mari kita berdoa kepada Tuhan agar tugas dan pengabdian kita hari ini bernilai ibadah…Amin”.
Setelah apel itu kami berhamburan kembali ke unit kerja masing-masing. Hari itu berlalu seperti hari-hari biasa. Tidak ada yang spesial.

*********************************************

Esoknya
“ Tantri kamu udah denger belum katanya Komandan Hendri berhasil “ membekuk” kawanan Cakra tadi malam”.
“ Yang bener Sinta??”.
“ Iya pacarku Tanto yang bilang. Semalem dia ikut dalam operasi itu. Rupanya informasi dari intelijen sangat tepat memperkirakan lokasi kawanan Cakra berada”.
“ Terus mereka semua dapat dibekuk?”.
“ iya Tri katanya sangat seru upaya penggerebekan itu. Seperti di film-film terjadi baku tembak. Cakra pemimpin rombongan katanya tewas tertembak.”.
“ Cakra tewas??wah kasian Gaby..”.
“ Siapa itu Gaby Tri??”.
“ Ooow bukan siapa-siapa Sinta….bukan siapa-siapa”.
Sejenak aku bersimpati mengheningkan cipta dan mendoakan yang terbaik untuk Gaby.
“ Bagaimana ya perasaan wanita itu?. Begitu banyak yang dia korbankan untuk Cakra. Dan kini laki-laki yang dicintainya itu telah tiada. Hidup memang sangat misterius. Kita tidak tau kartu mana yang akan dibuka berikutnya”, batinku.
“ Brigadir Tantri anda dipanggil oleh Komandan Hendri untuk menghadap ke ruangannya”.
Panggilan itu membuyarkan lamunanku.
“ Ssssiap Senior! Tantri segera menghadap Komandan”.
Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan perkembangan terbaru kasus yang melibatkan Cakra dan Gaby.
Asyik dalam lamunan ruangan kantor Pak Hendri sudah terlihat di mataku.
“ Mohon ijin Komandan Brigadir Tantri menghadap”.
“ Masuk Tri, bapak harus mengucapkan terima kasih banyak sama kamu”.
Komandan Hendri langsung berdiri dan menjabat tanganku.
“ Ijin terima kasih dalam hal apa Komandan??”.
“ Operasi semalam berhasil Tri!. Cakra sudah tewas. Kawanan itu berhasil kita tumpas. Semuanya berkat informasimu yang akurat”.
“ Siap sudah tugas Tantri Komandan. Tantri juga turut berbahagia dan mengucapkan selamat karena Komandan beserta para Anggota berhasil menyelesaikan kasus ini”.
“ Terima kasih Tri. Aku punya hadiah untukmu”.
“ Siap Komandan?”.
“ Kamu Bapak kasih cuti mulai besok sampai hari minggu. Lumayan kan? Ini baru hari rabu. Kamu bisa pulang ke rumah orang tuamu”.
“ Sssiaaap Tantri gak salah dengar Komandan?”.
“ Iya Brigadir Tantri kamu gak salah dengar. Kamu dapat cuti mulai besok”.
Ingin aku segera meloncat-loncat kegirangan kalo tidak sedang berhadapan dengan Komandanku yang tampan ini. Rasanya bahagia sekali bisa sejenak “liburan” apalagi..Alex udah janjikan mau mengajakku liburan.
“ Terima kasih banyak Komandan”.
“ Iya Tri nih Bapak masih punya kejutan buat kamu. Ini kamu ambil buat beli permen!”.
Pak Hendri mengatakan itu sambil memberi selembar amplop berisi uang padaku.
“ Aaapa lagi ini Komandan?”.
“ udah ambil aja itung-itung buat ongkos kamu naik bus Tri”.
“ Terima kasih banyak Komandan”.
Aku langsung maju untuk kembali menjabat tangan Komandanku sebagai ekespresi terima kasih.
“ Iya dah sana liburan! Hati-hati dijalan Tri! Jangan lupa pulang kamu!”.
“ Siap Komandan”. Jawabku sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
“Horeeeeeeeeeee”. Begitu gembiranya hatiku akhirnya aku bisa cutiiiiiiiiiiii.
Selepas dari ruangan Komandan, segera aku menyelesaikan urusan administrasi cuti. Maklum sebagai aparat semua tindak-tanduk kami telah diatur oleh aturan yang jelas dan wajib dipenuhi. Saat tengah mengisi blangko surat cuti, kusempatkan untuk menulis sms untuk Alex mengabarkan kabar gembira ini.
“ LEX LAGI NGAPAIN??”.
Kembali kuisi blangko formulir itu dengan cepat kemudian kuserahkan pada bagian Personalia.
Bunyi handphone menandakan ada sms masuk.
“ LAGI NYIAPIN BAJU AJA MBAK ADA KULIAH NIH HARI INI. ADA APA SEXY??”.
Segera saja kami kembali bergumul dalam smsan yang mesra.
“ EMANG MBAK SEXY LEX?”.
“ SEXY BANGET MBAK TIAP MALAM ALEX MIMPI LHO TENTANG BETAPA SEXYNYA TUBUH MBAK”.
“ KALO MIMPI GiTU KELUAR DONK LAHARNYA?”.
“ KELUAR MBAK BANYAK BANGET LAGI. ABIS MBAK SEXY BANGET SIH.”
“ KAMU MASIH INGAT TAWARANMU NGAJAK LIBURAN MBAK KEMARIN LEX?”.
“ MASIH BANGET DONK MBAK.”.
“ ADA KABAR GEMBIRA BUAT KAMU. MBAK DAPAT CUTI MULAI BESOK SAMPAI MINGGU INI SAMA KOMANDAN. GIMANA MENURUT KAMU?”.
“ WAH ASYIIIIIIK YANG BENERRR MBAK?????? JADI LIBURAN BENERAN DONK KITA”.
“ TAPI KAMU JUJUR SAMA MBAK LHO LEX! KALO KAMU GAK ADA UANG GAK USAH MAKSA. BIAR MBAK PULANG KE RUMAH ORANG TUA SAJA”.
“ JUJUR MBAK ALEX ADA UANG KOK. MBAK TETEP LIBURAN SAMA ALEX AJA YA!! SEKARANG JUGA ALEX TELPON TEMEN ALEX YANG DI TRAVEL BUAT SIAPIN TIKETNYA”.
“ KAMU YAKIN LEX? GAK NYESEL???”.
“ YAKIN BANGET DONK MBAKK. LAGIPULA NGAPAIN NYESEL?? MAU JALAN-JALAN AMA BIDADARI KOK NYESEL?? “.
“ YA UDAH MAU KEMANA KITA LEX??”.
“ KE PULAU DEWATA AJA YA MBAK??’.
“ WAH YAKIN KAMU. MBAK BELUM PERNAH LHO KESANA. TAPI MAHAL ONGKOS KESANA LEX. KAMU YAKIN PUNYA UANG??”.
“ ADA DONK MBAK CANTIK. SIAP-SIAP AJA YA MBAK. KITA AKAN BERPETUALANG KE PULAU DEWATA.
Wah mimpi apa aku semalam bisa liburan ke tempat yang begitu indah seperti itu. Apalagi Alex mengatakan bahwa minggu ini tidak ada kuliah lanjutan untuknya selain hari ini. Kami benar-benar bisa liburan.
Segera aku menyelesaikan semua urusan “tetek bengek” cuti dan beranjak pulang untuk mengepak barang-barangku.
Kubawa semua baju-baju yang kuanggap layak untuk bertamsya termasuk kaca mata hitam yang kuanggap pas untuk perjalananku kali ini.
“ Wahhh rasanya tak sanggup menunggu hari esok”.
Malam itu Alex mengabari kalo pesawat akan berangkat jam 7.45 pagi. Maka kami perlu berangkat dari jam 5 pagi agar tidak terlambat tiba di bandara. Alex berjanji akan menjemputku jam setengah lima pagi dengan menggunakan mobil travel yang telah dipersiapkan. Rasanya aku terus saja berkemas sepanjang sore ini untuk memastikan barang penting tidak ada yang tertinggal. Perlengkapan mandi sudah berada di tempatnyai. Sedangkan pakaian dalamku juga sudah terkemas dengan baik. Tak lupa peralatan telekomunikasi seperti charge hp dan juga kamera tidak boleh tertinggal.
“ Tantri akhirnya bisa juga kamu pergi ke Pulau Dewata”.
Malam itu aku hampir tidak bisa tidur saking senangnya. Rasanya baru kupejamkan mataku, sebelum jam weker berbunyi menandakan telah pukul 4 pagi. Segera aku berhambur ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri dengan cepat. Habis mandi aku langsung berdandan untuk mempercantik diri menjelang perjalanan nan indah ini. Sinta tidak pulang malam ini karena harus patroli malam. Aku sudah berpesan kepadanya bahwa akan berangkat cuti dan mengharap padanya untuk menjaga rumah dulu selama kepergianku. Sinta tentu menyanggupi sepanjang ada oleh-olehnya.
“Waduh Sinta semoga aku punya uang cukup ya untuk membawa oleh-oleh buatmu”.
Tepat jam setengah lima Alex datang bersama travel yang dijanjikan. Kami salat subuh berjamaah dulu sebelum berangkat. Hawa pagi itu begitu dingin hingga aku harus mengenakan jaket. Dalam perjalanan ke bandara ini sebenarnya aku tidak lupa untuk memperhatikan penampilan. Apalagi kami sebagai Polisi wanita memang dituntut untuk tampil trendi, cantik dan sexy dalam setiap penampilan. Hari ini aku mengenakan kaos putih lengan pendek ketat berkerah dibalut dengan celana bahan wana putih yang juga pas badan.
Alex tentu belum bisa melihat penampilanku sepenuhnya karena selain kututupi dengan jaket, suasana pagi yang masih gelap tentu menghalangi pandangannya.
Setelah semua barang masuk dalam bagasi mobil kami berangkat menuju bandara.
Dalam perjalanan mungkin karena memang kurang tidur aku menghabiskan waktu dengan tidur di pelukan Alex. Kami bagai sepasang kekasih yang begitu dimabuk asmara. Alex memelukku mesra sambil membiarkanku tidur bergelayut di dadanya. Hangat rasanya merasakan pelukannya padaku hingga membuatku segera terbuai dalam tidur nyenyak sepanjang perjalanan.
“ Mbak cantik ayo bangun kita udah sampai bandara”.
“ Ummmm udah nyampe Lex?”.
“ Udah Mbak”.
Segera aku bergegas untuk mengambil make up untuk menyegarkan wajah yang baru saja terbangun dari tidur pulas.
“ Udah gak usah dipoles lagi Mbak!”.
“ Hush muka Mbak masih kayak orang baru bangun tidur gini Lex”.
“ Mbak cantik kok dengan atau tanpa make up. Kecantikan Mbak bahkan bertambah setelah bangun tidur”.
Sambil mengatakan itu Alex memegang tanganku dan mencium bibirku cepat.
Terkejut aku sejenak akibat serangannya yang tiba-tiba ini, namun juga sangat gembira dengan perkataannya barusan tentang kecantikanku. Seorang pria yang mencintai kecantikan wajahku tanpa make up menandakan dia menghargaiku apa adanya.
Dengan cepat Alex memanggil para pengangkut troli bandara untuk mengangkut barang-barang kami dan bergerak cepat untuk proses “boarding” karena waktu sudah menujukkan pukul 7 pagi. Akhirnya setelah semua proses selesai kami memasuki pesawat untuk besiap tinggal landas.
Di dalam pesawat kami duduk bersebelahan. Alex telah mengatur perjalanan ini dengan sangat baik.
“ Lex makasih banyak ya udah nyiapin semua ini”.
“ Sama-sama Mbak cantik. Alex cinta dan sayang banget sama Mbak”.
Aku kembali tersipu.
Alex menggenggam tanganku mesra selama dalam penerbangan. Memang betul kata orang bila kita sedang jatuh cinta, dunia ini seakan milik berdua. Banyak penumpang di pesawat ini namun rasanya pesawat milik kami berdua. Sepanjang perjalanan kami saling bertukar canda, tawa, humor-humor segar, sampai obrolan-obrolan nakal yang “menyerempet’ topik- topik dewasa.
“ Mbak nanti sesampainya di sana Alex pengen ngajak Mbak ke pantai”.
“ Wah ngajak ke pantai Lex? Seru banget donk. Emang kamu tau pantai yang bagus di sana?”.
“ Tau donk Mbak disana pantainya bagus-bagus ada yang airnya jernih banget malah. Tapi Mbak, masalahnya para pengunjung pantai itu khususnya para wanita kalo jalan-jalan dipantai disana pada pake “bikini””.
“ Pake bikini?? Gak kayak pantai di kota kita donk , kalo di tempat kita orang ke pantai nyantai aja pake baju biasa”.
“ Iya Mbak beda donk sama kota kita. Kalo di Pulau Dewata mataharinya bagus banget buat ngejadiin kulit Mbak jadi sexy dan eksotis”.
“ Wah bagus banget buat Mbak yang memang kulitnya eksotis donk Lex?’.
“ cocok banget Mbak”.
“ masalahnya Mbak gak punya bikini Lex”.
“ Gampang Mbak nanti Alex beliin disana, Alex tau kok bikini yang bagus dan cocok ama badan Mbak yang tinggi semampai kayak supermodel gini”.
“ Mbak kayak supemodel Lex? Kamu gak ngibul?”.
“ Bener Mbak buat Alex hanya Brigadir Tantri supermodel yang paling hot di dunia ini”
“ dasar gombal kamu”.
Ujarku sambil mencubit lengannya dan dibalasnya dengan mencubit lenganku. Lama kami saling bermesra-mesraan seperti ini. Perjalanan ke Pulau Dewata ini begitu indah bila dilalui bersama kekasih tercinta. Tak lama kemudian terlihat dari kejauhan bandara dengan tingkat kunjungan turis tertinggi di negeriku tersebut.
Dalam waktu singkat pesawat itu mendarat di pulau dewata dan kami siap berpetualang di pulau surgawi ini.

DANCING FOR YOUR LIFE

Malam itu terasa begitu cepat berlalu. Dengan penuh kemesraan, kami terus berpelukan sambil bergandengan tangan sepanjang perjalanan pulang. Rasanya tidak seorangpun dari kami berdua yang akan melupakan kenangan indah peristiwa sore tadi. Aku sangat ingin mengulang kembali percumbuan panas kami di bibir pantai. Gadis mana yang tidak terbuai, ketika berada dalam dekapan kekasih sambil ditemani redupnya sinar mentari yang hendak kembali ke peraduannya. Selalu kuceritakan pada teman sekamarku Sinta, betapa Alex selalu membuatku ketagihan. Malah aku seperti kecanduan romantisme permainan yang dihidangkannya. Buat kaum Adam mungkin, sesi bercinta segera menghilang pesonanya begitu mereka mengeluarkan laharnya. Namun buat kami, kemesraan dan keintiman yang dibangun dalam sebuah foreplay yang panjang dapat bertahan selamanya.

“ Mbak Tantri….”.
“ Apa Lex?”.
“ Makasih banyak ya udah nglindungin Alex. Seharusnya Alex yang nglindungin Mbak, tapi….”.
“ Hush kamu gak usah mikir yang macem-macem! sepasang kekasih itu harusnya memang saling mengisi satu sama lain. Gimana kondisi perutmu udah baikan belum?”.
“ Sangat baikan Mbak, apalagi udah disembuhin sama Mbak he he, jadi bukannya sakit malah jadi tambah sehat, plong dan nikmat deh. Kapan donk Mbak si Junior dapat jatah lagi???”.
“ Dasar kamu masih mesum aja ya Lex”, ujarku memukul lengannya. Ini salah satu momen yang selalu membuatku rindu padanya, candaan-candaan “nakal” yang penuh romantisme. Alex mungkin tidak pernah menyadari betapa besar efek yang ditimbulkannya pada diriku akibat “joke” nakalnya. Wanita adalah makhluk seksual, hanya dengan berfantasi saja sebenarnya kami mampu memasuki dimensi kenikmatan yang begitu menghanyutkan.

Walaupun kami terus bergandengan seakan tak ingin dipisahkan, toh akhirnya sang waktu pula yang memaksa kami berpisah. Kami telah tiba di hotel. Bagaimanapun letak kamar yang dipisahkan oleh sekat, mengingatkan kami bahwa selayaknya kami mesti banyak bersabar. Meski begitu cinta atau nafsu selalu gelap mata dalam menuntut kebutuhannya. Tak terkecuali kami berdua yang sedang dimabuk asmara, cinta dan nafsu telah bercampur menyelimuti kami. Dengan balutan kedua unsur itu jualah kami berdua terus berjalan hingga akhirnya tiba di depan pintu kamar Alex,

“ Nah akhirnya kita sampe juga Lex! sekarang giliran kamu yang istirahat ya sayang!”, sambil menghiburnya kubantu Alex membuka pintu kamar.
“ Sekali lagi maksih banyak ya Mbak! atas pertolongannya hari ini”.
“ Iya ganteng itu tugas Mbak. Ingat motto kami itu ; “ melayani dan melindungi masyarakat”, inilah salah satu tugas Mbak untuk melindungi kamu, jadi gak usah dipikir macem-macem ya. sekarang kamu istirahat saja!”, kukatakan hal itu sambil mengecup keningnya.

Setelah Alex masuk ke kamarnya, aku menuju ruanganku. Kubuka gagang pintu kamarku dengan tidak sabar, bagaimanapun aku juga mengalami kelelahan akibat perjalanan ini dan ingin beristirahat. “ Ahhhh udara malam di Pulau Dewata begitu asri”, kataku pada diri sendiri sambil merebahkan diriku di ranjang yang telah tertata rapi. Kupejamkan mataku, sebagai upaya refleksi untuk mereview kembali pengalaman seharian ini.

Perjalanan impianku akhirnya terwujud bersama pria yang sangat kucintai. Masih segar dalam ingatan, bagaimana dulu aku adalah seorang Polwan yang begitu setia dengan tugas sampai tidak pernah berpergian kemanapun, selain di seputaran kabupatenku itu. Semua ini terus berlangsung hingga datangnya Alex. seorang laki-laki normal, bukan anggota, namun mempunyai keberanian untuk menjalin hubungan denganku. Semua orang yang telah mengenalku sebelumnya mahfum bagaimana caraku memperlakukan laki-laki ; cuek, pasang muka jelek dan jutek. Namun apa daya semua itu tak berlaku dihadapan Alex. Pria ini seolah memiliki “sex appeal’ yang begitu pas denganku. Aku berani membayangkan, bila kami berdua ditinggal di pulau tak berpenghuni, hanya dalam hitungan detik, pasti, kami sudah saling terkam satu sama lainnya.

Lihatlah bagaimana Alex begitu berani menciumku dengan teramat mesra ditengah keramaian bandara. Alih-alih menolaknya, bukankah aku malah menyambutnya dengan begitu liar?. Alex denganku ibarat dua mahluk yang dijodohkan oleh libido seksual yang sama-sama tinggi. Terus kuingat kembali momen demi momen peristiwaku dengannya yang seperti kenakalan remaja. Peristiwa pantai tadi sore tentu membuatku sedikit merinding. Betapa nakalnya aku menggodanya dalam balutan bikini sexy. Bahkan setelah itu, setan mana yang mampu menggerakkanku untuk “mengubek-ubek” kemaluannya sedimikian rupa hingga tumpah ruah isinya di mulutku sendiri. Rasanya bulu kuduk di tengkukku berdiri sendiri mengingat “kebinalanku”., Begitu mudah gairahku bangkit kembali hanya dengan membayangkan hal itu.

Malam ini, merasakan tensi tinggi akibat gairah yang membuncah, aku memutuskan tidur telanjang. Rasanya tidur dalam keadaan bugil dapat membuatku merasakan kembali kenikmatan demi kenikmatan yang telah diberikan Alex pada tubuhku. Akhirnya tanpa berbalut satu helai pakaianpun, aku terlelap.

************************************************** **********************

HARI KEDUA

Ilustrasi paling mirip Brigadir Tantri

“ Brrrrt…..Brrrrtttt…….Brrrrrrrrt”, Bunyi getar handphone yag begitu keras menyadarkanku kembali. rasanya baru sebentar aku memejamkan mata sebelum dibangunkan oleh getarannya. Kulihat siapa gerangan yang berani mengganggu mimpi indahku sepagi ini.
Agak terkejut diriku ketika melihat ternyata Alex yang menelponku. Ada apa gerangan dengan dirinya??apakah sakitnya kambuh lagi?.
“ Halo Lex ada apa???”, kuangkat telponnya.
“ Mbbbbakkk toloong Alex…. sakit sekali perut Mbakkk”, raungnya dengan nada suara yang penuh kesakitan.
“ Sakit apa kamu Lex??”, aku mulai panik.
“ Gggggak tau Mbak, kayaknya bekas pukulannya kambuh…sakit Mbak….ulu hati Alex kayak mau pecah…”.
“ Ok kamu tenang baring dulu, gak usah panik!!!! Mbak segera ke kamarmu”, kuputus telponnya, sambil bergegas mencari pakaian apa saja untuk menutupi tubuhku yang masih polos. Kulihat di lemari ada mantel mandi lembut yang berwarna putih segera kukenakan.

“ Dug..dug..dugg…”, kugedor pintu kamar Alex.
“ Buka Lex!”, kataku sambil membawa hanphone siapa tau diperlukan.
“ Ckelllek”, pintu akhirnya dibuka dengan Alex yang menyambutku dengan wajah pucat pasi.
“ Mana yang sakit?? Gimana ulu hatimu”, kurangkul dia.
“ Aduuh ini Mbak sakit”, ujarnya sambil membuka bajunya di hadapanku.
“ Iya yang mananya yang sakit??”, aku semakin panik juga kebingunan.
“ Iniii Mbak”, keluhnya sambil tangannya memegang perut, “ dilihat deh Mbak perutku jadi biru begini”, tunjuknya agar aku menengok perutnya.
“ Mana sih Lex?”, aku memicingkan mataku mendekati perutnya berupaya melihat tanda biru yang ditunjuknya.
Ketika aku tengah mencari-cari tanda sakit di perutnya Alex membuatku terkejut.
“ Hap “, ditangkapnya rambut pendekku, kemudian dijambaknya untuk tertengadah ke arah wajahnya. “Apa-apaan Alex ini”, batinku dalam hati sambil berusaha memegang tangannya yang menjambak.
Begitu cepat dia menjambakku dan membawa wajahku untuk bertatapan dengan mukanya yang penuh dengan kekuasaan karena berhasil memperdayaku.
“ Gak ada yang sakit cantik he he! aku hanya ingin menipumu”, bisik Alex sambil menendang daun pintu agar tertutup. Begitu cekatan tangannya menjepitku dan mencium bibirku dengan ganas.
“ Llleexx uugggghhhh”, tersumpal bibirku dengan mulutnya. Awalnya ingin kuhentikan serangannya dengan teknik membuka kuncian yang kukuasai, namun merasakan begitu besar gairahnya membuatku memutuskan pasrah saja menerima “ permainannya. Handphone yang kubawa juga ikut terlempar ke lantai akibat ulahnya.
“ Mmmmmm”, kami berciuman dengan ganas. Alex terus menyerbuku tanpa memberi waktu untuk bernafas. Kini dia menyudutkan tubuhku pada tembok dekat ranjangnya. Jambakan pada rambutku tidak juga dilepaskannya.

“ Oouuugghhh”, sedikit aku melenguh kesakitan, saat dengan sengaja Alex semakin menjambak rambutku membuat wajahku jadi terdangak memandang langit-langit.
Dalam posisi mendangak ini bibirku jadi terbuka akibat daguku yang tertarik.

Kulirik wajah Alex yang kini tampak begitu berkuasa. Sangat jauh dari gambaran seorang pria “limbung” yang habis di KO oleh tiga orang asing, lalu kupaksa ejakulasi menggunakan mulutku sore sebelumnya.
Cukup lama kami saling bepandangan dalam posisi tubuhku yang tersandar di tembok dengan rambut terjambak. Lebih tepatnya berpandangan penuh nafsu dan gairah. Bukankah kami berdua memang mempunyai “ sex appea”l yang begitu panas. Saling bertatapan saja telah membuat kami berdua saling “membakar”.

“ Sekarang kamu milikku Tantri! akan kunikmati kamu dari ujung rambut sampai ujung kaki”, bisik Alex sambil hidungnya mulai menghirup roma tubuhku.
“ sniffff…sniff…sniffff”, dengan nafas yang begitu dalam Alex menghirup wangi tubuhku. Dia seolah begitu terangsang hanya dengan mencium aroma tubuhku.

“ Ouuugh kamu begitu wangi Tantri, aromamu langsung membuatku “ngaceng”, katanya sambil langsung menjulurkan lidah dan mulutnya masuk begitu dalam ke mulutku. Mmmmm Begitu dominan ciumannya, persis seperi saat di bandara. Jambakan di rambutku membuatku tak berdaya, begitu pasrah menerima pagutannya. Begitu pula saat tangannya memegang daguku untuk semakin tertengadah, membuat leher jenjangku tersaji indah dihadapannya siap dinikmati. Tersengat oleh pesona leherku, lidahnya segera meluncur untuk menjamah pori-porinya. Garis- garis tipis yang membentang berputar di leherku, dihisapnya tanpa ampun.
“ Ahhhhhh….ahhhhhhh……ahhhh..”, aku mulai terangsang.
Bagai adegan dalam film vampire, Alex berperan sebagai Dracula yang menancapkan gigi taringnya untuk menghisap darah yang mengalir di leherku. Dicium, jilat dan gigit leher jenjangku dengan begitu kelaparan. Ya Alex seperti orang yang telah lama tidak menikmati makanan, dan hanya bisa terpuaskan oleh nutrisi yang ada di balik permukaan tubuhku.
Mendapat perlakuan kasar seperti ini, ditambah “ketidak berdayaan” yang tiba-tiba menyelimutiku, aku mulai mengerang hebat.
“ Ooouhh….ouuuhhhh”.

“ Aggggghhhhhhhhh”, aku semaikin gila menerima gigitannya di leherku. Entah kenapa kekasarannya malah membuatku semakin lupa daratan.
Kupejamkan mata untuk menambah kenikmatan. Ketika ciuman dan gigitannya tiba-tiba berhenti, langsung kubuka mataku untuk melihat apa yang terjadi. Saat membuka mata, aku bertatapan langsung dengan mata Alex yang kulihat telah terasuki nafsu birahi yang begitu hewani dan berkuasa.

“ Ouuugggh”, tetap rambutku dijambak olehnya sehingga terus tertengadah. Lama dia hanya menatapku dengan tatapan hewani seperti ini, tanpa berkata apa-apa ataupun melakukan apapun.

Mulutnya tiba-tiba maju seakan hendak menciumku. Kubuka mulutku lebar untuk menerima cumbuannya, tapi..dia berhenti. Ditariknya kembali kepalaku agar menjauh, rupanya dia hanya ingin menggodaku. Rasanya lebih dari tiga kali dia bersikap hendak mencumbuku namun ditariknya kembali. Godaannya ini membuatku semakin penasaran.

“ Biasanya kamu yang berkuasa Tantri! sekarang giliranku yang berkuasa! jadi kamu nurut aja Polwanku yang manis”, ujarnya sambil menempelkan hidungnya di wajahku. Digeseknya seluruh wajahku dengan hidungnya, digodanya terus bibirku dengan menggeseknya berputar di celah luar bibir atas dan bawah. Ketika dirasa cukup godaannya kepada bagian luar bibirku, seketika itu juga dicumbunya dengan ganas mulutku yang terbuka.

“ Ummmmmmm”, aku mendesah tertahan saat lidahnya mulai menusuk ke dalam rongga mulut. Sambil mencium, dilepas jambakan tangannya di rambutku. Tangannya kemudian beralih untuk bergerak ke bawah berusaha membuka ikatan mantelku. Dicarinya dengan tidak sabar simpu-simpul yang menutup mantel itu, kemudian berusaha dikoyaknya dengan gairah yang menyala-nyala. Mantelku tak mampu bertahan lama, dalam waktu singkat Alex telah berhasil mengoyaknya lepas dari tubuhku. Tentu saja segera dia temukan bahwa aku tidak mengenakan apapun di balik mantel itu, tampak dia sedikit terkejut, namun segera menyeringai penuh kemenangan. Wanita berbikini merah yang begitu lama menggodanya kemarin, kini telah telanjang bulat dihadapannya.

“ Cantik, kamu nakal sekali masuk ke kamarku udah dalam keadaan telanjang begini”, bisiknya,” hmmmm semua sudut tubuhmu ini adalah impianku Tantri,pelampiasan “coliku” di sudut kontrakan, mimpi apa aku semalam, akhirnya dapat menikmatinya”, terus dielusnya seluruh perutku yang rata dan bebas lemak itu. Berputar tangannya dari perut bawahku, menyamping menuju pinggang dan panggulku, kemudian naik ke perut atas yang berbatasan dengan payudara. Dari sana tangannya naik menuju perbatasan bahuku kemudian memija-mijat kecil permukaan luarnya.

“ Angkat tanganmu ke atas Tantri!!”.
“ Mbak belum mandi Lex…malu”, mendengar itu langsung dijambaknya rambutku lagi dengan kasar.
“ Gak ada “Mbak lagi disini!!! yang ada hanya Tantri! dan Tantri harus nurut sama Alex!! ngerti!!!”.
“ Iiiiiyyaaa…”.
“ Iya Komandan! panggil aku Komandan Brigadir Tantri!”, bentak Alex dengan penekanan suara yang sangat tegas.
“ Ayo panggil aku Komandan!!!”.
“ Iiya siap Komandan Alex, Tantri nurut’, jawabku sambil mengangkat kedua tangan ke atas.
“ Bagus! kamu makin cantik kalo nurut begini! gak usah cemaskan aromamu yang belum mandi! Kamu selalu cantik dan harum dimataku meski baru bangun tidur!”, bisiknya di telingaku sambil tangannya mengunci tanganku yang telah terangkat tinggi ke atas.
“ Ummm harumnya ketiakmu Tantri..mmmm”, diendusinya ketiakku tanpa malu-malu, sebelum akhirnya dia jilati dengan brutal kedua ketiak itu bergantian.
Diawali dari yang kanan, dia telusuri celah nikmat ketiakku dari sisi luar atas, berputar hingga perbatasan lengan dan bagian samping tubuhku. Lanjut kebawah, tanpa melewatkan satu sentipun bagian itu tersiram oleh cairan ludahnya.
Saat dirasanya semua celah luar ketiakku sukses ditaklukkan, langsung diserbunya inti tengah ketiakku dengan jilatan yang dahsyat.
“ Ouuuuuughhhh Komandannnnn ammmmpuuun…ahhhhh”.
“ Ssslrrrrg……slllrrrgggg…..slllrrrggggg”, bunyi lidah Alex yang menggesek kulit ketiakku menjadi irama yang sangat merangsang.
“ Hoooggghh ampuuuunnn Komandannnn”, bisikku dengan lenguhan dan jeritan yang begitu lepas, takk sanggup menahan birahiku yang sudah diujung tanduk. tak kupedulikan lagi apakah jeritanku dapat terdengar sampai ke kamar sebelah atau tidak.
“ Slllrrgggg…..slllrggg….slllrrrgggg”, bagai tak kenal lelah, Alex terus menjilatiku dengan hebat hingga membuatku mendapat orgasme pertama, hanya melalui jilatan di ketiakku.

“ Ouuuuhhhhhh…hhhhgggggggghhhhh’, aku orgasme hebat, dengan Alex yang terus menjilati ketiak sexyku.
Seakan memang berniat tidak memberiku kesempatan istirahat, dari ketiak bibirnya langsung menyosor ke payudara montokku.
“ Komanndaaann ouuuuggghh suuuudahhh ammmm….puuunnn’, aku kembali histeris dalam posisi tangan tetap terangkat, saat Alex tak kenal ampun mengenyot pentil susuku.
“ Cuuupp….hheeehhg…mmmmmmmm”, bunyi suaranya yang penuh nafsu ketika berhasil menikmati payudaraku dengan bebasnya. Tangannya terus mendukung bibirnya dalam mempermainkan tetekku. diremasnya payudara itu dengan kasar sambil lidahnya menyetrum putingku.

“ auuuuuuugggggghhhhhh”, aku hanya bisa menjerit untuk menyalurkan kenikmatan yang membuncah. Ibarat bayi yang menyusu pada ibunya, Alex menyusu padaku dengan begitu rakus. Saat asyik menyusu ini berkali-kali aku bergetar hebat karena derasnya orgasme yang datang berturut-turut Bagaimana aku tidak dibuatnya orgasme?, Dia bukan hanya menyedot atau mengenyot namun juga menggigit kecil serta memelintir susuku, menghadirkan rasa “nano-nano”, sakit, geli, nikmat dan cetar membahana.
“ Leeex akuuuu basahhhh lagiiiii…..Ouuuuuugghhhh….myyy Goooddd……….”, terus aku mengalami orgasme akibat ulahnya .
“ UUUugggghhh hahhh….hahhh….ahhhhhh…ouuuggghhh” deras rasanya cairan yang menyembur dalam rahimku akibat multi orgasme ini.

Selain menjadi begitu basah, akupun mulai bergoyang hebat, sambil berdiri, bagai orang yang bergoyang ngebor dalam kenikmatan. Alex hanya memandangku sambil tersenyum bangga ketika melihat aku tersetrum kenikmatan akibat tindakannya. Laki-laki pasti merasa begitu bangga saat berhasil membawa pasangannya terbang tinggi ke langit ketujuh.

“ He he he nikmat Tantri??”
“ Ahhhh sssssangat nikmat Komandan”.
“ Mau lagi???”.
“ Siiap Mauu Komandannnnn”.
“ Hanya untukmu Tantri Hupppp”, Alex kembali menyerbuku dengan ciuman ganasnya kini dia mulai menjamah wilayah selangkanganku. Sepertinya dia mau menjelajah daerah baru.

“ Trrrreeeett…treeeetttt..treeeet”, tiba-tiba kami berdua dikejutkan oleh bunyi getaran telepon yang berasal dari hand phoneku yang tadi terjatuh di lantai.

“ Udah biarin aja siapa sih yang nelpon pagi-pagi begini ganggu orang aja!”, kata Alex sedikit kesal.
“ Hushi siapa tau itu atasan Mbak, sebentar ya Mbak angkat dulu”,
“ Huuuuh..”, dengus Alex tampak penuh kekesalan, “ inikan waktu cutimu Mbak! kok masih ada aja sih yang ganggu?? dasar!”.
“ Alex!!! ini tugas Mbak! meski cuti juga harus tetap stand by! kamu harus sanggup menerimanya!”.
“ Iiiya Mbak Tantri siap!!dah angkat aja tuh telponnya!Dasar gak bisa liat orang seneng!”.
“ terima kasih banyak Sayang atas pengertiannya!”.

Kulihat ini panggilan dari Komandan yang memberiku cuti ini Pak Hendri, ada apa Beliau menelponku Subuh begini?.Apakah ada kondisi genting di Kantor? Semoga tidak. Penasaran langsung kuangkat telponnya;
“ Halo, siap Komandan Hendri, perintah??”.
“ Halo Tri mohon maaf Bapak mengganggumu pagi-pagi begini”.
“ Siap tidak Komandan, mohon ijin ada apa Komandan?apa ada yang genting di kantor?”.
“ Nggak Tri semua aman, gak ada apa-apa, kemarin bapak dengar dari Sinta kamu pergi ke Pulau Dewata ya??”.
“ Betul Komandan mohon maaf belum sempat mengabari”, sambil menelpon dari kejauhan kulihat Alex merebahkan diri di ranjang, tak bisa menyembunyikan kekesalannya pada gangguan ini, “ Ada yang bisa Tantri bantu Komandan?”, aku melanjutkan percakapan dengan Komandan Hendri.
“ Iya, kamu masih ingat gak Tri sama anakku Jaka?”.
“ Siap masih ingat Komandan, Tantri gak bisa lupa sama dia si Jaka Jack”.
“ Makasih kamu masih ingat sama putraku Tri. Hanya kamu lho yang berani manggil dia jack. Sekarang dia baru saja lulus dari Akademi Kepolisian”.
“ Wah hebat banget, berarti Komandan sudah punya penerusnya sekarang. Selamat komandan!”, sambil bicara, aku mulai berjalan sambil memakai mantelku kembali, berusaha melangkah menjauh dari Alex. Bagaimanapun aku masih merasa bersalah karena pekerjaanku mengganggu keintiman kami yang sudah diubun-ubun.
“ Iya kamu pasti tau Tri, sejak di Akademi Jaka naksir berat sama kamu??”.
“ Siap???masa sih Komandan?”.
“ Betul Tri, Jaka selalu curhat ke Bapak soal ketertarikannya kepadamu. Sekarang dia sedang ada tugas di Polda Pulau Dewata, dan kalo kamu mengijinkan, serta tidak berkeberatan, pagi ini jam 9 dia mau jemput kamu. Gimana Tri bersediakah kamu??”.
“………….”,

Hening aku terdiam sesaat. Bagaimana ini??? Yang sekarang menelponku adalah Komandan Hendri yang begitu kukagumi. Sepanjang sejarah dinas di Kepolisian tidak pernah sekalipun aku menolak perintahnya. Gaby sebagai contoh, ketika diminta mengorek keterangan darinya, dengan berbagai cara aku berusaha manjalankannya. Tapi sekarang masalahnya, dari nada telponnya, Komandan Hendri terdengar sangat ingin menjodohkanku dengan putranya Jaka. Bila aku menyanggupinya bagaimana dengan Alex??.

“ Tri??”.
“ Siap Komandan, mohon ijin”.
“ Kalo gak bisa gak apa kok Tri, nanti Bapak bilang ke Jaka kalo kamunya lagi sibuk”.
“ Eeee bisa Komandan, nanti jam 9 Tantri siap”.
“ Wah bener kamu bisa Tri?? Jaka pasti seneng banget. Malah Bapak ikut seneng kalo kamu sanggup”.
“ Iya benar Komandan, mmm ijin Jaka gak usah jemput ke tempat Tantri Komandan! nanti biar Tantri yang berkunjung ke Polda untuk menemui dia. Bagaimanapun sekarang beliau adalah Inspektur Jaka, bukan Jack yang dulu. Sebagai Inspektur tentunya Tantri adalah anak buahnya dan harus menghormati pimpinan”.
“ Tri dia tetep Jaka yang dulu, gak berubah. Kamu gak usah mandang pangkatnya ya!”.
“ Siap Komandan”.
“ Kalo dia kurang ajar sama kamu jangan ragu lapor ke bapak!”.
“ Siap terima kasih atas perhatiannya Komandan”.
“ Bapak yang ngucapin terima kasih banyak Tri, atas segala bantuan dan kasih sayang yang telah kamu berikan selama ini ke keluarga Bapak. Nanti Bapak ijin kasih nomermu ke Jaka ya! biar nanti dia yang menghubungi kamu langsung”.
“ Siap Komandan Tantri jadi gak enak sama Komandan, kalo Komandan sampe minta ijin begitu”.
“ Inikan bukan lagi masalah kedinasan Tri, tapi masalah hati, jadi Bapak yang harus minta ijin. Ok kalo begitu Tri nanti Jaka akan menghubungi kamu. Terima kasih banyak ya!”.
“ Siap Komandan terima kasih”.

Kututup sambungan telpon dengan berjuta pikiran yang menari di benakku.
“Tri bagaimana ini, bukankah kamu mau liburan disini bersama Alex? kenapa kamu terima begitu saja permohonan Komandan Hendri??? Namun disisi lain bukankah kamu adalah bawahan sekaligus anak kesayangannya yang selalu patuh terhadap perintahnya ? lantas harus bagaimana Tantri???”, kicauku pada diriku sendiri.

Sambil memendam sejuta pikiran, kembali kumasuki kamar Alex.
“ Bagaimana ya caraku memberitahukan kepadanya??. Bahwa di hari kedua liburan kami ini, aku akan membuat semua rencanana perjalanan yang telah disiapkannya untukku menjadi berantakan.”. Aku betul-betul bingung.

“ Siapa yang nelpon Mbak??”
“ Komandan Hendri Lex??”.
“ Ada apa??”, tanyanya dengan sangat ingin tau, “ Mbak disuruh pulang??”.
Kutatap wajahnya yang penuh kekecewaan.
“ Hush gak usah pikirin kerjaan mbak Lex, sampe mana kita tadi he he”, godaku padanya sambil melepas kembali mantel mandiku, dan langsung telanjang bulat di hadapannya.

Meski awalnya terlihat sangat kecewa, ketika melihat kemolekanku Alex mendadak bangkit sambil tersenyum nakal. Cekatan dia kembali memegang tengkukku dengan keras, mengulang kembali pertunjukan permainan kekuasaannya yang belum tuntas.
“ Sampe mana?? hmmm sampe kamu orgasme sampai basah kuyup Tantri”, katanya sambil menatap lekat mataku.
“ Aku bahkan belum basah Le…x”.
“ Komandan! panggil aku Komandan Tantri!”
“ Mmaaf, aku bahkan belum basah Komandan”, godaku sedikit sambil menantangnya.
“ Mmmmuuuuumm”, dia langsung menciumku dengan brutal.
“ Kalo gitu aku akan mandiin kamu sayang!”, ujar Alex sambil menggiringku masuk ke kamar mandi.
Ruangan kamar mandi hotel ini sederhana, tapi cukup bersih. Didalamnya tidak ada bath tube, hanya ada shower lengkap dengan handuk dan peralatan mandi.

Alex memelintir tanganku kebelakang. pagi ini aku menjadi tawanan baginya. Sambil memegang tanganku yang terlipat kebelakang, dihadapkannya tubuhku ke hadapan cermin kamar mandi dengan sorotan lampunya yang terang.
“ Lihat tubuhmu sayang, sexy sekali bukan??”, katanya padaku.
Rupanya sensasi melihat pantulan diriku sendiri di hadapan cermin, ditambah adanya seorang pria yang asyik memegangi tanganku, menghadirkan rangsangan tersendiri.
“ Apa yang kamu mau lakukan padaku Komandan??”, bisikku kepadanya dengan nada yang menggoda.
“ Aku akan masukkan senjataku ini ke dalam sini Tantri”, jawabnya sambil tangannya mengolesi area vaginaku.
“ Ummmmm”, aku mendesah tertahan, menerima rangsangannya di vaginaku yang telah gundul sempurna.
“ tapi sebelumnya….mari kita mandi dulu..”.
Tergesa-gesa dia mendorongkku ke arah shower. Tanpa melepas kuncian tangannya, dengan satu tangan dia nyalakan semprotan shower dan airnya segera menyembur ke arahku.
“ Brrruusssssssshhhhh”.
“ Ouuuggghhhh”, aku sedikit gelagapan karena dihantam semburan air, dengan posisi Alex yang berada di punggungku untuk menahan tubuhku agar tak kemana-mana sekaligus mengatur bagian tubuhku yang harus mendapat semprotan air.
“ Ahhhhhh Komandannnn Alex,,, oouuuggghh”, aku mulai gelagapan, ketika Alex mendorong tubuhku di suatu posisi yang membuat payudaraku deras tersiram air.
“ Angkat tanganmu Brigadir! biar semua air memancar ke payudara montokmu”, Kini dia mengangkat kedua tanganku ke atas, kemudian melipat pergelangan tanganku ke belakang kepala dan menguncinya kembali.

kini aku seperti diborgol oleh tangannya, dengan air shower yang tak henti menyembur membasahi payudara, ketiak, perut, rambut, dan seluruh tubuhku.
“ Kamu sexy basah-basahan begini sayang!! Ouuugghhhhh”, katanya sambil mendaratkan ciuman di bahuku.
Puas melihatku basah kuyup, dia melangkah ke hadapanku.
“ Kamu sudah basah kuyup sekarang! Sekarang ayo kita ke kaca lagi”. ujarnya sambil kembali membawa tubuhku yang basah kuyup ke arah kaca rias.
“ Tetap lipat tangamu ke atas sayang!, kamu nakal hari ini, jadi Komandan akan mengikat tanganmu”, diambilnya handuk kecil yang ada di atas jemuran, ,kemudian diikatnya ke kedua tanganku yang masih terlipat kebelakang kepala.
Setelah yakin ikatannya cukup kuat Alex berbisik kepadaku.
“ Siapa Komandannya sekarang Tantri?? Dia yang tadi nelpon kamu ATAU AKU???”.
“ Kamu komandannya Alex. Hanya kamu Komandannya”.
“ Jangan kamu berani menurunkan tanganmu ya!!! Kamu nakal sudah mengangkat telpon tadi. Aku kecewa! sebagai hukumannya kamu jangan bergerak! apapun rangsangan yang akan kamu terima JANGAN KAMU BERANI BERGERAK! . Dan pastikan matamu tetap melihat ke cermin! Kamu akan lihat sendiri bagaimana ekspresi wajahmu yang dimabuk birahi!”.
“ Sssiiap Komandan Alex, maafkan kesalahan Tantri tadi”.
Alex turun ke bagian bawahku. agak kasar dia paksa kakiku mengangkang. Dalam posisi kaki terangkat, dan tangan terangkat terikat kuat, aku menjadi begitu tak berdaya.
“ OOuuugghhh ahhhhhhh…akkkkhhhh”.
Aku langsung mendesah hebat saat Alex dari bawah sana mulai mengoralku. Lidahnya dengan begitu lincah masuk menusuk, dan bermain-main di vaginaku yang terkangkang lebar.
“ Oooooooouu Myyy Goooooodddd”, jeritku ketika Alex dengan tangannya membuka celah vaginaku, yang masih terlindung selaput keperawanan, dan mulai berusaha menyeruak masuk ke dalamnya. ada perasaaan enak sekali, sekaligus sakit yang mengiris ketika dia melakukan itu.

Ekspresi wajahku di cermin benar-benar terlihat binal. Setelah awalnya wajah itu begitu normal, kini warna merah di seluruh pori-pori wajahku mulai terhampar. Hal ini masih ditambah dengan ekspresi campur-campur yang mewarnai eksotisme wajahku. Perintah Alex sudah jelas, pandanganku tidak boleh beralih dari cermin. pantulan kaca yang tiap detik kulihat menampilkan sosok wanita yang histeris menahan ledakan dalam kemaluannya yang bia saja meledak kapanpun.
rasanya tak lama ketika Alex tadi memulai serangannya, aku langsung merintih mendapat orgasme ketiga hari ini. Kenapa terlalu cepat?? tampaknya melihat kebinalan wajahku sendiri membuatku segera meledak.
“ aggghhhhh ahhhhhh ahhhhh uuuuu………”. Aku orgasme hebat dengan kepala yang tertengadah ke langit-langit. tak sanggup kupandang lagi wajahku di cermin dan kupejamkan mataku. Rasanya begitu hebat rasa orgasme yang ketiga ini, hingga aku harus beringsut mundur merapatkan punggungku ke dinding agar tidak terjatuh.
“ He he he enak Tantri!”
“ Huhh…huhhh…huhhhh enak banget Kkoomandan Alex..huh..huhhh..”.
Merasakan telah berhasil membuatku orgasme Alex melepas ikatan di tanganku, hingga tanganku kini bebas.
“ huhhh…huhhh…huhhhhh”, aku masih terengah-engah akibat orgasme yang diberikannya.
“ He he he nikmati sampai tuntas sayang”, goda Alex sambil memegang punggungku.

Kami berdua dipersatukan dalam daya tarik seksual yang sama- sama besar. Bersama kami ingin berpetualang menikmati setiap lekuk tubuh pasangan dan begitu ketagihan untuk membuat puas pasangan kami. Saat Alex berhasil berkali-kali membuatku orgasme, apakah akan kudiamkan dia begitu saja?? tentu saja tidak.

Ketika Alex sedikit lengah, kulancarkan serangan balik kejutan dengan memelintir tangannya untuk menjatuhkannya ke lantai.
“ ouuugghhh”, lenguhnya agak kesakitan. Begitu dia roboh, tanpa menyia-nyiakan waktu kuikat tangannya ke tiang dekat wastafel kaca rias menggunakan handuk yang tadi digunakannya untuk mengikatku.
“ Sekarang giliranku Komandan Alex!”. kataku sambil mulai memberikan hand job kepadanya.
“Aaaagghhhh shiiiittttt fuccckkkkk, Tantri kenapa??? Ahhhh aku Komandannya Tantri ahhhhhh”, Alex terus menjerit-jerit seakan tidak terima perannya kuambil alih.
Rasanya begitu berkuasa diriku, melihat Alex terlentang sambil terikat meronta-ronta , dan tanganku begitu asyik mengocok-ngocok kemaluannya yang telah ereksi maksimal. Ekspresi wajahnya yang histeris menjadi hiburan tersendiri buatku. Yang paling membuatku senang adalah ejakulasinya sepenuhnya berada dalam kendaliku. Kukocok begitu kencang penisnya seolah ingin membuatnya ejakulasi namun kemudian kuhentikan. Bagaimana ekspresi wajahnya ketika menerima perlakuan itu??oow dia kesetanan. Bayangkan peristiwa itu kuulang sepuluh kali, kemudian kutambah sepuluh kali lagi, bukankah weajahnya menjadi merah padam kehitaman karena ejakulasinya tak kunjung sampe?.
“ Tantrii ampuuun jangan dipermainkan begini anuku, buat aku nyemprot Tantri!”.
“ Bawa kamu ngapain Komandan?? Tantri gak dengar”.
“ BAWA AKU NYEMPROT TANTRI OOO FUCKKK KENAPA KAMU BERHENTI LAGI….AHHH”.
“ Ooow Komandan Alex mau nyemprot??”.
“ Iya Tantri please!”.
“ Yang keras donk Komandan ngomongnya!”.
“ Ahhh shiit TANTRI PLEASE BAWA AKU NYEMPROT SAYANG!!!”
“ Siap As Your wish Komandan hup”, kukocok sekencang-kencangnya penisnya agar segera lepas beban di ubun-ubuunnya.

“ crrrrotttt…crooottt…crooot..”, tak lama kukocok, lahar putih yang tertahan lama itupun akhirnya kembali tumpah ruah ditanganku.
“ Aggggghhhh Tantriiiiii…..KAMU NAKAL AHHHHHHHH”, jerit Alex tak tertahankan saat akhirnya kuantar menuju ejakulasi yang super.
Kubiarkan seluruh denyut dan getaran di tubuhnya yang begitu histeris berhenti dengan sendirinya, kemudian kupeluk dengan mesra tubuhnya yang masih terikat. Tak lama ikatan itupun kubuka dan kami untuk pertama kalinya dapat mandi bersama. Dengan penuh kemesraan kami saling menyabuni dan bergantian tersiram air yang memancar deras dari atas shower.

Akhirnya ritual mandi kamipun selesai. kembali kukenakan mantelku, sedang Alex hanya mengenakan handuk membelit pinggangnya.
“ Lex”.
“ Iya Mbak?”.
“ Mbak mau minta maaf banget”.
“ kenapa Mbak??”.
“ Pagi ini Mbak harus ke Polda ada tugas dari atasan yang menelpon tadi”.
Wajah Alex seketika berubah kecewa dan emosional.
“ Kok gitu sih Mbak???Liburan inikan aku rancang buat Mbak, karena Mbak sedang dapet cuti. Kenapa??Kenapa ditengah cuti juga Mbak masih harus diganggu sama kerjaan??Lagipula inikan di Pulau Dewata, jauh dari kabupaten kita. Kenapa Mbak????”. Alex memberondongku dengan rentetan pertanyaan yang begitu banyak.
“ Lex, dengerin Mbak dulu”.
“ Alex kira hanya di daerah kita aja Mbak harus kerja siang malam, Di pulau ini yang jaraknya ribuan kilometer dari tempat kita, kenapa masih juga Mbak harus kerja????”.
“ ALEX DENGERIN MBAK DULU!!!”. Bentakku kepadanya agar sejenak berhenti bicara, dan mendengar alasanku.
“ Mbak itu Polisi Lex kamu jangan lupa! wilayah kerja kami ya di seluruh penjuru negeri ini. Inilah resiko yang kamu harus tanggung bila berani pacaran sama Mbak. Harus sanggup setiap saat merelakan Mbak berangkat tugas ketika dibutuhkan. TUGAS KEPADA NEGARA ADALAH YANG UTAMA DIATAS SEGALANYA Lex ”.
Kulihat wajahnya mulai dapat menerima penjelasanku.
“ Masih cinta gak kamu sama Mbak, bila melihat tuntuntan kerja Mbak yang seperti ini???”.
“ Alex tetap cinta mati sama Mbak. tapi….”.
“ Tapi apa Lex??”

“ kapan waktumu bisa full buatku Mbak??”.

Aku terdiam. ini pertanyaan yang tak dapat kucari jawabannya. selama aku masih mengabdi pada Negara, entah kapan waktuku dapat total kucurahkan untuknya.
“ Mbak gak tau Lex”.
“ Ya udah Mbak, Alex rela pagi ini Mbak pergi ke Polda, hati-hatilah dijalan ya Mbak!”, katanya sambil masih memendam kekecewaan.
“ Maafin Mbak ya sayang..Mbba…….”.
“ Udah gak usah bicara apa-apa lagi Mbak, Tugas untuk Negara adalah yang utama. Alex ngerti”.

Itulah percakapan dialog terakhirku dengan Alex pagi itu. Mungkin karena saking kecewanya, atau mungkin ngambek terhadapku, dia tidak menemaniku sarapan pagi. Alex tidak keluar dari kamar sepanjang pagi itu.
“ Lex Mbak berangkat dulu ya! kamu jangan lupa makan!”.
Kembali tidak ada jawaban dari dalam kamar. Aku memutuskan harus meninggalkan Alex pagi ini, meskipun dia masih ngambek, karena jadwal pertemuanku dengan Inspektur Dua Jaka jam 9 tepat pagi ini. Bergegas aku membooking taxi kepada pihak hotel. Sebenarnya aku masih sangat merasa bersalah terhadap Alex tapi harus bagaimana lagi.

Ketika akhirnya taxi yang kutunggu datang, segera kunaiki untuk membawaku menuju Polda tempat pertemuan dengan Inspektur Jaka.



———–

“ MBAK TANTRI KETEMU DI KANTIN DEPAN POLDA AJA YA, GAK USAH MASUK KE DALAM MARKAS”.

Itulah salah satu sms yang dikirimkan Jaka kepadaku. Kuturuti kemauannya saat melihat posisi kantin yang dimaksudkan, dan meminta Pak Sopir berhenti tepat di depannya. Ketika hendak membayar, tiba-tiba muncul sosok seorang pria tinggi tegap yang langsung mengetuk pintu mobil.
“ Udah Mbak Biar Aku saja yang bayar!”, ujarnya dengan senyum menawan tersungging di bibirnya.
Dengan sigap dia segera menyelesaikan pembayaran dengan pengendara taxi.
“ Selamat siang Mbak Tantri, apa kabar? masih ingat sama Jaka?”.
“ Siap masih ingat Komandan”, jawabku dengan posisi sikap sempurna penuh penghormatan terhadapnya. Meskipun usia Jaka lebih muda dua tahun dariku, namun kini dia adalah seorang Inspektur Polisi dengan pangkat yang jauh diatasku. Secara hirarkis maupun peraturan korps aku harus menghormat kepadanya.
“ Gak usah begitu Mbak Tantri! biasa aja Jaka masih seperti yang dulu kok! ayo naik mobilku saja biar kita gak kelamaan disini!”.
Kuturuti kemauannya dan naik ke mobil sedan warna hitamnya yang diparkir tak jauh dari kantin.

“ Lama tak jumpa Mbak semakin cantik saja!”, ujar Jaka sambil memperhatikan penampilanku. Hari ini aku memilih menenakan kemeja ketat pendek berbahan dingin, dibalut celana jeans ketat. Kuanggap penampilanku tidak istimewa, seperti Polwan pada umumnya saja. Tentu tak bisa disamakan pakaian yang kukenakan sekarang dengan yang biasa kupentaskan ketika berhadapan dengan Alex.
“ Biasa aja, Komandan Jaka, penampilan saya begini saja dari dulu”.
“ Udahlah Mbak gak usah panggil Komandan, dulu juga Mbak biasa godain aku pakai nama jack segala kan ha ha?”.

Aku sedikit tersipu. bagaimanapun hubunganku dengan Jaka memang telah berlangsung lama. Sebenarnya kami bukan berpacaran, justru lebih tepatnya saling menghargai. Sejak aku lulus pendidikan Bintara Polwan dan langsung ditempatkan di Kabupaten tempat tugasku sekarang, aku memang hidup jauh dari keluarga. Saat itu Komandan Hendri yang begitu baik terhadapku sering menganggapku sebagai anaknya sendiri, dan menyuruhku sering main ke rumahnya bila tidak ada tugas.

Saat itu Jaka masih kelas 3 smu. Dia anak pertama dari tiga bersaudara. adiknya masih kecil-kecil. Saat pertama kali mengenalnya, kata pak Hendri, dia anak yang sangat nakal. Kerjaannya balapan motor, berantem dan gonta-ganti pacar. Kata Pak Hendri, sudah habis kesabarannya membujuk Jaka agar mau mengikuti jejaknya menjadi Polisi. “ Anak itu sudah susah sekali diatur”, demikan kata Komandan Hendri kepadaku dalam sebuah kesempatan.

Namun kabar yang kudengar dari keluarganya, Jaka mulai berubah berkat melihat kedatanganku pada suatu sore. Saat itu masih berbusana Pakaian seragam Lantas, aku berkunjung ke rumah Komandran Hendri. Pada waktu yang sama Jaka baru pulang sekolah dan melihat penampilanku. Dalam pandangan pertama ini Jaka terlihat sangat terpesona pada kecantikanku. Kata Pak Hendri kemudian dia jatuh cinta padaku, pada pandangan pertama.

Aku sendiri tidak pernah salah tingkah dihadapannya. Malah aku sering meledeknya bila kudapati dia masih asyik bermain motor sampai malam hari. Dalam sebuah kesempatan kutegur dia, “ Woi Jack, kamu kapan belajarnya main motor terus! kasian tuh Ibu sama Bapakmu khawatir terus sama masa depanmu. Ayo masak kalah sama Mbak, gini-gini walau banyak kerjaan, belajar tetap yang utama buat Mbak. Masak tukang balapan kalah sama perempuan soal belajar?? malulah Jack”.

Mungkin karena ledekanku itulah dia jadi semangat belajar, dan tak lama berselang kudengar dia berhasil di terima masuk ke Akademi. Sejak Jaka masuk Akademi, hingga detik ini, aku tidak pernah lagi mendengar kabar darinya.

“ Iya Mas Jaka. Kupanggil Mas saja ya. bagaimanapun kamu sekarang atasanku dan harus kuhormati”.
“ Mas Jaka boleh deh Mbak, enak juga didengernya nama itu”.
“ Apa kabarmu Mas?? gimana kehidupan di Akademi? rasanya udah lima tahunan kita tidak ketemu??”.
“ Baru tiga setengah tahun kali Mbak, jangan dilama-lamain donk. Kehidupan di Akademi sangat displin Mbak. Awalnya sangat berat, sering rasanya aku ingin kabur saja dari sana, untungnya…”
“ Apa untungnya Mas??”.
“ Ada dirimu yang selalu menemaniku Mbak dalam tiap relung kesedihanku di sudut Akademi”.
“ Becanda kamu Mas! aku bahkan belum pernah menginjakkan kakiku disana, gimana caraku membantu Mas??”.
“ Iya bener! emang Papa belum pernah cerita ya, perihal foto Mbak yang selalu nyelamatin Aku selama pendidikan?”.
“ Nyelamatin kamu Mas?? belum tuh Komandan gak pernah cerita. Gimana ceritanya sih Mas? kamu buat aku penasaran saja”.
“ Jadi gini ceritanya Mbak ; waktu pendidikan di Akademi, setiap Junior diharuskan membawa foto pacarnya oleh para Senior. Sering ajang ini menjadi momen untuk saling pamer kecantikan pacar masing-masing. Seorang Taruna dengan pacar yang cantik akan dipuji-puji, sedang yang belum punya foto pacar akan diledek abis-abisan. Tau gak Mbak, berkat fotomu aku selalu menang dalam kontes itu, bahkan semua seniorku sepakat memuja kecantikanmu sewaktu kutunjukan fotomu kepada mereka. Kata mereka, “hebat banget kamu, belum juga lulus udah dapet pacar Polwan cantik banget kayak bintang film begini, minta nomer hapenya donk”, tapi kamu gak usah khawatir Mbak tentunya tidak ada diantara mereka yang memujamu itu berhasil memperoleh nomer ponselmu”.
“ Fotoku Mas? perasaan aku gak pernah kasih fotoku ke kamu”.
“ Iya Papa yang kasih”.
“ Ahh pantas. waktu itu Komandan memang pernah minta fotoku, perintah Beliau katanya harus make baju dinas tapi bergaya yang cantik, kuturuti saja keinginan Beliau waktu itu karena memang gak tau mau diapakan foto tersebut. Gak nyangka ternyata foto itu akan dikasihin buat kamu Mas. O ya ngomong-ngomong, dulu kamu kan banyak banget pacarnya. Kenapa di Akademi yang dibawa malah fotoku??, pacarmu dulukan cantik-cantik semua, ada yang cheerleaders, model sampul, anak pejabat…”.
“ Tapi gak ada diantara mereka semua yang menandingi kecantikanmu Mbak. Sejak aku pertama melihatmu aku langsung jatuh cinta kepadamu. Kamu bagaikan bidadari yang turun ke bumi. Begitu kusesali hidupku, kenapa sepanjang perjalanan hiduku tidak pernah menyadari adanya kecantikan yang begitu indah seperti dirimu. Kehadiranmu membuatku memutuskan hubungan dengan semua pacarku. Dan secara otomatis di dompetku yang ada hanya fotomu”.
Ujarnya sambil mencabut dompet, dan membuktikan ucapannya dengan memperlihatkan fotoku empat tahun yang lalu masih menempel lekat di dompetnya.

“ Untuk Mbak ketahui , di angkatanku Mbak itu adalah wanita paling cantik yang sangat ingin dilihat oleh sesama Taruna. Mereka selalu bertanya kapan Mbak akan di bawa ke asrama. Sayang keadaan membuat hingga lulus mereka belum pernah melihat secantik apa Mbak yang sebenarnya”.
“ Aku ini gak cantik Mas. Hentikan nyebut-nyebut seolah aku itu begitu cantik, sebab itu dusta. Mungkin Itu karena pengaruh fotoku aja Mas, jaman sekarangkan foto itu gampang diedit.
“ Mbak denger aku ya, MBAK ITU CANTIK ALAMI TITIK. Banyak wanita sekarang memoles penampilan luarnya begitu rupa agar cantik, tapi lupa memoles hatinya. Apa hasilnya?? kecantikannya luntur seketika dimakan oleh sifat buruknya sendiri. Tapi kamu berbeda Mbak. Hatimu yang begitu indah, dipadu dengan tubuhmu yang cantik mempesona, menjadi kombinasi yang begitu manis. Orang yang hanya cantik itu cepat ngebosenin. Tapi orang cantik dan manis itu kekal cantiknya. Gak percaya?? foto Mbak sendiri saksi bisunya. Bayangkan baru fotonya aja sudah bikin gempar seluruh asrama Akademi, apalagi aslinya. Dulu juga pada saat kami boleh mengajak pasangan masing-masing ke Akademi untuk pesta dansa, sebenarnya aku minta Papa untuk ngundang Mbak datang ke sana, tapi Papa gak berani, katanya Mbak lagi sibuk. Aku ingin menunjukkan kepada mata teman-temanku bahwa inilah “kecantikan yang sejati”. Kecantikan yang tidak perlu dipoles dengan make up yang tebal, tapi memancar secara alami sampai ke bintang”.

Mendengar itu aku tersipu malu karena sanjungannya yang terlalu berlebihan. Setelah Alex mungkin Jaka adalah pria kedua yang terang-terangan memuja kecantikanku. Pertanyaanku di pantai kemarin belum tuntas terjawab ; “ APAKAH KECANTIKAN ALAM AKAN MENELAN KECANTIKANKU, ATAU SEBALIKNYA KECANTIKANKULAH YANG AKAN MENELAN KECANTIKAN ALAM?”. Mendengar pujaan Jaka barusan aku mulai bertanya-tanya ; “jangan-jangan bila manusia mengetahui betapa cantiknya sebenarnya dia, alam semesta ini akan bersujud di bawah kakinya”.

Kucoba untuk mendengarkan dengan lebih baik curahan hatinya. Bagaimana ungkapan perasaannya terhadap diriku. Jujur aku sama sekali tidak menyangka ada seorang Pria yang telah dan sanggup memendam cintanya begitu lama kepadaku, TANPA PERNAH BERINTERAKSI DENGANKU. Ditambah pria ini berasal dari keluarga terpandang yang bukan orang sembarangan. Kok bisa dia menghidupkan diriku dalam kehidupannya bahkan tanpa melibatkan sosok tubuhku yang sebenarnya?. Hanya dimilikinya satu fotoku sudah cukup untuk menghadirkanku tiap detik ke dalam hatinya. Bandingkan dengan para Pria jaman sekarang, yang telah memiliki beribu-ribu foto selfie kekasihnya, namun hanya mendatangkan rasa “konak” di kemaluannya tanpa sedetikpun kekasihnya mampu singgah di hati mereka.

“ Maafin Jaka kalo lancang udah mengungkapkan perasaan Jaka ya Mbak. Tapi baru sekarang momen yang pas ini datang, untuk mengungkap kejujuran hatiku kepadamu. Sejak pandangan pertama Aku jatuh cinta kepadamu, dan sejak hari itu hanya namamu yang terpahat dalam relung hatiku.”.

“ Mas Jaka terima kasih sudah berani jujur padaku..aku tidak menganggap Mas lancang kok.Setauku Cinta memang tak pernah dapat diterka. Sedetik ini kita bisa mencintai sesuatu yang ternyata berupa ilusi saja, detik berikutnya cinta sejati kita bisa saja datang tanpa diundang”. Kataku dengan hati yang bimbang. Sekilas bayangan Alex melintas di kepalaku.

“ Mbak mungkin nganggep aku gombal. Tapi sejak Mbak menyuruh si Jack untuk giat belajar, sejak saat itu pula aku merubah total hidupku. Kurubah pola hidupku yang tak karuan menjadi lebih baik. Dan seperti kata Mbak tadi, yang terpenting adalah telah kumusnahkan semua sosok wanita “ilusi” yang telah menyaru sebagai pacarku selama ini, digantikan oleh figur cinta sejati dalam hatiku yaitu Mbak Tantri seorang.

“ Sampe segitunya kamu memujaku Mas. Kamu belum mengenalku dengan baik. Nanti kamu bisa kecewa berat lho kalo mengetahui seperti apa sifat dasarku??”.
“ Gak mungkin kecewa Mbak, cinta sejati itu hanya menangkap keindahan kekasih, dan tidak ada waktu dengan kelebihan atau kekurangannya”.
“ Sungguh beruntung nanti istrimu Mas, mendapat suami yang sebijaksana dirimu”.
“ Semoga istriku nanti dirimu Mbak”.
“ …………”.

Begitu panjang lebar Jaka menjelaskan betapa besarnya pengaruh kehadiranku dalam kehidupannya. sampe dia secara terang-terangan menyatakan keinginannya untuk memperistriku. Jujur bahkan sebagai seorang wanita, yang hingga hari ini belum mengenal dengan terang hakikatnya CINTA, aku tak menyangka begitu besar kekuatan CINTA. Pada masa hidupku sekarang, dimana dunia dinilai semata-mata hanya dari logis atau tidaknya sebuah persoalan, elemen cinta yang tak masuk akal menjadi ilmu baru yang harus kupelajari. Jaka tak perlu mengenalku, hanya cukup melihat fotoku, untuk menetapkan hatinya untuk mau meminangku. Aneh sekali bukan?.

Dari ceritanya tadi Jaka juga menceritakan , betapa gambaran wajahku di kepalanya telah menemani tiap detik kehidupannya dalam menghadapi kerasnya kehidupan asrama. Aku yang sebenarnya baru ”kembali” mengenalnya, jadi langsung cepat terhubung akibat kalimat itu. . Apalagi pekerjaan kami yang sama, membuat bahasa kami lebih cepat nyambung. Berbeda dengan Alex yang begitu awam soal duniaku, Jaka terlihat sangat menguasai dunia Kepolisian. Ungkapannya soal ; tiap detik memikirkanku tadi, belum pernah terucap dari bibir Alex.

Dalam dunia kami para Brigadir wanita di Kepolisian, mendapat pacar apalagi suami seorang Perwira merupakan impian terbesar. Aku tak terkecuali masuk ke dalam kelompok wanita yang berfantasi tentang hal itu.
Sudah lama aku memimpikan memiliki pacar seorang Perwira, namun impian itu tak kunjung terwujud. Disinalah mungkin keterbatasan pikiran. Ia tidak mampu melihat jauh sebuah persoalan. Seandainya saja aku mengetahui sebelumnya, bahwa seorang Perwira Polisi, naksir berat padaku, jauh sebelum munculnya Alex dalam kehidupanku, mungkin dilema persoalanku tidak mungkin berpotensi serumit sekarang. Awalnya hanya ada Alex sekarang muncul Jaka. Mereka berdua terasa amat sangat mencintaiku.

“ Mau kemana kita Mas??”
“ Ke tempat dinginnya Pulau Dewata Mbak. Menurutku dua insan manusia yang sedang dibakar cinta harus “diademin” agar lebih waras he he. Meski dalam hal ini yang dibakar cinta tampaknya hanya diriku seorang saja”, katanya sambil melirik kepadaku.
Aku sendiri tidak sanggup menanggapi godaannya. Kehadiran Alex tetap membuatku berfikir untuk menahan diri untuk memberikan tanggapan.

“ Ah Tantri rasanya baru kemarin kamu merasa tidak ada seorang Priapun yang tertarik padamu, sekarang ada dua pangeran yang menghamba cintamu. Bagaimana keputusanmu Tantri??”, bisikku pada diri sendiri.

Perjalanan yang kami tempuh menuju “kawasan puncaknya” Pulau Dewata sedikit berkelok-kelok. Setelah melewati beberapa daerah yang merupakan lumbung padinya Pulau Dewata, perjalanan kami mulai menanjak dan berkelok-kelok seperti hendak mendaki gunung. Di kiri kanan kulihat kabut mulai turun menyelimuti kawasan ini dengan indahnya. aku tidak menyangka ada kawasan sedingin dan sesejuk ini di Pulau Dewata. Rasanya baju yang kukenakan tak sanggup menahan hembusan angin yang menembus tulangku.

Sepanjang jalan banyak bus pariwisata maupun kendaraan pribadi yang menuju kesana. Kami saling bertukar tawa dan canda, ketika di sebuah tikungan ada patung Polisi dengan sikap istirahat sempurna menjaga para pengendara.
Setelah rangkaian jalan berkelak-kelok akhirnya kami tiba di lokasi.
Dari jarak tiga kilometer sebelum lokasi parkir saja kami dapat merasakan indahnya hamparan danau yang terbentang indah di kaki gunung dengan ditemani kabut tipis. Setelah Jaka memarkir mobil kami menyelusuri keindahan kawasan wisata ini, yang seperti kawasan lain, juga memiliki bangunan tempat ibadah indah di tengahnya.

Jaka mengajakku berkeliling sambil terus memotetku dengan kamera poselnya yang canggih. Katanya fotoku sangat berharga.
Menghargai apresiasinya pada fotoku sebelumnya kubantu dia untuk mendapat poseku yang paling cantik. Dengan fasih aku belenggak-lenggok bagai foto model profesional dihadapannya, tentu tidak dengan gaya binal, seperti yang kupamerkan dihadapan Alex. Rasanya sekarang aku menjadi seorang wanita yang berperan berbeda ketika berinteraksi dengan Jaka. Lebih tepatnya wanita baik-baik. Tidak ada potensi kebinalan yang tiap saat dapat meledak.

Lelah berputar-putar berfoto sambil menikmati keindahan alam, aku mengajak Jaka untuk duduk di samping taman yang memiliki banyak minatur-miniatur hewan. Lelah juga rasanya kakiku untuk berjalan-jalan tiada henti sejak kemarin. Hawa dingin yang mulai menusuk tulangku juga menjadi penyebab kuhentikan aktifitasku sejenak untuk beristirahat.

“ Huuuff dinginnya udara disini…..”, kataku sambil menggemeretakkan gigi .
“ Pleekk”, tanpa disuruh Jaka memberi pelukan mesra kepadaku. Mendapat kehangatan jiwa dan raga seperti ini tentu aku jadi terdiam. Sebagian diriku sangat bahagia, sebagian yang lain mulai gelisah terhadap “perselingkuhan” ini.
“ Mbak kedinginan ya?”, tanyanya begitu lembut sambil memelukku hangat, kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban.
“ Gimana tawaranku tadi Mbak. Mau gak Mbak jadi istriku??”
“ Istri?? kita baru ketemu sekarang Mas”.
“ Enggak buatku tiap detik hidupku sudah kulalui bersamamu Mbak”.
“ Mas kamu masih belum mengenal siapa aku sebenarnya”.
“ Aku gak peduli siapa kamu, anaknya siapa, atau gimana keluargamu Mbak! yang kupedulikan hanya CINTAKU padamu”.
“……….”, aku hanya dapat terdiam menanggapi tawarannya.
“ Kalo kamu bersedia jadi istriku, aku akan membawamu bertugas menemaniku Mbak. Posisimu akan lebih enak karena Papa pejabat, semua kebutuhanmu sudah tersedia”.
Memang bila aku hanya berfikir ke arah sana begitu mudah dan indahnya hidupkuku bila bersuamikan Inspektur Jaka. Namun Alex?? bagaimana dengannya.

Jaka terus memelukku dengan penuh cinta dan kehangatan. Rasanya ingin lama aku bersandar di pelukannya untuk menghapus semua kegalauan masalah yang tiba-tiba hadir akibat kemunculannya yang tiba-tiba. Ketika aku tengah asyik termenung dalam lamunanku sendiri, tiba-tiba Jaka menengadahkan wajahku dan mencium bibirku. Ciumannya singkat tidak seperti Alex yang penuh nafsu. Jaka hanya menciumku sebagai ekspresi kerinduannya pada cintaku.
Ketika aku masih tersenyum simpul karena terkejut menerima ciumannya, dari kejauhan kulihat sekilas sesosok Pria yang melangkah terburu-buru sampai menabrak tong sampah yang berdiri diam di tempatnya. Sangat mencurigakan gerak-gerik pria ini.

Bunyi tong sampah yang jatuh, tentu mengalihkan perhatianku kepada sosok laki-laki mencurigakan ini. Dari belakang sosok ini kulihat mirip Alex, atau apakah dia memang Alex yang menguntit kepergianku sejauh ini???. Penasaran kulepaskan pelukan Jaka, “ Sebentar ya Mas”, kataku sambil bergegas menyusul sosok misterius yang berjalan terburu-buru itu, “ Mbak mau kemana kamu??” , tanya Jaka penuh kebingungan.

Dengan kemampuan lariku yang memang cepat, kuberlari untuk mengejar laki-laki itu. Rupanya dia mengarah ke parkiran sepeda motor. Makin kudekati semakin mirip dia dengan Alex. Betapa terkejutnya ketika kami telah berdekatan ternyata memang dia adalah Alex. Rupanya sedari pagi dia menguntitku.

“ Lex….kenapa kamu ada disini?? kamu ngikutin Mbak sampe kesini??”, berusaha kupulihkan nafasku sambil melihat wajah Alex yang terlihat berlinang air mata.
“ Mmmmbak Ttttuugasss apa harus jauhhh jauuh kesini??”, katanya dengan nada suara bergetar penuh emosi.
“ Lex kamu salah paham”.
“ Itttttu ppppacarmu ya Mbak hah???? Alex rela Mbbbak sama ddddiiia perwira Polisikan?? tinggi pangkatnya beda ama Alex yang rakyat jelata. Tttapii kenapa haruuus ngajak aku sejauh ini Mbakk?? hanya unntukk DISELINGKUHIN begini??? sakit tau Mbak hati ini”, ujarnya tanpa bisa lagi menahan tangisannya
“ Lex sayang denger dulu penjelasan Mbak…”.
“ Teruusin aja Mbakk kencannya! malam ini juga Alex pulang!. SSAKIT TAU MBAKK DIGINIIN ”, Alex terus emosi sambil menangis dengan hebat.
“ Bruumm brruummm bruuummm”, Alex menstarter motornya dengan meraung-raung dan mengabaikan segala penjelasan yang kuberikan. Langsung dipacunya sepeda motor itu dengan kecepatan tinggi.
“ LEX DENGAR DULU….DENGAR DULU PENJELASAN MBAK”.

Aku sangat cemas, malu dan sedih kepergok seperti ini oleh sosok laki-laki yang sebenarnya telah berkorban begitu banyak untukku.
“ Siapa laki-laki itu Mbak??”, dari arah belakang suara Jaka sedikit mengejutkanku, rupanya dia telah berhasil menyusulku.
“ Dddiia pacarku Mas Jaka…ya dia pacarku. Maafkan Aku Mas. Aku benar-benar tidak seperti dugaanmu”, aku mulai menangis di hadapan Jaka. Sebagai wanita hatiku begitu hancur mendapat perkataan Alex barusan. harga diriku hancur berkeping-keping.
“ Gak apa Mbak, maafin Jaka juga ya, telah membuat kalian berdua berkelahi. Bukan maksud Jaka Mbak, Jaka gak tau”.
“ hu..hu..huu”,.
“ Gak usah nangis Mbak. Ayo Mbak Jaka anter pulang ke hotel biar bisa cepet ketemu sama pacarnya”.

Sepanjang perjalanan aku terdiam dalam kesedihaan. Rasanya harus dimana kutaruh mukaku ini di hadapan Alex maupun Jaka.
Jaka sangat bijaksana dan tenang menghadapi kenyataan ini. Kuyakin hatinyapun baru saja hancur. Sosok wanita yang dipujanya setiap hari, selama bertahun-tahun, rupanya telah memiliki kekasih. tapi dia tetap berbesar hati dengan keadaan itu. Dihiburnya aku berkali-kali sambil menungkapkan betapa senangnya dia akan perjalanan hari ini. Begitu bersyukur dirinya telah dapat memboyongku untuk bertukar canda meskipun hanya beberapa jam saja. Dia juga berkali-kali meminta maaf menjadi penyebab pertengkaran kami sore ini, secara Jantan katanya dia siap menjelaskan duduk persoalan sebenarnya kepada Alex, namun secara manusia biasa tegasnya, selama janur kuning belum melengkung dia masih berharap pada cintaku akan berakhir di pelukannya.

Dengan penuh tanggung jawab, Jaka mengantarku sampai ke hotel. Menyadari diriku masih limbung ditemaninya aku sampai di loby hotel. Dibantunya aku untuk mengecek keberadaan Alex. dari resepsionis rupanya aku mendapat informasi kalo Alex telah meninggalkan kamar sedari pagi dan belum pulang sampai saat ini.

Aku duduk di loby hotel sambil gelisah, dengan ditemani Jaka yang selalu menguatkan kesedihanku. Walaupun kehadiran Jaka begitu berarti meredakan kecemasanku memikirkan keberadaan Alex membuatku begitu khawatir. Bagaimanapun perjalanan dari lokasi wisata ke hotel ini cukup jauh dan medannya cukup berbahaya.

“ Ibu Tantri mohon maaf ada telpon buat ibu”, kata resepsionis padaku.
“ Dari siapa Pak ??, kataku penuh kecemasan,” katanya dari Rumah sakit Bu”.
Rasanya jantung ini begitu kencang berdetak seperti ingin copot. Alex sayang ada apa denganmu sayang.
“ Gak apa Mbak Tantri, ayo Jaka temani nerima telponnya!”, Jaka menggandengku menuju resepsionis.
“ Maksih Mas”, bisikku dengan suara sedih menuju ke tempat telpon.
“ Halo Tantri disini, dengan siapa saya bicara??”.
“ Mohon maaf Bu Tantri kami dari Rumah Sakit S, apakah betul ibu penghuni kamar nomer 225? dari hotel xxxx??”
“ Betul sekali Pak. ada apa ya??”, tanyaku sangat penasaran sambil kuremas tangan Jaka.
“ Ibu kenal dengan penghuni kamar 227?soalnya kunci Ibu ada sama dia, dan kami kesulitan menemukan identitasnya”.
“ Iiiiiya kenal Pak dia pacar saya namanya Alex”, kuberdoa dalam dadaku ; “ Ya Tuhan Yang Maha Pelindung tolong lindungilah Alex”.
“ Ada apa ddeeengann Alex Pak??”.
“ Ooh Ibu pacarnya , Puji Dewa akhirnya kami berhasil menemukan kerabatnya. Mohon maaf kami harus menginformasikan berita kurang enak Bu…..”, jantungku langsung berhenti berdetak, kembali kerapatkan badanku ke arah Jaka, sebagai tindakan jaga-jaga bila tubuhku tak kuasa menghadapi berita yang akan segera kudengar. Doa tak henti kuucapkan ; “ Ya Tuhan kuatkanlah aku agar kuat menghadapi berita ini”
”.. Maaf sebelumnya Bu, tunangan Ibu mengalami kecelakaan tunggal di jalan raya..dia mengalami “head injury” dan sekarang sedang koma di ICU rumah sakit S”.
“ huuuuh”, aku langsung limbung sejenak hampir roboh, untung ada Jaka disisiku.
“ Ibu Tantri ibu masih disana…Ibu Tantrii..”.
“ Iiya saya masih disini Pak….”.
“ Ibu beserta keluarga kami tunggu sekarang di ruang ICU ya Bu, Bapak Alex sepertinya sangat memerlukan keluarganya disisinya! sebab kemungkinan hidupnya semakin melemah”.
“ Ssssiap pak,…siaap..saya akan segera meluncur ke Rumah Sakit”.
“ Klek” bunyi telpon ditutup bersamaan dengan tumpahnya air mata dalam diriku. Kupeluk Jaka yang begitu dewasa merespon tragedy ini.
Dibantu oleh Jaka aku dibantu duduk di kursi Loby, sambil dibawakannya segelas teh hangat untuk membantuku tenang.

Kedua tanganku langsung menutupi wajahku yang berhamburan kesedihan dan air mata. Kuberdoa lirih dalam hati, “ Ya Tuhan lindungilah Alex, kumohon Ya Tuhan lindungilah Alex hu hu huu”

——————

THE ART OF SURRENDER

Kedua telapak tanganku hanya bisa menutup wajah hina ini yang basah oleh linangan air mata. Dalam gelap malam yang tersembunyi oleh gemerlapnya lampu hotel, aku terbenam dalam kesedihan. Tanpa henti, kugelengkan kepala berusaha meyakinkan diri bahwa semua ini hanya mimpi buruk.

Tiap detik yang terlintas bagai di neraka. Bagiamana tidak? setiap sang waktu berdetak, ia selalu mengembalikan kesadaranku ; ini nyata dan sama sekali bukan mimpi. Alex tengah sekarat dan penyebabnya adalah diriku sendiri.

Pernahkah engkau mendengar istilah ; “cantik itu adalah kutukan” ?. Aku semula tidak mempercayai omong kosong itu, tapi sekitar 7 menit 42 detik lalu, aku mulai menyadari kata itu “bisa jadi” benar. Saat ini, bila ada orang menyebutku cantik, pasti aku akan menyodok hidungnya hingga patah. Tolong hentikan bualan itu!. Karena perkataan itu telah merampas kebahagiaan hidupku. Dulu, kala tak ada yang menyebutku cantik, rasanya tidak ada orang yang harus kusakiti. Tidak ada perasaan anak manusia yang harus kulukai.

“ Oooh Tuhan tolonglah hamba-Mu ini. Selamatkanlah Alex!. Ambil nyawaku saja Ya Tuhan , tapi…kumohon jangan ambil Alex”, demikian ratapan doaku dalam hati yang penuh dengan penyesalan diri..

Aku terus menangis menyesali diri. Tak puas hanya menangis, sebagai ekspresi putus asa yang mendalam kujambaki rambutku. Rasanya hidup ini tak ada artinya lagi. Buat apa aku hidup??. Tantri yang begitu disanjung sebagai Polwan yang jelita, rupanya hanya bisa melakukan “kejahatan” seperti ini. Bila rambut ini dapat kukorbankan untuk menghidupkan Alex kembali, maka akan kupangkas habis semuanya, demi membeli kembali kehidupan dan kebahagiaan Alex.

Dalam kekalutan aku merasa tertolong dengan kehadiran Jaka. Keberadaannya, setidaknya membantuku tetap “sadar ”. Sulit untuk bertindak layaknya “manusia” ditengah ujian yang demikian berat. Ketika ditimpa musibah, manusia hanya bisa berkeluh kesah. Semakin aku berdiam diri berusaha menyelesaiakan musibah ini , pikiranku semakin ganas berusaha membunuhku. Berulang kali terngiang di telinga ajakan pikiran yang menyuruhku untuk bunuh diri saja. “ Kamu tidak berguna Tantri. Kamu jahat. Kamu tidak berguna”, demikian rangkaian penghakiman tiada henti yang dilontarkan pikiranku sendiri. Penghakiman diri itu benar-benar membunuhku perlahan-lahan.

Beruntung ada Inspektur Jaka. Melihatku begitu sedih dan menyesali diri, dipeluknya tubuhku dengan kehangatan seorang pria dewasa. Kami sebagai wanita, sering merasa diri mampu menyelesaikan segala persoalan lebih baik dari kaum Adam. Apalagi di era emansipasi seperti sekarang ini, banyak diantara kami yang mulai melupakan “Fitrah” kami sebagai “wanita”. Makhluk yang memerlukan bimbingan kepemimpinan seorang Pria.

Bimbingan itulah yang kini kurasakan sangat berarti. Jaka yang begitu bijaksana mampu menjadi tempat curahan hati perasaanku yang bimbang. Tanpa ragu dipeluknya diriku erat. Dibelai rambutku dengan penuh rasa sayang. Dalam momen duka ini, aku mulai dapat merasakan cinta Jaka yang begitu besar terhadapku. Rasa kasihnya terasa demikian tulus, hingga sanggup melumerkan kekerasan hatiku.

Dengan begitu gagah serta penuh jiwa ksatria dia memelukku. Lewat pelukannya, Jaka seolah ingin menyatakan kesanggupannya untuk menjadi sebilah tameng yang siap melindungiku kapan saja. Apapun halangan dan rintangan yang menghadang, rasanya Jaka sanggup mengorbankan segalanya demi menyelamatkanku. Wanita mana yang tidak takluk dipelukan pria jantan seperti Inspektur Jaka?.

Dadanya yang bidang melenyapkan kegalauanku. Tubuhnya mampu menyerap ekspresi dukaku yang sangat tak terkendali. Dibelainya bahuku untuk mengatakan, “ Tantri kamu tidak sendirian menghadapi ini, ada aku yang setia menemanimu”. Dia tidak beranjak sedetikpun mendampingiku di ruang lobby hotel itu. Ia sangat sadar kelemahan jiwa dan ragaku.

“ Mas, aku mau ke Rumah sakit. Biar aku berangkat sendiri saja”.
“ Tidak akan kuijinkan kamu berangkat sendiri dalam kondisi seperti ini Mbak!”.
“ Tolonglah Mas!, tinggalkan saja aku sendiri, sudah cukup banyak bantuan yang telah kauberikan padaku”.
“ Mbak Tantri, sebagai atasanmu aku memerintahkanmu untuk nurut!. Aku akan mengantarmu kesana. Kamu tinggal naik mobilku dan aku akan membawamu kesana. Kamu mengerti Brigadir Tantri??”.

Aku termangu menyadari sedang berhadapan dengan siapa. Pria ini begitu berkuasa. Berbeda dengan Jack yang dulu. Kini dia telah memiliki wibawa dan karisma yang demikian besar, “ Sssiap Komandan, maafkan aku”.
“ Ayo pegang tanganku! kalo Mbak mau berangkat, Jaka akan menemanimu”. Dipapahnya aku untuk bangkit. Sangat berat rasanya untuk bangkit kembali setelah terpuruk demikian dalam. Namun apa yang dapat kulakukan selain berusaha bangkit dan menghadapi persoalan ini. Duduk di lobby ini sambil menangis dan menarik-narik rambut jelas bukan solusi.

Inspektur Jaka menggandeng tubuhku yang gontai hingga masuk ke dalam mobil. Saat aku sudah duduk di jok mobilnya, diciumnya bibirku. Aku terkejut. Sejuta pikiran yang tengah menggelayutiku membuatku pasrah saja menerima cumbuannya. Jaka begitu bersemangat menciumku. Bibirnya berusaha membangkitkan kembali gairahku yang terkubur. Aku menyambut ciumannya dengan mata terpejam. Tidak berdaya diriku untuk melakukan apapun. Tidak sanggup lagi mencegah atau melarangnya.

“ Jangan sedih Cantik!”, katanya setelah melepas ciumannya dibibirku. Diusap mataku yang masih sembab dengan air mata. “ Aku mencintaimu, jangan sedih!”. Mendengar ucapannya aku hanya bisa terdiam pasrah. Baru sebentar lalu aku ingin mematahkan hidung orang yang memanggilku cantik. Tapi mana mungkin aku mematahkan hidung orang yang begitu baik menolongku. Panggilan cantiknya tidak menyakitiku. Malah sebaliknya panggilan itu membuatku senang. Dalam kondisi seperti ini, mendengar seorang pria tampan, meyakinkanmu bahwa dirimu cantik, menjadi penguat hati tersendiri. Pelan-pelan aku kembali tenang.

Jaka yang melihatku telah tenang mulai menghidupkan mesin mobilnya. Mulai dipijaknya pedal gas untuk mengantarku menuju Rumah Sakit. Dalam mobil aku hanya bisa diam. Sebagian pikiranku memikirkan Alex. Sebagiannya lagi terhanyut dalam kehangatan ciuman Jaka. Inilah ketakutan terbesarku, bahwa di tengah kesedihan yang mendalam, aku mulai jatuh cinta kepada Jaka. Seorang laki-laki yang sanggup menggendongku bangkit dari lumpur penderitaaan. “.

“ Cantik!”. Panggilnya untuk menarik perhatianku.
Kuarahkan seluruh wajahku kepadanya, “ Mas jangan panggil aku cantik”.
“ Aku mau memanggilmu demikian. Karena kamu memang benar-benar cantik”.
“ Mas…”.
“ Sejak kapan kamu mulai mengenalnya??”.
“ Mengenal siapa Mas? Alex??”
“ Iya”.
“ Baru beberapa bulan ini”.
“ Kamu cinta sama dia Cantik??”.
Aku terdiam. Tiba-tiba saja lidah ini kelu tidak sanggup mengatakan apa-apa.
“ Kamu masih ragu Cantik. Gak apa mungkin dia hanya cinta monyet berikutnya buatmu. Tidak usah khawatirkan biaya Rumah Sakit. Aku yang akan membereskannya semuanya. Tapi setelah itu, putuskan dia ya cantik! jadilah milikku!. Jadilah pendamping Jaka”.
“ Mas aaaaaa…”. Kembali aku gagap. Tidak sanggup mengatakan apapun.
“ Gak usah dijawab sekarang. Dia hanya anak muda tanggung yang mendamba cintamu. Tapi dia tak sanggup menawarkan apapun untuk kebahagiaanmu”.
“…………..”.
“ Dia hanya bocah kemarin sore Cantik. Aku bahkan berani bertaruh dia tidak pernah tau apa suka dukanya menjadi Polwan. Sudahlah nanti kalo dia sudah sembuh, tinggalkan dia. Kasian dia yang tidak mengerti kehidupan Polisi Wanita, harus terus disakiti. Bukan olehmu cantik. Tapi oleh tuntutan pekerjaanmu sendiri”.

Aku hanya bisa terdiam. Sedkit ucapan Jaka benar. Teringat peristiwa di kamar mandi tadi pagi. Bagaimana Alex mempertanyakan waktuku untuknya ditengah pengabdianku pada Negara. Sebuah pertanyaan yang aku tak sanggup jawab.

“ Kamu hanya cocok untukku cantik”, katannya sambil tersenyum begitu indah kepadaku, “ Aku mengerti kamu dan kamupun mengerti aku. Kita cocok”. Dipegangnya pipiku lembut.
Aku menunduk tidak sanggup mengatakan apapun. Hidup dalam dua pilihan benar-benar membuatku limbung.

Jaka terus meyakinkaku untuk menjadi miliknya sepanjang perjalanan. Aku tetap tidak sanggup menjawab apa-apa. Aku merasa beruntung saat melihat gerbang Rumah Sakit. “Hufff”, sejenak aku bisa terbebas untuk mendengarkan ucapan Jaka. Yang sangat aku takutkan bila tidak segera terbebas dari Jaka adalah ; aku mulai mempercayainya. Pelan-pelan aku seperti digiring untuk yakin bahwa pendamping hidupku yang pas hanya Jaka. Sebagai wanita, makhluk yang labil, gawatnya aku mulai percaya akan hal itu.

Ketika mobil telah berhenti diparkir. Jaka mengandengku untuk masuk ke dalam RS. Aku berusaha meyakinkannya kalo aku sanggup melangkah sendiri. tapi Jaka tidak percaya hal itu dan memilih menggandengku saja. Rumah Sakit ini yang terbaik di Pulau Dewata. fasilitasnya katanya adalah yang terbaik dengan dokter-dokter terbaik. Namun Rumah sakit tetaplah Rumah Sakit. Sebagus apapun, setiap orang pasti tidak ada yang mau masuk kedalamnya. Aku yang baru saja masuk dan mencium aroma obat yang demikian pekat saja, sudah tidak betah berada di dalamnya.

Jaka memintaku duduk di sebuah bangku kosong. Dia sendiri yang akan menanyakan ke pihak RS diamanakah keberadaan Alex. Dia segera kembali setelah bertanya di resepsionis.

“ Dia ada di ICU Mbak. ayo kita kesana!”.

Kami berdua mulai melangkah menuju ruang ICU. Demikian berat langkah yang harus kutapakkan. Bagaikan langkah seorang narapidana terhukum mati menuju tempat eksekusinya. Hamparan orang sakit yang menunggu panggilan di bangku panjang, ditambah suasana kelam disekitarnya membuat suasana semakin tidak enak. Aku melihat seorang pasien tengah melihat siaran komedi di sebuah televisi yang menempel di dinding. Bagaimana ekspresi orang itu? begitu datar malahan menjurus sedih. Orang mana yang melihat tayangan komedi bukannya tertawa malahan bersedih??.

Perjalanan berat itu akhirnya berakhir. Kami telah tiba di depan ruangan ICU. Pemandangan miris yang kulihat di ruangan sebelumnya ternyata tidak seberapa dibanding yang kulihat disini. Pengunjung yang menunggu disini benar-benar tampak gelisah, depresi dan putus asa. Mereka seperti menjadi korban permainan hidup dan mati yang dimainkan dengan sempurna oleh malaikat maut. Sayap malaikat pencabut nyawa benar-benar terasa menaungi keberadaan ruangan ini.

Kulihat dihadapanku satu rombongan keluarga yang tengah berdoa bersama. Mereka memejamkan mata sambil menengadahkan tangan mengharap pertolongan Sang Maha Pencipta. Begitu kompak mereka sebagai sebuah keluarga untuk menghadapi ujian yang tengah menimpa mereka.

“Bapak mohon maaf tapi ruangan ICU saat ini tidak boleh dimasuki!”. Sebuah ucapan menyadarkanku kembali.
“ Kamu tidak tau ya saya ini Aparat Kepolisian. Saya cuma mau mengantar pacar saya masuk kedalam untuk menemui kenalannya!”. Kata Jaka pada satpam yang bertugas menjaga di depan ruangan ICU.
“ Mohon maaf Pak. saya hanya menjalankan tugas”.
“ Siapa pimpinanmu disini??saya mau bicara dengan pimpinanmu!”.

Kutarik lengan Jaka. “ Sudahlah Mas! tidak usah ribut begini. Malu dilihat pengunjung lain”.
Jaka yang semula tampak begitu emosional, jadi menahan diri.

“ Mbak,susah sekali mereka. Mau masuk saja kok dipersulit”.
“ Sudahlah Mas. Ikut aku yuk kita duduk saja dulu disini!”. Ajakku kepadanya.

Baru saja kami duduk pintu ICU tiba-tiba terbuka. Seorang pria agak tua, mengenakan baju hijau bertuliskan ruang ICU, tampak menghampiri keluarga itu dengan ditemani satpam yang tadi ribut dengan Jaka.
Ingin aku berlari menghampiri pria itu, namun kutahan diriku, keluarga itu tampaknya sangat menantikan kabar darinya.

Pria itu mulai bicara dengan seseorang yang tampaknya merupakan kepala keluarga. Seluruh anggota keluarga tampak nimbrung menyimak pembicaraan, diseputaran pria itu. Baru beberapa menit pria itu berbicara, beberapa anggota keluarga tiba-tiba menangis histeris.

“ TIDAKKKKK OMAAA JANGAN TINGGALKAN KAMIIIII….”.
Anak gadis mereka yang masih ABG tampak bereaksi paling dramatis. Dia langsung menjerit-jerit. Terus dia menjerit sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri. Mirip sekali dengan tingkah lakuku selama di lobby hotel tadi.

Ibunya segera memeluk anaknya yang meraung-raung kesetanan. Anggota keluarga itu saling membantu satu sama lainnya. Mereka yang tegar memeluk anggota lainnya yang berteriak atau menangis getir.

Mereka pasti baru saja kehilangan seseorang yang sangat mereka cintai. Melihat mereka menangis, akupun jadi ikut menangis. Aku jadi bisa merasakan keperihan yang mereka alami. Membayangkan peristiwa yang sama akan menimpa Alex membuatku drop.

Jaka memelukku. “ Jangan terpengaruh mereka Cantik!”.
Aku mengangguk.
“ Ayo kita datangi Pria itu tampaknya dia dokternya”.

Pria berbaju hijau tadi memang tampak beringsut ke sudut ruangan setelah menyampaikan berita tadi.

“ Selamat malam Pak Dokter”, kataku mendahului Jaka.
“ Malam Bu. Ibu masih keluarganya Pak Agung? maaf ya Bu kami sudah berusaha sekuat tenaga kami”, jawabnya sambil matanya melirik ke arah keluarga yang masih sangat bersedih.
“ Bukan Dok kami bukan keluarga mereka”. Jaka menyela.
“ Lho lantas kalian siapa??”.
“ Kami keluarga pasien bernama Alex yang mengalami kecelakaan tunggal Dok”, ujarku dengan getir.
“ Ooo anak muda itu ya yang mengalami kecelakaan motor??”.
“ Iiiiya betul sekali Pak Dokter. Bagaimana keadaannya sekarang Dok??”. aku bertanya penuh harap
“ Hmmm tidak terlalu baik Ibu….”.
“ Tantri. Panggi saja Tantri Dok”.
“ Belum terlalu baik Bu Tantri. Head Injury selalu rumit. Pasien bisa mengalami koma, geger otak, sampai…..”.
“ Sampai apa Dok???”, tanyaku penasaran.
“ Kematian Bu”.
Aku tak sanggup mendengar jawaban itu. Kucengkram lengan Jaka. Rasanya aku mau pingsan.
“ TANTRI!!”, Jaka menggoncang tubuhku kuat untuk mencegahku jatuh pingsan.
“ JANGAN PINGSAN TANTRI!!”, dia terus menggoyang tubuhku.

“ Pak satpam bantu ibu ini duduk di bangku itu!”, perintah Pria berbaju hijau tadi pada satpam rumah sakit.

Dibantu dua orang aku didudukkan di bangku.
“ Ibu”, Pria itu kembali bicara saat melihat kondisiku mulai membaik, “ tabahlah! kami janji akan berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan keluarga ibu! tabahlah”, dia menepuk bahuku.

“ Dok kami tidak boleh masuk kedalam untuku melihat keadaannya?”, Jaka bertanya dengan tak sabar.
“ Maaf pak, tapi dalam kondisi seperti ini, keluarga pasien belum diperkenankan masuk. Tunggulah disini, kami janji akan memberikan perkembangannya”.
“ lakukakanlah yang terbaik Dok!”, kata Jaka, “ berikanlah pengobatan yang terbaik! jangan khawatirkan biayanya. kami akan membayarnya”, sambungnya.
“ Iya Pak masalahnya sekarang bukan lagi tergantung pada uang. Tapi tergantung pada pertolongan Tuhan”, jawab dokter itu pada Jaka, sambil meninggalkan kami untuk masuk kembali ke ruangan ICU.

Sepeninggal Dokter itu kusandarkan diriku ke bangku. Sejenak aku memikirkan Alex dan musibah yang menimpanya. Betapa malang nasibnya. Aku yang mengajaknya kesini. Diriku pula yang membawanya ke perbatasan antara hidup dan mati diruangan ICU itu. Kupejamkan mataku sejenak untuk menenangkan diri.

Dari dekat terdengar raungan dari keluarga itu yang semakin keras. Kubuka kembali mataku untuk melihat kembali keadaan mereka.

Tampak anak gadisnya yang sedari tadi berteriak histeris kini mulai mengalami kejang-kejang. Timbul rasa kasian yang mendalam di hatiku. Apalagi saat melihat ibu mereka berusaha menenangkan anak gadisnya seorang diri. Kuberanjak untuk membantu ibu itu.

“ Mbak gak usah ikut campur urusan mereka”, Jaka menahan tanganku.
“ Lepaskan aku Mas. Aku Cuma ingin membantu mereka”, kutepis tangan Jaka. Dengan cepat kumenuju kearah ibu itu. Kubantu dia dengan langsung memegang anak gadisnya yang terus mengalami kejang.

Ibu itu awalnya terkejut karena tek menyangka masih ada orang asing yang mau menolongnya.

“ Terima kasih ya nak. Tolong bantu ibu untuk membawa anakku agar rebahan disini”, tangan ibu itu menunjuk tikar yang telah terhampar lengkap dengan bantalnya.
Berdua kami memapah anak gadisnya yang kini telah jatuh pingsan. Kubaringkan tubuhnya dengan terlebih dahulu menempatkan bantal untuk menyangga kepalanya. Terus kudampingi ibu itu sampai anaknya tenang kembali.

“ Terima kasih banyak sekali ya Nak!”, ibu itu menggenggam tanganku sambil tersenyum. Masih sempat-sempatnya dia bersikap ramah kepadaku.Padahal baru saja dia dihantam musibah. Kubalas senyumannya “ Nak baik sekali kamu. Siapa namamu Nak?”.
“ Nama saya Tantri Bu”.
“ Namamu cantik sekali Tantri. Cantik dirimu nak, cantik pula hatimu”.
“ aku gak cantik bu”, jawabku sambil tertunduk.
“ Apa yang kamu katakan nak, kamu cantik sekali tapi penuh dengan duka dan kesedihan. apa yang tengah menimpamu nak??”.
Kutundukkan kepalaku, tidak mau menampilkan kesedihanku di hadapan Ibu yang baru saja kutemui ini.
“ Ibu baru saja tertimpa musibah tidak pantas aku menceritakan masalahku padamu bu”.
“ Gak apa nak, ibu memang baru saja kehilangan orang yang sangat ibu cintai. Tapi ibu pasrah dengan itu. karena semuanya telah diatur oleh Sang Maha Pencipta”, dipeluknya diriku erat, “ hidupmu masih panjang nak, masih banyak hal yang harus kau lalui, kamu harus tegar ya!”.
Aku mengangguk.
“ Pacarmu ya yang masuk ICU??”, ibu itu menebak pikiranku.
“ Betul Bu. Kok ibu bisa tau???”
“ Aku sudah banyak makan asam garam kehidupan ini nak. Kenapa dia??”.
“ Kecelakaan motor Bu”.
“ Ya ampun anak muda jaman sekarang memang tidak hati-hati dalam berkendara. Semoga Tuhan Yang Maha Penyayang melindungi pacarmu ya nak”, dipeluknya aku dengan lembut. Aku seperti menemukan figure ibuku sendiri dalam dirinya.

Dipeluk begitu hangat oleh sosok keibuan tangisanku tak tertahan meledak, “ Hu..huu…hu….Ibu”, Kehangatan pelukannya segera saja membuat tangisanku tumpah tak tertahankan.

“ Yang Sabar ya Nak. yang sabar”, dibelainya tubuhku dengan penuh kasih sayang. Begitu luasnya hati Ibu ini. Ujian baru saja datang bertubi menimpanya, tapi masih sempat-sempatnya beliau memeluk dan menghiburku, seorang wanita asing dalam kehidupannya.

“ Hu hu huh…Mmmmmafkan Tantri ya Bu karena menangis dipelukanmu”.
“ Gak apa Nak, anggap saja aku Ibumu sendiri ya Nak. Kasian kamu masih muda sudah mengalami ujian yang demikian berat”.

Berdua kami saling berpelukan, seperti Ibu dan anaknya yang terlah terpisahkan ribuan tahun dan baru dipertemukan malam ini. Melihat pemandangan ini keluarga pak Agung yang lain tidak mau mengganggu, mereka memilih mengurus anak gadis mereka yang kini telah aman terbaring di tikar.

“ Nak kamu percaya kepada Tuhan??”, Tanya Ibu Agung tiba-tiba.
“ Sangat percaya Bu, tapi Tantri sendiri selalu merasa orang yang kotor dan banyak berbuat dosa”.
“ Cukup”, ditutupnya mulutku dengan jarinya, “ Cukup percaya saja nak! yang lain bukan urusanmu lagi!”, dielusnya rambutku dengan penuh kasih sayang, sambil menyeka air mataku yang terserak di pipi , “ mintalah pertolongan-Nya saja. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa menyelematkan kekasihmu”.
“ Terima kasih banyak ya Bu”.

Teduh rasanya berada dipelukan seorang ibu yang memiliki tingkat keimanan demikian tinggi. Pelukannya tak ingin kulepas karena memberi kedamaian yang tak terlupakan.

Saat Beliau harus pulang untuk mengantar jenazah keluarganya, aku merasa sangat kehilangan.

“ Jangan lupa berdoa ya Tantri! yang lalu biarlah berlalu tidak usah dijadikan beban pikiran, pasrahkan saja dirimu pada kehendak Yang Maha Kuasa!”. Itulah nasihat terakhirnya sebelum kami berpisah.

Kini di depan ruangan ICU hanya tersisa aku berdua dengan Jaka.
“ Sudah Mbak tidurlah dulu kasian kamu”, Jaka kembali memelukku agar tidur di pelukannya.
Aku memang sudah terlalu lelah. Peristiwa di hari kedua di Pulau Dewata ini begitu panjang dan menguras tenagaku lahir dan batin. Baru sejenak berada dipelukannya aku segera teridur.



HARI KETIGA

“ Begitu indah disini ya Mbak!”, Alex berujar penuh kebahagiaan.
“ Alex ini benar kamu sayang?? kamu sudah sadar?? Mbak khawatir banget. Gimana keadaanmu Lex??”, kuberondong dia dengan pertanyaan.
“ Hanya ada kedamaian di tempat ini. Alex ingin berada disini selamanya Mbak. Aku mau membangun rumah untuk kita disini”, diangkatnya tangannya menunjuk padang rumput yang begitu luas disekitaran kami.

Ada dimana sebenarnya kami ini?. sejauh mata memandang yang terlihat hanya padang rumput hijau yang begitu luas tanpa batas.

“ Lex kamu gak dengar pertanyaan Mbak?? kamu sudah sadar sayang?? maafkan kesalahan Mbak ya Lex!”.

“ Alex ingin berada disini Mbak. Begitu tenang disini”, tiba-tiba dia melangkah begitu cepat.
“ Lex sayang mau kemana kamu?? tunggu Mbak Lex!”.
Aku berusaha mengikutinya tapi dia begitu cepat. Dari berjalan aku mulai berlari karena Alex mulai hilang dari pandanganku.
“ Mbak Tantri aku ingin disini saja”, Alex akhirnya berhenti berlari.
“ Hah…hah…hah….”, aku ngos-ngosan berusaha mengejarnya, “ Apa yang kamu maksud sayang?? Oh tidak….awas sayang kamu berada di tepi jurang…”, aku terkejut, pemandangan tiba-tiba berubah. Sebelumnya kami di padang rumput, tapi kini mendadak berada di bibir jurang.

“ Wuuuuuuf…..wuuuuuuuf……wuuuuf….”, deru angin begitu kencang disini. udarapun mendadak begitu dingin.

“ Sayang lihat muka Mbak! raih tangan Mbak Alex! Menjauh dari sana!. Kamu ada di bibir jurang sayang”.
Tanpa merespon ajakanku, Alex hanya menatap kearahku. Tersungging senyum di wajahnya yang begitu indah, “ Aku cinta padamu Tantri”.

“ Biarkan dia Tantri! Ada aku yang selalu disisimu”, Jaka tiba-tiba muncul, dan berdiri di sisi yang berlawanan dengan Alex.
” Mas?? kenapa kamu ada disini?? awas Mas kamu juga ada di pinggir jurang”.

“ Aku cinta padamu Tantri!”, mereka berdua secara bersamaan mengucapkan perkataan itu.

“ Selamat tinggal Mbak!”, Alex menghormat kepadaku.

“ LLLEX AWAS SAYANG!! ITU JURANG..JURANG LEXX..”, aku berlari kencang berusaha meraih tangan Alex yang hendak menjatuhkan dirinya ke dalam jurang. tapi terlambat gerakanku tidak cukup cepat, tanganku gagal menangkap pergelangan tangannya. Dia jatuh. semakin dalam-semakin dalam, “ ALEEEEEXXXXXXX”, aku berteriak histeris.

“ TANTRI BANGUN KAMU MENGIGAU!”.

“ HAHH…HAHHHH”, seperti orang yang hendak tenggelam ke dasar lautan aku gelagapan. Kucengkram tangan Jaka, “ Alex!. Mas…gimana keadannya??”.
“ Belum ada kabar cantik. Dia masih di dalam”.
“ Maaasih hidup Mas?”.
“ Masih Mbak”.
“ Syukurlah huuufff”.
“ Kamu habis mimpi buruk! Minumlah ini dulu untuk menyegarkan tubuhmu!”, ditawarkannya aku teh hangat untuk kuminum.

Perlahan kuminum teh yang disiapkannya. Rasanya kehangatan rasa teh ini mampu mengguyur semua mimpi buruk yang barusan kualami. Mimpi apa aku tadi??. Pertanda apakah??. Apa kira-kira yang bakal terjadi??.

Sejak kemarin inilah cairan pertama yang masuk ke dalam tubuhku. Pasca kepergok oleh Alex di Puncaknya Pulau Dewata, aku belum mengkonsumsi apapun. Kecemasan yang begitu dalam membunuh rasa lapar dan haus dalam tubuhku.

“ Kusuapi bubur ya Mbak, kasian dari kemarin Mbak belum makan”, tanpa menunggu jawabanku Jaka mulai menyuapiku. Rupanya selain teh, Jaka juga telah menyiapkanku bubur. Begitu mengerti Jaka akan kebutuhanku. Bahkan tanpa kuminta dia responsive sekali untuk memenuhi keperluanku.

Dengan begitu romantis Jaka menyuapiku bubur ayam yang telah dibelikannya. Sesendok demi sesendok dia membantuku untuk makan. Aku menjadi seperti anak kecil dihadapannya sekarang.

“ Makasih banyak ya Mas”, ujarku dengan penuh rasa malu.

Jaka tidak menjawab dan hanya mengangguk. Begitu telaten dia menyendokkan makanan ke mulutku. Penuh perasaan dan cinta kasih yang tulus.

“ Mbak menikahlah denganku!”, dihentikannya suapannya, berganti dengan dipandanginya kedua mataku begitu lekat, “ Aku sungguh-sungguh!”,
“ Mas sekarang bukan waktu yang tepat..”, jawabku.
“ Nanti bila semua ini selesai, menikahlah denganku!”, begitu berkuasanya karakter Jaka. Berkali-kali aku hanya bisa terkesima ketika berhadapan dengan wibawanya. Respon terbaik yang bisa aku berikan hanya menuruti kehendaknya.
“…………..”, tidak sanggup aku merespon ucapannya.
“ Lihat aku Mbak! kamu hanya tinggal menganggukkan kepalamu, dan aku akan melamarmu pekan depan!”.

Aku begitu terhanyut dengan keyakinan dirinya. hampir saja aku menganggukkan kepalaku sebagai isyarat menyetujui tawarnnya, sebelum pintu ICU tiba-tiba terbuka.

“ Klek”, dokter yang semalam kutemui keluar dari ruangan. Meskipun berbau kebetulan tapi dokter ini telah menyelamatkanku dari agitasi Jaka. Kutinggalkan Jaka yang tampak begitu kecewa dengan kemunculan dokter ini. Setengah berlari, kuhampiri dia

“ Pak Dokter bagaimana kondisinya??”.
“ Hmmm”.
“ Tolonglah saya pak Dokter. bagaimana kondisi Alex??”.

Dia menggelengkan kepalanya, “ Semakin memburuk Bu. Perlu saya jelaskan bahwa pasien Alex mengalami kondisi tidak sadar akibat benturan keras di kepalanya. Kami telah melakukan scanning MRI pada kepalanya untuk melihat tingkat kerusakan otaknya. Namun dalam dunia kedokteran benturan di kepala sifatnya sangat fatal. Pasien bisa koma dalam jangka waktu lama, lupa ingatan, hingga meninggal dunia….”.

“ BISA TIDAK ALEX SELAMAT DOK???”, Aku lepas kontrol tidak sabar menunggu penjelasannya, hingga berteriak kepadanya. Menyadari hal ini Jaka merapat kesisiku.
“ Kami telah berusaha semampu kami Bu”.

“ Aku sudah bilang akan membayar semua pengobatannya Dok”, Jaka menyela, “ Tolonglah berikan pengobatan yang terbaik”.

“ PAK!Sekarang bukan lagi uang masalahnya”, jawab Dokter itu.

“Breeet…breet…breeeet”. Dalam keadaan panik getar telpon mengejutkanku. Segera kuangkat untuk mengetahui siapa yang menelpon. Ternyata dari Brigadir Sinta. Ada apa Sinta menghubungiku sedang dia tau aku sedang liburan?. Pasti ada yang genting dari kantor, aku harus mengangkat panggilannya. “ Permisi sebentar ya Dok..Maafkan kelancangnku tadi. Mas aku ijin angkat telpon dulu!”, aku mohon ijin untuk menerima telpon pada mereka berdua.

“ Jadi bagaimana selanjutnya Dok??” tanya Jaka setelah aku beringsut meninggalkannya.
“ Begini Pak….”, dokter itu mulai menjelaskan jawabannya.
Mereka berdua mulai asyik terlibat diskusi.

Sejenak kutinggalkan mereka untuk menerima panggilan Sinta.

“ Halo Sin ada apa??”.
“….snif..sniff..sniif.. maaf Tri, masih pagi udah ganggu”.
“ Kamu nangis Sinta? ada masalah apa??”.
“ Enggak Tri…gak ada apa-apa..snif..sniff..”.
“ Yang jujur Sin, ngapain kamu nelpon kalo gak ada apa-apa”.
“ Iya bener gak ada apa-papa Tri. Cuma masalah dengan Pak Burhan..”.
“ Burhan? ngapain kamu berurusan sama bandot itu??”.
“ Panjang ceritanya Tri..aku..”
“ Sin nanti kita bicarakan setelah aku pulang dari Pulau Dewata ya! Maaf sekali, tapi sekarang aku sedang tertimpa musibah..”.
“ Iya Tri maaf ya jadi mengganggu!”.
“ Gak apa Sin! tapi, ingat pesanku baik-baik ; JANGAN SEKALI-KALI KAMU BERURUSAN SAMA BURHAN! Dia pria yang tidak baik”.
“ Iya Tri siap makasih ya”.
Kututup telponnya

“ Hmm ada urusan apa Komandan Burhan dengan kawanku Sinta?? sangat mencurigakan sekali”, aku membatin.

Aku kembali mendekat untuk bergabung dalam diskusi antara Jaka dan Dokter ICU.

“ Maafkan saya tadi Dok…”, ujarku sambil menyela percakapan mereka.
“ Mbak, dokter ini justru kebingungan apa yang harus dilakukan terhadap si Alex bagaimana ini??”, kata Jaka tidak sabar, “ ANDAKAN SEORANG DOKTER, HARUSNYA ANDA DONK YANG TAU APA YANG HARUS DILAKUKAN. KALO ANDA BINGUNG BEGINI BAGAIMANA KAMI??”, Teriak Jaka dengan emosional.

Kutarik lengan Jaka agar menjauh. Tindakan arogansi seperti ini dapat menyinggung perasaan dokter itu.

“ Maafkan kami ya Dok. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Alex Dok??”.
“ Iya Bu, semoga Ibu tidak emosional seperti Bapak ini ya!”, ujarnya tidak sanggup menyembunyikan kekesalannya, “ Dia sekarat Bu. Angka kehidupannya semakin melemah. bahkan sekarang suster kesulitan menemukan aliran darahnya untuk memberikan infus”.
“ Kenapa bisa demikian Dok??”, sesungguhnya aku yang paling emosional saat ini, hanya saja melihat perilaku Jaka yang terus menerus lepas kontrol, membuatku harus tetap tenang.
“ Dia seperti tidak mau hidup lagi Bu. maaf saya harus mengutarakan pendapat saya pribadi, dalam dunia medis sebenarnya ini tidak boleh, tapi saya berusaha menyelamatkan pasien. Dalam hal ini penjelasan terbaik mungkin ada di keluarga terdekatnya sehingga kami dapat menemukan alternative lain untuk menyelamatkannya. Oleh karena itu saya keluar untuk mendiskusikan masalah psikologis si pasien sebelum kejadian dengan orang terdekatnya, apa yang memicunya sehingga dia seperti “enggan” untuk memiliki gairah hidup. tapi Bapak ini malah mengata-ngatai saya seperti ini”, ujar dokter itu sambil menuding ka arah Jaka.

“ Maafkanlah Mas Jaka Dok! Dia kelelahan”, berusaha kulindungi Jaka, “ kalo boleh saya bercerita sedikit Dok”.
“ Boleh Bu silakan. Apa sebenarnya yang dialami pasien beberapa hari terakhir ini?”.

Segera kuceritakan secara menditail hubunganku dengan Alex. Meskipun Jaka mendengar aku harus jujur menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Kuceritakan bagaimana aku mengajak Alex berlibur. Kemudian bagaimana aku juga menerima ajakan Jaka untuk bertemu.

“ Disanalah Alex melihat Jaka dan aku berciuman Dok. Maafkan aku yang begitu hina ini. Tapi setelah melihatku berciuman, dia langsung tancap gas mengemudikan motornya dengan begitu kencang, hingga terjadi musibah ini. Tragedi ini erat kaitannya denganku Dok, kalo Dokter mengijinkan aku ingin masuk kedalam dan berbicara dengannya”.
“ Tapi dia dalam kondisi koma sekarang Bu. Dia tidak akan sanggup merespon ucapanmu”.
“ Tidak apa Dok. Meski tubuhnya tidak sadar. aku yakin hatinya masih mau mendengar ucapanku”.

“ Mbak gak usah ikut-ikutan aneh deh! Orang koma kok diajak ngomong”, Jaka menyelaku.
“ Aku gak aneh Mas. Aku sangat yakin, meskipun Alex Koma dia masih bisa mendengarku”, aku menatap Pak Dokter dan Jaka dengan begitu yakin.

Sesungguhnya aku berbohong. Aku ragu dan tak yakin. Lintasan mimpiku berkelebat. Dalam mimpi itu, aku berusaha melompat mencegah Alex masuk ke dalam jurang. Tapi gagal.

“ Ijinkanlah aku masuk Pak Dokter! Walaupun hanya 1 menit ijinkanlah aku masuk dan bicara dengannya”.
“ Baik, ini memang belum pernah dilakukan sebelumnya di Rumah Sakit ini. tapi khusus untuk Ibu, aku ijinkan masuk untuk berbicara dengannya. Tapi hanya tiga menit. BAPAK INI TUNGGU DI LUAR SAJA!”, Tegasnya kepada Jaka. Rupanya dia benar-bernar tersinggung dengan sikap Jaka yang tidak menaruh respek sedikitpun kepadanya.

“ Terima kasih banyak Pak Dokter”, kuambil tangannya dan menciumnya sebagai bentuk terima kasihku yang mendalam kepadanya, “ Mas kamu tunggu disini saja ya!”, pintaku pada Jaka.

“ Kamu yakin Mbak?? Gila tindakan yang mau kamu lakukan itu. Buat apa kamu melakukan itu, sedangkan pengobatan modernpun gagal menyembuhkannya??”, terus dia berusaha menyegahku masuk kedalam.

“ MAS MAAFKAN AKU. TAPI INI ADALAH HIDUPKU! AKU YANG BERHAK MEMUTUSKANNYA BUKAN KAMU!”, bentakku terhadapnya, “ Sekali lagi maafkanlah aku, tapi SUNGGUH AKU HARUS MASUK KE DALAM”, Aku segera membalik badan untuk mengikuti dokter itu masuk ke dalam ruang ICU. Jaka betul-betul syok dengan ucapanku barusan. Sepanjang hidupnya mungkin belum pernah ada wanita yang menolak permintaannya dengan begitu keras.

Aku tidak peduli lagi dengan konsekuensi yang timbul dari tindakanku kepadanya. yang kupikirkan hanya menyelamatkan Alex..



KONDISI DALAM RUANGAN ICU

“ Bu masuklah dulu ke ruangan ganti untuk mengenakan pakaian khusus ruangan ini. Lepas sepatumu. Disini kuman begitu disterilkan dan kami sangat menjaga agar pengunjung dari luar tidak membawa kuman atau bakteri masuk ke dalam sini. Suster Ana akan mengantarmu dan membantumu melakukan apa yang harus dilakukan”.

“ Siap Dok terima kasih”.

Suster Ane begitu baik untuk membantuku mempersiapkan diri. Dipakaikannya aku baju ICU, kemudian setelah semanya beres. Dia mengantarku kembali ke ruang utama ICU itu. Suasana ruangan itu memang mengerikan. Terdapat beberapa bilik di ruangan itu. Di sebuah ruangan ada suara laki-laki yang mengerang hebat menahan rasa sakit.

“ Eggggh…eeegggh…egggghhhh”, Erang laki-laki itu terus menerus.

Apakah itu Alex?? begitu kesakitan suara itu terdengar.

“ Tenang Bu, suara itu bukan saudara Alex”, suara Dokter itu mengagetkanku.
“ Huuuf syukurlah Dok. Tantri pikir itu Alex”.
“ Bu Tantri panggil saja saya Dokter Gede. Dokter spesialis ICU”.
“ Siap Dokter Gede. Maafkan Tantri begitu panik, sampe lupa menayakan nama Dokter”.
“ Gak apa Bu. Tapi dengan berat hati harus kami sampaikan, bahwa kondisi saudara Alex lebih parah dari pasien yang ibu dengar suaranya barusan”.
“ Sebegitu parahnyakah Pak Dokter??”.
“ Benar Bu, “head injury” termasuk “silent killer”, penyakit yang dapat membunuh tanpa membuat pasiennya merintih-rintih”.
“ Adakah harapan untuknya Pak Dokter??”.
“ Kecil Bu, tapi kita tidak boleh berhenti berharap. Silakan suster Ana untuk mengantar Ibu Tantri ke bilik saudara Alex”.

” Baik Dok, mari Bu saya antar”, kata sustar Ana dengan ramah, sambil menggandeng tanganku.

Ditemani suster yang baik hati aku melangkah maju ke bilik Alex. “ Bu jangan tegang ya!”, suster Ana menghiburku. “ Bagaimana kondisi pacarku sus??”, tanyaku masih berharap jawaban yang terbaik darinya. “ Dokter Gede mungkin mengatakan kondisi pacarmu tidak baik Bu. Tapi itukan hanya dari sisi medis. Ada kekuatan lain yang dapat membolak-balikkan keadaan Bu. Jangan lupakan itu!”, suster Ana tersenyum kepadaku, “ majulah dia ada disana”, didorongnya aku untuk maju seorang diri menemui Alex.

Kini aku melangkah sendirian. Tidak ada yang menemaniku lagi. Sempai di bilik, jantungku langsung berhenti berdetak. Melihat kondisi Alex yang begitu parah secara otomatis merontokkan seluruh sendi dalam tubuhku.

Tampak dimataku, selang oksigen pembantu pernafasan, masih menempel di hidungnya. Balutan perban tebal membelit kepalanya lengkap dengan ceceran darah kering yang masih jelas terlihat. Bekas biru lebam di seputaran wajahnya terhampar tanpa sensor.

Aku tak sanggup melupakan ekspresi wajahnya. Dengan selang di hidungnya, Alex terpejam tanpa ada tanda-tanda semangat hidup. Cahaya kehidupannya seolah redup dimakan kesedihannya kala terakhir bertemu denganku. Bibirnya terbuka mengeluarkan deru nafas yang tak enak didengar. Kekasihku ini bahkan telah sulit bernafas. Infus sudah dilepas karena kesulitan menemukan aliran darahnya. “Kasian sekali kamu sayang”.

Kembali berkelebat mimpiku bertemu dengan Alex dan Jaka di jurang. Aku melompat ingin menyelamatkannya, tapi aku kalah cepat dan Alexpun terjatuh. Aku tidak akan biarkan mimpi itu menjadi kenyataan. Sekarang juga aku akan melompat untuk menyelematkannya. Meski lidah ini kelu melihat keadaannya. Tidak ada pilihan lain untukku. Lambat bergerak Alex bisa….

“ Aaaaallex…..”, kaku lidahku untuk memulai pembicaraan. Untuk pertama kali seumur hidupku, aku bicara dengan seseorang yang tidak bisa menjawab omonganku. harus bagaimana aku??.

“ Alex sayang…ini Mbak Tantri. Mbak ada disini sayangku yang paling tampan”, kulap air mata yang mulai menggenang di pipiku. Aku sangat sedih tapi harus menyembunyikan kesedihanku, bahkan dari nada suaraku. aku tidak boleh terdengar sedih ditelinga Alex. bagaimana aku dapat menolongnya kalo tidak sanggup mengatasi kesedihanku sendiri.

“ Mbak kangen banget sama kamu Lex!. Sedang dimana kamu lex??. Apa sedang jalan-jalan??”, aku berpura-pura mendengar suaranya, “ Jalan kemana sayang?. kenapa Mbak gak diajak?. Tega deh kamu Lex!. Kita udah janji padahal kesini mau jalan-jalan berdua”, air mata kembali tumpah dimataku. Nada suaraku serperti tercekat, hingga kuhentikan sejenak “monologku”.

Setelah kurasa dadaku cukup tenang kulanjutkan lagi bicara, “ Katamu kita akan menikmati Pulau Dewata sambil bergandengan tangan selalu Lex. Aku disini sekarang sayang. Genggam tanganku sayang kita susuri kembali pasir itu berdua. Tidak akann ada lagi tiga begundal yang memukulmu itu Lex! Mbak janji akan melindungimu selalu”.

“ Pak Dokter Gede lihat alis pasien Alex mulai bergerak-gerak. Lihatlah Dok ini mukjizat”, aku kaget ketika Suster Ana menjerit dari belakangku begitu lantang.
“ Sssst Ana jaga kelakuanmu!!kamu jangan lupa ini ICU! kamu gak boleh teriak-teriak begitu!” kulirik, dari kejauhan Dokter Gede juga maju dari posisinya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Suster Ana hanya cemberut sebentar mendapat omelan Dokter Gede. Tapi dia terus menyemangatiku. Hanya dengan isyarat tangan dia menyemangatiku untuk melanjutkan.

Mendapat dukungan dari belakang kulanjutkan usahaku menyelamatkannya ;

“ Tau gak Lex Mbak sangat mencintaimu lho. Apa?? kamu gak percaya??. Mana buktinya?? nih Mbak udah buat puisi kusus buat kamu. Dengerin ya! meskipun jelek puisi ini Mbak buat khusus buat Alex. Kekasih Mbak tersayang ;

Apa artinya hidup ini tanpa senyummu
Mau dibawa kemana hidupku tanpa tawamu
Harta dan tahta tak berarti tanpa kehadiranmu
Sepi hidup ini tanpa dirimu

Alex engkau telah menawan cintaku
Kau rampas jiwaku dengan memborgol hatiku
Satu hari tak bertemu
Bagai seribu tahun duhai kekasihku

Pulanglah sayang jemput aku
Bawa aku berjalan bersamamu
Cium aku dengan hasrat di bibirmu
Hangatkan aku dengan gairah yang bersatu

“ Hmmm…hmmm….hmmmm….”, tubuh Alex mulai mengeluarkan suara mendehem. Aku terkejut bukan kepalang.

“ Suster lihat dia bersuara begitu keras. Ini keajaiban Sus. Benar-benar keajaiban”, sekarang giliran Dokter Gede yang lepas kontrol.
“ Sssst Dok, ini ruang ICU”, goda suster Ana sambil tersenyum nakal.
Dokter Gede hanya bisa tersipu sambil menyikut lengan suster Ana.

Kulanjutkan puisiku;

Kemarin kau tanya padaku.
Kapan waktuku dapat kuserahkan untukmu?.
Jawabanku membuatmu kesal karena aku membisu.
Kini aku yakin sekali pengeranku.
Waktuku hanya milikmu.
Pergunakanlah sesukamu.
Karena aku merindu.
Untuk menjadi milikmu.

Mendengar puisiku. Wajah Alex yang semula tanpa niat untuk hidup, kini bergerak-gerak perlahan. Wajah itu mulai menggeleng-gelang ke kiri dan kanan. Semuanya terjadi bagai “slow motion” di mataku. Dari belakang aku menoleh pada suster Ana dan dokter Gede. Mereka berdua sudah bersujud di lantai. Mereka tampak sedang memanjatkan puja kepada Yang Maha Esa. Tampak jelas dari ekspresi wajahnya, mereka berdua sangat bersyukur telah mendapat kesempatan melihat sebuah mujizat dengan mata kepala sendiri.

Ketika kualihkan kembali wajahku ke arah Alex. Perlahan sekali wajah penuh bekas luka itu menggeleng, dari sisi kiri kemudian ke sisi kanan menuju tempatku berada. Begitu indah wajahnya kini. Sangat memiliki semanagat hidup.

Masih dalam gerakan lambat di kepalaku. Wajah itu kemudian terpaku mengahadap ke arahku. Mata yang terpejam itu kemudian berdenyut-denyut. Urat matanya terlihat mulai tegang. Kontraksi di bagian itu begitu keras. Terlihat dari kedut-kedut yang sangat sering.

Setelah terus menegang tiba-tiba urat-urat di matanya berhenti berkontraksi. Mata itu kini tenang dalam posisi terpejam. Apakah aku gagal??. tadi dia terlihat sangat hidup untuk sesaat. Kenapa kini semua itu hilang. Mata itu kenapa berhenti berusaha?. Apakah lompatanku kembali gagal seperti di mimpi??. Apakah harus begini akhirnya?? Alex terjatuh ke jurang??”.

Kututup mataku tak sanggup membayangkan apa yang terjadi. Kupaksakan untuk membuka kembali mataku, penasaran dengan kegagalan ini. Saat kubuka kembali mataku, Alex telah membuka matanya. Pandangan kami bertemu dan menyatu dalam sebuah cinta yang tak kasat mata.

Akulah yang pertama dia lihat kala membuka mata. Lama rasanya kami saling bertatapan.
Tersungging senyum dibibirnya. Sebuah senyum paling indah yang pernah kulihat seumur hidupku.

“ PASIEN BANGUN DOK!! INI MUKJIZAT!”, Suster Ana kembali berteriak, “ seorang pasien koma yang biasanya perlu waktu bulanan hingga tahunan untuk sadar, dapat kembali hidup ke dunia ini. Ini mukjizat Dokter Gede”, jeritnya.

Melihat Alex tersenyum, akupun tersenyum, untuk kemudian secara tak terkendali jatuh tertuduk. lututku lunglai menyentuh lantai. Kuarahkan dahiku untuk bersujud. Sambil menangis aku bersujud sambil terisak. tak ada kata yang pantas untuk kuucapkan selain ; ”Terima kasih Ya Tuhan”.

************************************************** **************

6 Bulan kemudian ;

Begitu ramai undangan yang datang hari ini di pernikahan kami. Lihatlah mempelai wanita yang berdiri disampingku. Ditebarnya senyum tiada henti sedari pagi, namun tidak mengurangi sedikitpun keindahan senyumnya.

Saksikanlah dia demikian cantik dan mempesona. Kulitnya yang telah terpoles oleh riasan pengantin semakin memancarkan kecantikannya.

Gaun pengantin yang kupesan khusus untuknya berwarna keemasan. Sangat cocok untuk menampilkan “aura emas” yang memang dimilikinya. Kebaya itu begitu pas terpasang di tubuhnya. Memamerkan keanggunan sekaligus kesexyan tubuhnya yang memang begitu terkenal.

Mimpi apa aku bisa menikahi Polwan tercantik seperti dia. Begitu beruntungnya aku. Lihatlah ke seluruh sudut aula gedung ini, walaupun disinari begitu banyak lampu namun semuanya redup dibawah kaki keanggunannya.

Para tamu undangan yang hadir tak henti berdecak kagum pada kecantikan Polisi Wanita yang telah resmi menjadi istriku ini.
Dia yang sehari-hari hanya mengenakan pakaian seragam Polisi, lengkap dengan atribut kepangkatan, rambut pendek sebahu, wajah tegas, tubuh yang selalu berdiri tegap, kini begitu anggun dalam balutan busana pengantin.

Berulang-ulang aku mencuri pandang ke arah wajahnya. Setiap aku memandangnya, berjuta kali pulalah aku mensyukuri telah dikaruniai istri sempurna sepertinya.

Briptu Tantri merupakan sosok Seorang Polwan sejati. Sifat dan penampilannya sangat ideal ; Displin , jujur, berani, tegas, cerdas, dan memiliki wajah begitu cantik . Bukan hanya cantik wajahnya tapi yang terutama cantik hatinya.

Pandangilah mereka yang menyempatkan hadir dalam undangan kami. Seluruh lapisan tampak hadir untuk berbahagia dalam pernikahan kami. Dari para pejabat daerah hingga anak-anak sekolah yang pernah dibimbing oleh istriku dalam pelatihan lalu lintas. Semuanya hadir untuk sama-sama berbahagia di hari istimewa kami.

Semua lapisan berbahagia. Kecuali mungkin Pak Burhan mantan atasan istriku. Sedari tadi kulihat dia begitu asyik menggoda Sinta teman satu asrama istriku. Ada dimana dia sekarang??. Lho itu dia, tapi mau kemana dia dengan Sinta?? Bukankah Sinta sedang bertugas menjadi pager ayu?. Nah sekarang mau kemana dia, kenapa Sinta malah meninggalkan kewajibannya sebagai pager ayu??.

Ingin rasanya kuberi tau istriku tentang hal itu, namun kuurungkan karena kulihat dia masih begitu asyik menerima tamu undangan yang ingin menyalaminya atau ingin berfoto bersama. Sudahlah apa yang dilakukan oleh Pak Burhan bukan urusanku.

Kualihkan pandangnku pada foto pre-wedding pernikahan kami yang berdiri gagah menyambut tamu undangan. Bagiamana kami harus berpose kuserahkan semua pada istriku tercinta. Dia menginginkan sebuah foto sederhana namun menampilkan aura kasih. Entah bagaimana ceritanya jadilah foto itu, dengan pose kami berdua yang saling memandang dan tersenyum begitu indah. Semoga semua undangan yang hadir mampu menangkap pesan yang tersirat dibalik foto itu.

Beranjak sedikit dari foto, terdapat janur kuning yang melengkung. Janur kuning menjadi simbol penegasan bahwa Tantri kini resmi menjadi istriku. Tidak ada lagi para pria petualang yang boleh mendekatinya sembarangan. Terletak tak jauh dari janur terdapat rangkaian bunga ucapan selamat yang tertata begitu indah.

Bunga yang tertata rapih membentuk nama kami disana sangat menarik perhatian pengunjung. Rangkaian bunga itu terdiri dari bunga yang berwarna putih, hijau, merah , dan biru. Kombinasi warna ini merupakan symbol empat elemen pembentuk alam semesta, yaitu air, tanah, udara, dan api. Semua unsur itu terjalin menjadi satu dan tunduk dihadapan dua insan manusia yang telah mendeklarasikan cintanya dalam keadaan suka maupun duka.

Keabadian cinta telah menaklukan empat unsur alam semesta. Baik elemen tanah- udara- air- maupun api menjadi saksi kekuatan cinta kami yang telah dipersatukan dalam mahligai pernikahan. Dalam satu janji pernikahan, seluruh alam semesta saling bergandengan tangan menjadi saksi keabadian dua nama yang terjalin indah. Dari kejauhan tergambar jelas nama dua insan yang beruntung hari ini ; “TANTRI – ALEX”.

TAMAT !?





MALAM BULAN MADU HARI KEDUA.

Setelah hari pertama pernikahan berlalu dengan segala gemerlap dan kelelahannya. Kini giliran kami untuk saling memadu cinta. Malam pertama ialah malam dimana istriku Tantri akan melepas keperawanannya. Sebuah malam yang indah untuk kaum Pria. Namun bisa saja sangat traumatik bagi kaum Wanita.

Aku tidak ingin Tantri mengalami trauma akibat malam pertama yang menyakitkan. Maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menghadirkan malam pertama yang tidak menyakitkan untuknya. Aku memutuskan melewatkan malam pertama di hari pertama pernikahan kami. Alasan kelelahan menjadi faktor utama.

Setelah semua hiruk pikuk pernikahan berakhir dan para keluarga besar kembali pulang ke rumah masing-masing. Aku “menculik” Tantri untuk menikmati bulan madu di sebuah daerah dingin yang indah di puncak gunung. Udara yang demikian sejuk terasa sangat pas untuk pengantin baru.

Siang hari kami berangkat dan tiba 3 jam kemudian. Kami sempat berjalan-jalan sebentar. Hitung-hitung sebagai “napak tilas” gita cinta kami yang begitu romantis. Setelah cukup berjalan-jalan dan kenyang menyantap hidangan pembangkit gairah seksual, he he ya aku memang nakal, sebelum betempur kuajak istriku makan makanan yang mampu mendongkrak libidonya. Hitung-hitung pemanasan.

Begitu “private” villa ini. Semua pelayan kuminta pulang saja pada malam hari, untuk memberi kesempatan pada kami berdua untuk bebas menggeksplore kenikmatan seksual di malam pertama.

Aku bertekad dalam hatiku sendiri untuk memberi sebuah “foreplay” panjang tak terlupakan untuknya. Begitu cantik istriku. Tubuhnya tinggi semampai seperti peragawati. Rambutnya pendek namun begitu cantik. Hidungnya mancung dan wajahnya begitu proporsional. Tantri sangat disiplin merawat tubuhnya. Sebagai wanita, lemak-lemak yang membuat tubuh tidak sedap dipandang telah dikikisnya. Kulit tubuhnya eksostis sangat khas dengan Negara kita.

Sesampainya di dalam kamar, kami mulai berciuman begitu panas. Tampaknya sate kambing yang baru saja kami makan telah bekerja dalam mendongkrak libido kami. Tantri begitu bergairah. Dia adalah tipe wanita yang akan membuat seorang pria betah diranjang. Dia bukan wanita yang menampilkan kebinalannya secara vulgar ketika bergaul, sebaliknya dia lebih memilih menjaga imagenya. Bukankah wanita yang terlihat pendiam dari luar bisa begitu buas di ranjang ketika kita mengenalnya?. Ya seperti itulah Tantri.

“ Kamu tidak boleh menyentuhku menggunakan tanganmu Mbak Tantri!”, kulepas ciumanku dibibirnya. Dia terlihat kecewa.
“ Kenapa Lex??”, berusaha dia memagut bibirku, tapi kuhindari ciumannya, “ Lex…”.
Kupegang bahunya agar tenang, “ karena malam ini dan seterusnya, Alex yang berkuasa Mbak. Kamu mengerti??”.
“ Iya”, sambil memendam nafsunya dia mengangguk.

Kutelentangkan tubuhnya kemudian mulai kutelenjangi dia. Dengan gerakan pasti kulepas semua kancing baju kemeja ketatnya. Setelah itu berusaha kutarik lepas resleting celana jeans pendeknya. Tak lama Tantri terbaring hanya tinggal mengenakan BH dan CD berwarna merah saja. Dia memang tipe wanita yang panas dan suka memamerkan kesintalan tubuhnya, tapi special hanya untuk orang yang dia cintai saja. Warna merah adalah favoritenya. Wanita dengan kesukaaan merah dapat dibaca sebagai wanita dengan nafsu seksual yang meledak-ledak.

Mulai kupijat tubuhnya bagai pemijat profesional. Lebih tepatnya memberi pijatan seksual untuk memancing gairahnya. Dengan tanganku mulai kujamah selurut tubuhnya. Dimulai dari kepala, kedua jari tengahku beranjak mengurut dahinya agar menumbuhkan suasana relax. Selanjutnya tanganku turun kelehernya.

Dari leher kumulai penjelajahan pijatanku ke seluruh bagian tubuhnya. Mulai dari bahu, lengan, perut, pusar, paha depan, paha belakang, tumit, betis, hingga jari kaki. Semua kusentuh kecuali payudara dan vaginanya. Merasakan bahwa kedua titik sensitifnya tidak tersentuh Tantri berkali-kali mendesah keras. Desahannya sebagai isyarat agar tanganku mampir ke titik sensitifnya. tapi aku tidak menghiraukan kemauannya.

“ Ayo kita mandi dulu dibawah pancuran Mbak!”, kutarik dia agar bangun dan melangkah ke kamar mandi. Kamar mandi villa ini begitu mewah memilik fasilitas shower dan bathtube air panas.

Sampai di kamar mandi, bath tube sudah terisi penuh dengan air hangat. Aku memintanya untuk masuk kedalamnya. Posisiku duduk memangku Tantri yang bersender di dadaku.. Sambil mermangku, mulai kubelai tubuh mulusnya dari arah belakang. Bulir-bulir sabun yang begitu banyak dan harum menambah romantisme suasana. Dari belakang kusabuni tengkuknya kemudian beranjak menyusuri punggungnya.. Kuciumi punggung itu sambil tanganku dengan nakal menyentuh sisi luar payudaranya. Tantri telah begitu horny sekarang. Dirasakan olehnya penisku juga telah ereksi maksimal. Tangannya berusaha mencari batang tegak itu untuk menyentuhnya.

“ Tidak boleh pakai tangan!!”, bisikku kepadanya.
Diurungkan niatnya untuk menyentuh ereksiku yang telah maksimal.

Mulai kuciumi tengkuknya sambil kedua tanganku terus menyabuni seluruh tubuhnya.
“ Hmmm memek sempit ini udah becek Mbak. he he disabunin dulu ya biar wangi”, aku berbisik nakal di telinganya sambil menjilati daun telinga Tantri.

“ Aaaaahhhhhhhh”, Tantri mendesah saaat vaginanya mulai kusabuni dari luar.

“ Mmmm tumben ada jembutnya. Potongannya mini lagi. Cuma segitiga doank diatas memekmu. Sengaja ya sayang?”, Aku sendiri terkejut karena Tantri memelihara jembut. Biasanya dia selalu membabat habis seluruhnya.
“ IIiiya AAAAH sengaja LLlllleex”, terus kusabuni vaginanya.
“ Biar apa Mbak???”.
“ AAAAH”, kembali dia menjerit ketika tanganku nakal memelintir kulit vaginanya, “ Biar sexyyy”.
“ He he nakal kamu Tantri!”.

Kehadiran jembut ini membuatku penasaran untuk memainkan vaginanya. CD dan BH tantri tidak kulepas. Tapi kubiarkan tanganku bermain dari balik celah-celahnya saja.

“ Jembutmu lembut cantik! begitu indah begitu sexy”, kekucek vaginanya dengan cepat.

“ UUUUUH UUUUUUH SHIIIIIIT”, Tantri bergetar hebat. rasanya dia mengalami orgasme kecil.
“ Enak??”
“ Ennnak Lex….”.
“ Mau lagi???”.
Tantri mengangguk
“ Ayo kita bilas dulu di shower.

Keluar dari bathtube kami menuju shower. Segera saja kuset suhu air yang keluar agar hangat untuk membuatnya nyaman. posisi Tantri masih membelakangiku. Sengaja penisku yang sudah “ tegang” kugesek-gesekkan ke dinding vaginanya. Semakin keras aku menggesek , semakin keras pula desahannya terdengar. Dari arah belakang kubuka kaitan BH dan kuturunkan CDnya. Laki-laki mana yang mampu bertahan tidak melahap segera hidangan indah tubuh wanita seperti Tantri.

Kini dalam kondisi telanjang, dapat kubilas seluruh tubuhnya hingga bersih. Kini jelas kulihat jembut kejutannya tadi. Betul kata Tantri jembut ini sengaja dibiarkannya tumbuh kemudian dirawatnya dengan memotongnya pendek dan hanya berbentuk segitiga.

Kumatikan shower kemudian kuhanduki dia untuk mengeringkan tubuhnya. Tantri hanya bisa diam dengan nafas yang begitu memburu. Pelan kukeringkan seluruh tubuhnya agar dia tidak masuk angin. Aktifitas mengeringkan tubuh Tantri juga sangat sensual. Sambil mengelap kukecup titik-titik sensitive tubuhnya.

Setelah semuanya kering kubawa dia ke hadapan depan kaca rias.

“ Ini hadiahku untukmu cantik”.
“ Apa ini Lex??”.
“ Terima kasih telah menyelamatkanku. Terima kasih telah memilihku sebagai suamimu. Ini kalung emas untukmu. Sini kupakaikan”, dalam kondisi masih sama-sama telanjang kukalungkan kalung emas di leher Tantri.
“ makasih banyak ya Lex”.
“ Aku yang terima kasih banyak Mbakku cantik”.
Kami kembali berciuman mesra.

“ Jangan senang dulu! ini kusiapkan juga “seragammu” malam ini”, kuperlihatkan satu set lingerie baby doll warna merah muda sexy lengkap dengan G stringnya.
“ Sexy sekali Lex”, bisiknya.
“ Kamu suka?”
“ Suka banget”.
“ Sini Alex pakaikan untukmu”.

Untuk pertama kalinya selama hidup aku memakaikan baju untuk Tantri. Biasanya aku hanya bisa menanggalkan bajunya.

Pertama kupasangkan G-String mini untuknya. Aroma vagina yang telah terangsang sampai juga di hidungku. Aromanya begitu khas.

“ Angkat tanganmu biar Baby doll ini masuk ketubuhmu!”

Tantri menurut dan lingerie itupun dengan sempurna menempel ditubuhnya..

Babydoll warna pink yang dikenakannya sangat sexy. Dengan hanya dibatasi dua tali yang menyangga tubuhnya dari samping bahu, lingerie itu seolah gagal menyangga payudara montoknya. Model baju yang kubelikan ini memang tidak membutuhkan BH, karena sengaja mengekspose sacara maksimal kesintalan payudara penggunanya.

Selain begitu sexy menutup tubuh atas. Lingerie ini juga memamerkan pesona keindahan kakinya.. model babydoll ini begitu mini dan hanya menutup bagian bawah tubuh Tantri sampai tepat di pantatnya. Lebih tepatnya setengah pantat semoknya. Tubuhnya yang jangkung bak peragawati, membuat lingerie pink ini jadi kekecilan. Dengan mudahnya aku dapat mengintip G-String yang baru saja kupasangkan. G String itu hanya berupa tali di pantatnya, sedangkan dibagian depan, g-stringnya begitu pelit hanya menutup seperempat vaginanya.

“Nah kamu sexy sekali, sekarang sebagai hadiah terakhir adalah ini”,.
“ Apa itu Lex??”, tanyanya ingin tau.
“ Ini kain Mbak untuk menutup matamu”, ditanganku telah siap satu potong kain lembut warna hitam untuk menutup matanya.

“ Kenapa mataku harus diitutup Lex??”
“ Aku sudah janji Mbak Tantri, di malam pertama aku akan membuatmu merasakan kenikmatan yang sejati”, jawabku sambil berbisik di telinganya, “ kenikmatan itu hanya dapat diraih bila Mbak sanggup pasrah sama kemauan Alex”.

Kini dalam kondisi mata tertutup, Tantri tidak akan bisa menduga bagian mana dari tubuhnya yang akan kucumbu.

“ Uuuuuuhhh”, dia mulai mendesah saat tiba-tiba aku mencium bibirnya.
Aku sangat menikmati ekspresinya yang begitu horni namun kebingungan.
“ OOOOuuhhh LEXXXXX…”, dia menjerit ketika tanganku menyusup kepayudaranya dari balik baby doll.
“ UUUUhhhh…uuuhhhh…”, kuolesi dengan telunjukku bagian luar payudaranya. Tantri mulai gelisah sambil menggigit bibir bawahnya, itu tandanya dia mulai terangsang.

Sambil mengoles sisi luar payudaranya dari belakang, kucium lehernya yang begitu bebas tersaji karena rambutnya yang pendek.

“ Ahhhhhhhh”, Tantri semakin keras menjerit, saat aku mulai memilin payudaranya dengan keras tanpa menyentuh putingnya, “ hahhh…hah…hahhhh…aaaahhhh”, kadang kusentuh payudara itu dari dalam, kemudian kuarahkan tanganku untuk memelintirnya dari luar.

Meskipun terhalang baju, sensasi gesekan yang ditimbulkan oleh remasan tanganku dan kain pink babydoll ini semakin membuatnya lupa daratan.

“ SAYANGGG Ahhhhhhh”, tanpa takut dia menjerit. Tantri memang wanita yang tidak malu-malu ketika ingin dipuaskan. Sejak pacaran desahan maupun teriakannya begitu bebas terekspresikan ketika kami bercinta.

Tidak tahan dengan permainan tanganku diangkatnya kedua tangannya tinggi untuk mencari rambutku yang berdiri dibelakangnya. Dia sering menjambakku ketika menjelang tiba di kenikmatan tertinggi.

Inilah posisi favoritlku, maka kuarahkan tubuhnya kembali menghadap cermin besar yang ada disana untuk melihat pantulan ekspresi dan keindahan tubuhnya. Lihatlah dia, dalam kondisi mata tertutup, payudaranya begitu mudah kugerayangi dengan bebas.

Tantri pasti tidak tahan dengan sensasi nikmat dan geli yang datang bersamaan hingga mengangkat tinggi tangannya. Inilah momen terindah, saat kedua ketiaknya terlihat begitu jelas. Tantri memiliki ketiak yang sangat sexy dan dia sangat senang memamerkannya. Sikap tubuhnya kepadaku selama ini, seolah ingin mengatakan kalo itulah bagian sensitive tubuhnya yang harus dibelai.

Kusentuh ketiak yang terbuka itu dengan kedua tanganku, lantas kuelus dengan lembut. Uuh begitu licin tanpa sehelai rambutpun. Kuputar tanganku disitu seperti ingin mengelikitiknya. Tantri segera terlonjak dan tersengat kegelian.

Begitu terangsang dia menerima permainanku. Semakin tinggi diangkat kedua tangannya. Aku tau pasti apa yang diinginkannya. Pasti dia ingin aku segera menjilati bagian sexy itu. Tantri paling senang bila ketiaknya kujilati. Katanya itulah bentuk ekspresi pengagunagnku terhadap tubuhnya, yaitu mau menikmati seluruh sudut tubuhnya dengan gairah yang membara.

Aku belum mau mengekspolere ketiaknya.

Nanti saja kusantap itu, saat Tantri tengah bimbang menuju orgasmenya. Lebih baik kutelusuri saja bagian bawah tubuhnya. Kakinya yang jenjang begitu merangsang.

Tantri terkejut menerima serangan “ bawah” itu. Saat dia mengharap ketiaknya kujilat, malahan kakinya yang kuserang. Dia tampak kaget dan hampir terjatuh ketika kaki kananya mulai kuciumi dan kuhisap. Melihat hal itu, kubantu dulu dia untuk duduk di sofa. Sangat merusak mood rasanya kalo Tantri sampai terjatuh akibat ulahku.

Setelah Tantri duduk dengan nyaman. Permainanku dimulai kembali. Sekarang kuangkat kaki kanannya kemudian kuciumi jari-jari lentik kakinya.

“ Ahhhhh Mass”, Tantri kembali mendesah hebat sambil mengangkat tangannya tinggi untuk memegang sandaran sofa.

Dia memang benar-benar “Bom sex”. Ya wanita bom sex ialah wanita yang hanya dengan kerlingan mata atau desahannya dapat mengantar kaum pria segera bernafsu dan ingin menyetubuhinya.

“ Auuuuuuhhh”, semakin histeris dia, ketika secara bergantian kusedot jari-jari kakinya. Dimulai dari ibu jari hingga jari manis.

Banyak pria yang mengidamkan kaki Tantri karena bentuknya yang begitu jenjang, kencang dan . semok. Perhatikanlah baik-baik disekitaran pahanya banyak ditumbuhi bulu-bulu yang begitu halus. Itu menjadi penanda Tantri bisa segera orgasme hanya dengan mempermainkan bagian itu.

Setelah puas mencium dan menyedot jari kaki kanan beserta bagian-bagian kakinya, kuberalih ke kaki kirinya dan melakukan ritual yang sama. “Ahhhhh ooooohhhhh”, desahan Tantri semakin menjadi-jadi.

Kuangkat kedua kakinya tinggi, membuat Tantri terjerembab terlentang di sofa. “ Ouuuugghhh apa yang kau lakukan Lex, ahhhhhhhh”, kuciumi tumit kaki dan mata kakinya lalu terus turun menuju kedua betisnya yang mulus tanpa bulu. perawatannya begitu maksimal, bahkan diantara betis kakinya, tidak ada satupun bulu yang tertinggal.

“Ooooh….ahhhhh…..ahhhhhh”, Tantri terus mendesah inilah yang kuinginkan. Istriku mulai pasrah dibawa kemanapun dalam permaianan ini. Bukankah ini malam pertama untuknya?? sebuah malam yang kadang terasa mengerikan bagi para wanita. Untuknya aku ingin ini menjadi malam yang tak terlupakan.

Dari betis aku berhenti cukup lama untuk menjilati bagian belakang persimpangan antara betis dan pahanya. Bagian itu memang tersembunyi, tapi lihatlah ekspresi Tantri saat bagian itu kujilati lembut, dia mengerang-ngerang keenakan. “ Uuuuuh….uuuuh…uuuh….”. Matanya mulai merem melek. Dia mulai mabuk syahwat.

Puas menjilati celah itu mulai kuciumi perlahan paha dalamnya yang terlihat begitu ranum.

Kujilati dari arah kulit luar, naik perlahan kemudian turun lagi, demikian terus menerus membuatnya semakin terangsang.

“ Balik badanmu sayang! rebahkan tubuh atasmu di sofa ini, pantat dan kakimu biarkan menungging. Buka lebar kakimu Tantri!”, kusuruh dia agar menungging dengan tubuh bagian atas yang terbaring di sofa.

“Uuf”, lihatlah betapa indahnya pemandangan yang kulihat. Sebuah tali G-string merah muda tersaji indah, karena lingerinya telah membukanya begitu lebar. Kuelus pantatnya yang begitu semok. Tantri kembali salah tingkah. Kepalanya terus dia palingkan kiri-kanan seperti orang mabuk.

“Plakkk…plakkk…plakkkk…”, kutampar keras pantatnya, “ ahhhh..ahhh .…ahhhhh”, Tantri menjerit terangsang setelah pantatnya kutepuk keras.

Puas menghukum pantatnya yang montok dengan tamparan. Mulai kubelai celah vaginanya dari luar. Keberadaan tali G-Stringnya semakin membuatku mudah mempermainkannya.

Kadang kutarik keras tali itu hingga membuat vaginanya tergesek hebat, “ Uuuuhhh sakkkkiit Lexxxxx”, erangnya.

Lain waktu kugunakan tiga jariku untuk menggesek intens vaginanya. jari telunjuk, tengah, dan jari manis, kegerakkan seperti hendak menghitung uang, tapi di permukaan vaginanya yang kini dihiasi jembut. “ Kkkkommmannnndan Alexxx uuuggggghhhh”, Tantri mulai menggigit permukaan sofa. Kuperhatikan permukaan memeknya sudah dibasahi lendir kenikmatan.

Tanpa menghentikan “gocekanku’ di vaginanya, kulihat lubang anusnya mulai kembang kempis tak beraturan. Pasti lubang inipun mulai terangsang hebat akibat sentuhanku. Kujilati lubang itu di permukaannya searah jarum jam, tanpa menyentuh lubangnya.

Tantri semakin histeris, kini dijambaki apapun benda yang ada di dekatnya. rambut,bibir sofa ataupun kulit tubuhku yang berada dalam jangkauannya semua dijambaknya. Syahwatnya kini telah siap meledak kapan saja.

“ Hhahhh…ahhhhh… uuuggghhh Lexxxxx….”, Tantri mulai hilang kesadaran.

“ Ayooo nikmati sayang jangan ditahan-tahan!!”, seruku untuk menyemangatinya agar tak ragu menumpahkan seluruh hasrat.

Setelah rangakaian “godaaan” di bibir anusnya. Tiba saat untuk menyerang lubang anusnya. Tanpa ragu kujilati lubang anusnya dengan begitu cepat.

“ AAuuuuhhh…uuuuhhhh…AKHHHHHHH….Shiiiiit”, Tantri mengalami orgasme “sejati” pertamanya dengan lidahku di lubang anusnya. Ketiga jari tanganku yang ikut membantu menggocek vaginanya semakin membuat pelepasan cairan orgasmenya meletup tak terkendali.

Ibaratkan sebuah letupan gunung saat memuntahkan laharnya. Hal yang sama terjadi ketika Tantri mengalami orgasme. Ledakan hebat disertai gemuruh desahan dan getaran permukaan tubuh, menyajikan panasnya erupsi tubuh yang meledak-ledak dalam irama yang tersaji begitu indah.

Tantri bergetar hebat sambil terungkit-ungkit, sebelum kemudian roboh tak beraturan ke lantai dengan nafas yang tak beraturan.

“ Hahhh…hahhh…hahhh….”, dia masih ngos-ngosan.

” Alex jahat…..”, walaupun nafasnya belum kembali dia berusaha bicara mengungkapkan jerit kenikmatannya, “ Mbak dibuat hah…hah……”kelejotan” begini….hah..hahh…”.

“ Enak Mbakku sayang??”.
“ Eeenak suamiku …..eeenak banget…”.
“ Ini belum apa-apa sayang”, kubuka penutup matanya. Sekarang saatnya matanya terbuka untuk menangkap “momen special” dalam hidupnya.

“ Kita main di ranjang sekarang Mbak”, bisikku sambil mengggendongnya seperti layaknya pengantin baru yang menggendong kekasih tercintanyanya, menuju ranjang yang akan segera menjadi saksi tertumpahnya darah keperawanan segar.

Sampai di ranjang bulan madu yang begitu lebar, kulempar tubuh Tantri.

“ ahhhhh”, Tantri menjerit. Sebelum dia sanggup bergerak kemana-mana sudah kutindih dia dalam posisi terlentang.

Dengan cepat kuangkat kedua tangannya tinggi kearah bibir ranjang. Tantri kebingungan dengan gerakanku. Sebelum dia sempat berfikir lebih jauh, sudah kukunci kedua tangannya dengan borgol yang telah kusiapkan sebelumnya.

“ Nah kamu sekarang udah diborgol sayang!, gak bisa kemana-mana”, mata kami saling bertatapan.
“ Hah…hhahhh..hahh..”. nafas Tantri semakin memburu, hormone adrenalinnya tampaknya begitu terpacu. “ Mmmmmmmm”, kusumpal mulutnya dengan ciumanku yang panas. Lidahku langsung masuk ke dalam bibirnya. “mmmmmmmmm”, dia tampak begitu beranafsu untuk menciumku.

” Ahhhhh..Mmmmm”, dengan cepat kujambak rambutnya, kemudian kuciumi kembali tanpa memberinya kesempatan apapun untuk memikirkan kelanjutan aksiku.

Borgol ditangannya membuat Tantri tak bisa kemana-mana. “ Ahhhh….uuuuuh…”, desahan tidak henti keluar dari bibir Tantri. Setelah menciumi bibirnya, serbuan mulai kuarahkan teratur kearah lehernya. Permukaan leher yang mulai dibasahi keringat itu tidak terlewat satu sentipun untuk kuhisap. Dari arah leher samping, jilatanku terus naik, hingga ke arah daun telinganya.

“ Akkkkkhhhhh”, Tantri menjeris saat telinganya kujilati kembali dan kuhisap tanpa belas kasihan. Sambil menghisap telinganya, tanganku turun untuk membuka lingerinya dari bawah. Posisi Tantri yang sudah terikat, membuatku sulit untuk menelanjanginya. Namun baju mininya ini mudah kuangkat sampai keatas payudaranya hingga mampu membuatnya bugil, dengan hanya menyisakan G-string.

Dari telinga kuberalih ke payudaranya. Tantri semakin tidak sabar. Diangkatnya kepalanya untuk melihat wajahku yang tengah meniup pentilnya.

“ Hhisssap Lex..”, ujarnya dengan wajah merah merona penuh syahwat. “ tolongg hisap!”.
“ Hush siapa Komandannya sekarang Tri??”.
“ Uuuhh mmmaf Komandan….”.
“ siapa Komandannya Tri??”.
“ Kamu Komandannya Lex. Komandan Alex”.
“ kamu mau minta apa Tri??”.
“ Tolong hisap pppentilku Kommmandan”.
“ Yang tegas Tantri!”.
“ Tolong hisap putingku komandan, aku tidak tahan”.
“ Itu baru tegas he he”.

“ AAAAAAAAAKKKKKKHHHHHH”, begitu keras raungannya terlontar ketika putting susunya kuhisap dengan sekencang-kencangnya. “ AMMMPUUUUUNNNN”, Tantri semakin histeris saat tanganku ikut-ikutan memelintir payudaranya. Rasanya inilah fantasiku selama ini tethadap sebuah payudara nan indah milik Tantri.

Tak kenal bosan, aku terus menghisap, menjilati, bahkan mengigit susu itu. Tidak akan kuhentikan aksiku ini sebelum Tantri kembali meledak hebat. Momen special orgasme yang kunantikan itu rupanya segera terjadi. Hanya berjarak beberapa menit dari orgasme pertamanya tadi, Brigadir Tantri kembali menjerit mendapat orgasme hebat.

“ ………………………….”, tidak ada suara yang terdengar, yang ada hanya gerakan histeris, diiringi lonjakan-lonjakan hebat yang sangat menguras tenaganya.

Sekitar dua menit dia mengalami ketidaksadaran seperti itu. Sebelum akhirnya mampu kembali “hadir ke dunia” dengan mata yang begitu nanar.

“ ahhhh….ahhhh….ahhhhh”, kuciumi dulu lehernya sejenak, untuk membantunya mendapat nafasnya kembali.

Saat kurasakan nafasnya telah kembali, langsung kukangkangi wajahnya, sambil membawa penisku yang telah mengacung tegak ke depan bibirnya. Kutempar-tampar permukaan bibirnya dengan helm penisku, sebagai isyarat bahwa aku menginginkan oral darinya.

Tantri memang buas dalam hal oral sex. Ketika di pantai Pulau Dewata, begitu dahsyat dia mengoralku hingga ejakulasiku terjadi begitu cepat.

Dibukanya mulutnya kemudian mulai dihisapnya penisku, dengan hisapn yang begitu kuat. “AAaaaahhh Tantriiii fuccckkkkk”, aku selalu histeris menerima permainan bibirnya. Ditahan oleh tangan yang terikat, Tantri berusaha memuaskanku dengan menaik turunkan kepalanya untuk semakin memaksimalkan hisapannya.

Pemandangan kepalanya yang turun naik dengan mulut yang dijejali penis membuatku hampir saja ejakulasi. Beruntung aku dapat menahannya. Kupaksa mencabut penisku dari mulutnya.

“ jangan dihisap sampe keluar dulu Mbak. hah..hah…hahh…permaianan masih panjang”, bisikku merasa beruntung karena mampu menunda ejakulasi.

Kemudian aku meluncur menuju bagian bawah tubuhnya. Kini giliranku untuk memberi oral tak terlupakan pada vaginanya yang telah kembang kempis itu.

Bagian ini adalah yang paling sensitive dari tubuh Tantri. Kata orang kunci orgasme wanita ada di G-spotnya. Menurutku sebaliknya kunci utama orgasme wanita adalah di C-spot atau clitorisnya. Ada wanita dengan clitoris yang begitu jelas terlihat.namun banyak juga yang tersembunyi. Untuk mereka dengan clitoris tersembunyi tentu usaha untuk meraih orgasme akan lebih lama. Tapi Tantri?? dia adalah tipe wanita dengan clitoris yang begitu jelas terlihat. Mulailah menghisap bagian itu dan lihatlah ekspresinya. Dia pasti terhanyut dalam ekspresi yang “cetar membahana”.

Ketika mulai kujilati vaginanya pandanganku tak sanggup lepas dari jembutnya yang begitu sexy. Ingin rasanya kucabuti satu persatu jembut itu dengan gigiku., Tantri betul-betul seorang BOM SEX.

Jilatanku dimulai dari sisi luar tanpa menyentuh lubang nikmatnya. Kuulang-ulangi terus pancingan ini tanpa melepas mataku dari jembutnya. Rambut kemaluan itu benar-benar membuatku gila. Niatku untuk mempermainkan memeknya lama-lama jadi berantakan karenanya.

Dengan tidak sabar kulahap jembut itu.

“ ALEXXXXXXXX FFFFUUUUCCCKKKK”, Tantri menjerit.

Rasa jembut itu begitu lembut, wangi dan terawat. Lama aku hisap rambut itu sebelum lidahku turun menuju menu utama yaitu vagina Tantri yang merah merekah.

Kubuka pelan celah sempit itu. Kepala Tantri menengadah ke arahku.

“ Rebah sayang. akan kubawa kamu ke surga!”.
Tantri mengangguk kemudian meraung, “ UUUUUUUUUUUUhhhhhhh”.

Tanpa menunggu lama kujilati celah itu dengan gerakan naik turun dan berputar tiada henti. bagai gasing lidahku menjelajahi setiap pori-pori vaginanya..

Sambil menghisap vaginanya, jari-jariku kembali memetik dawai memeknya berulang-ulang. Kurasakan baik-baik cairan lendirnya, untuk menilai kesiapannya untuk menerima penetrasi pertama kalinya seumur hidupnya.

Betapa beruntungnya aku sebagai suami memiliki seorang isrti yang mampu menghasilkan cairan lubrikasi alami yang sedimikan berlimpah. Tantri telah becek sempurna. bahkan dia kini sudah diambang orgasme. rasanya hanya tinggal 3 jilatan lagi dia akan meledak

Saat nikmatnya telah tiba diubun-ubun itulah kuhentikan jilatanku.

Tantri terkejut frustasi karena menjelang ledakan orgasmenya jilatanku malah berhenti.

Langsung kunaikkan tubuhku. Penisku yang tegak langsung kutempatkan di liang bibir vaginanya yang masih penasaran karena kenikmatan yang tak tuntas.

Penisku siap untuk membelah duren.

Semua gerakanku begitu cepat, hingga Tantri gagal untuk berpikir. Dari raut wajahnya yang linglung, aku tau apa yang ada di kepalanya, “ Orgasmeku sudah diubun-ubun Lex. kenapa kamu berhenti??”. Sebaliknya aku menginginkan Tantri tetap dalam kondisi linglung seperti itu agar prosesi belah duren ini berlangsung lembut, tanpa meninggalkan pengalaman menyakitkan untuknya.

Saat dia masih “kosong” kerena kenikmatan yang tertahan, kusambit dia dengan setan yang akan segera membuatnya kesurupan.

Dengan kemahiran lidahku dengan tangkas kujilati ketiaknya. Bagian ini merupakan daerah sensitive berikutnya.

“ UUuUUUUhhhh AAAahhhhhh Ahhhhhhh”, betul saja Tantri langsung mendangakkan kepalanya ketika ketiaknya kulahap. dalam kondisi ini penisku yang telah ereksi maksimal, mulai kutekan masuk ke celah vaginanya secara perlahan, tanpa melepas jilatanku di ketiaknya.

Tantri yang telah diambang orgasme, tak sanggup lagi merasakan bahwa vaginanya telah kemasukan benda asing. “ Terusss…terussss…terssssuuuuusss ooohhhh” racaunya saat mulai kerasukan setan kenikmatan.

Bertepatan saat Tantri mengalami orgasme. Cairan lendir orgasmenya tertumpah deras. Bertepatan dengan momen itulah penisku mulai kutekan maksimal agar sliding masuk menembus selaput keperawanannya, dengan dibantu oleh cairan lubrikasi alaminya yang telah tumpah ruah.

“ AAAAAAAAAAAKKKKKKKHHHHHH”, Tantri menjerit ketika penisku berhasil sliding masuk begitu dalam ke celah vaginanya. Dia tersungkur tak berdaya, bergetar dramatis, akibat sensasi orgasme beruntun yang terus mendera.

Tidak kuhentikan jilatanku di ketiaknya untuk memastikan orgasme itu datang bertubi-tubi, semakin banyak orgasme yang muncrat semakin baik.

Badan Tantri terus bergetar hebat seperti orang kesetrum, bersamaan dengan penisku yang berhasil menembus vaginanya. Sensasi yang kurasakan di penisku ketika memerawani vaginanya begitu hebat. Penisku seperti dijepit kuat dalam sebuah kehangatan yang begitu basah. Rasanya penis ini juga akan segera meledak dalam vaginanya.

Bila tidak pintar-pintar mengatur pernafasan. malam pertama ini bisa berakhir disini.

“ Hahhh..hahhhh…haahhhhh”, ketika badai orgasmenya akhirnya reda, kutatap matanya. Dia masih seperti orang kesurupan. Matanya masih begitu hampa.

“Ada dimana dia sekarang?? apakan di kahyangan??”, batinku

“ Sakit Mbak??”, biskku
“ Sakit kenapa Lex??”, tanyanya bingung.
“ kamu ngerasa sakit tidak sayang??”.
“ Nggak Lex, malahan Mbak merasa nikmat sekali”.
“ Kepearwananmu sudah kurenggut Mbak”, kataku sambil mengambil sedikit cairan darahnya yang telah tertumpah disekeliling vaginanya, “ ini darahmu, symbol mahkota kesucian yang telah kau jaga selama ini. Terima kasih ya Mbak telah menjaga mahkota ini sekian lama dan hanya memberikannya hanya kepada suamimu”.

“ Kok Mbak tidak merasa apa-apa Lex??”.
“ Aku cinta padamu Mbak, tidak akan kubiarkan malam pertamamu jadi menyakitkan.”
“ Makasih banyak ya sayang!”.
“ Enak gak Mbak??”, mulai kumaju mundurkan penisku di vaginanya yang masih demikian basah”.

“ Ahhhh…ahhhh..pelan-pelannn sayang..ahhhh..ahhh enakkk”.
“ Ayo kita lanjut lagi”.
“ Ahhhhh.aaahhhhh ahhhhh pelan-pelan sayang ahhhhhhhhhhh….shhiiiiiit”.

Kembali kuhisap payudaranya agar dia kembali mengeluarkan pelumas alaminya dan tidak kesakitan menerima sodokanku.

“ UUh..uhhh…uhhhh”, terus kusodok dia sambil menghisap pentil susunya. tanganku berusaha mencari clitorisnya dan mulai kupetik dengan cepat.

“ Ahhhhh Lexxx….ahhhh…ahhhhhh”.
Aku terus menyodoknya dengan kecepatan yang berubah-ubah.
“ Mbak mau nyammmmpe lagiiii Lexxxxx”.
“ Lepaskan Mbak. Kasih Alex orgasmemu Mbak ayooo. Alex juga hampir sampe Mbak ayo kita ke “puncak” bersama”.

Jepitan liang vaginya semakin kencang dan . “ AAAHHHHHH LEXXXXXXXXX”, Tantri orgasme, bersamaan dengan itu akupun meraih ejakulasi terindah seumur hidupku, “ UuuuuuuuuuuuuuHHHH TANTRIIII FUCKKKKKK”.

Bersamaan kami berhasil mencapai ejakulasi hebat dan orgasme super. Kupeluk Tantri begitu erat, saat kami berdua bergetar begitu hebat, saling kehilangan diri kami sendiri dalam sebuah seni persetubuhan yang begitu indah. Seluruh cairan ejakulasiku tertumpah ruah dalam vagina Tantri. Demikian pula air bening cinta Tantri membasahi penisku.

Setelah badai itu reda. Aku tetap memeluknya erat. Sebuah malam pertama yang tak terlupakan.

“ Terima kasih banyak ya Mbak, nikmat sekali ”.

“ Kamu hebat Lex, puluhan kali kamu buat Mbak sempoyongan kayak orang kerasukan setan”.

Kulepas kuncian borgolnya dan kamipun saling memeluk dan berciuman begitu mesra. Tantri dan Aku tidak akan pernah mau terpisahkan.