Jumat, 21 Oktober 2016

Lasmi dan mertuanya

Lasmi adalah bekas istri sepupuku yang bercerai karena setelah setahun menikah keduanya sudah tidak saling cocok lagi. Maklum, mereka menikah masih sangat muda, Lasmi 20 tahun sedang sepupuku 22 tahun. Ditambah lagi kedua orang tua sepupuku kurang menyukai Lasmi karena sekalipun cantik tapi Lasmi dianggapnya bukan berasal dari keluarga ningrat. Setelah bercerai Lasmi semula bekerja di Panti Pijit tapi hanya sebentar sebelum dia mendapat pekerjaan sebagai staf administrasi di sebuah kantor Swasta. Karena dia memang cantik maka cepat saja dia dapat menarik hati seorang pemuda yang cukup kaya. Mas Indra nama pemuda itu, anak dari Direktur perusahaan itu yang tergila-gila pada Lasmi.

Akan tetapi yang pertama kali tertarik pada Lasmi justru Pak Suryo, ayah Mas Indra. Laki-laki yang pernah menjadi langganan pijit Lasmi ini rupanya ada hati pada janda cantik ini dan dialah yang membujuk Lasmi untuk bekerja sebagai staf di kantornya. Lasmi sendiri tidak mengira bahwa Mas Indra nekat melamarnya sebagai istri tapi meskipun kurang sreg diterima juga lamaran itu karena Mas Indra orangnya cukup ramah sehingga Lasmi juga cukup senang. Apalagi berikutnya dia juga sangat dimanja sekali oleh kedua mertua barunya di mana dia diajak tinggal serumah. Tapi, justru karena kelewat akrab dan manja teristimewa dengan Pak Suryo mertua lakinya maka terjadilah kontak terlarang di antara keduanya. 

Pak Suryo adalah seorang pengusaha yang cukup kaya. Perusahaannya ada dua dan untuk mengawasinya dia berkantor di sebuah rumah yang disewa tepat di sebelah kiri rumah tinggalnya sendiri, sedang di sebelah kanannya lagi adalah rumah yang diperuntukkan bagi pasangan Mas Indra dan Lasmi. Sementara itu Bu Suryo mengusahakan sebuah Mini market yang juga tidak jauh dari situ. Melihat dari kesibukan tugas masing-masing keluarga maka Lasmi memang lebih banyak waktu berdua dengan Pak Suryo. Karena selain masih tetap meneruskan bekerja di kantor Pak Suryo, Lasmi juga boleh dibilang tinggal serumah dengan Boss yang sudah jadi mertuanya ini.

Masing-masing rumah mereka hanya dibatasi oleh dinding dan ada pintu penghubung yang selalu terbuka diantaranya. Nah, selain kesempatan selalu bertemu yang leluasa, juga sikap manja-manja genit Lasmi kepada mertua lakinya yang kalau sedang bercanda berdua sudah meningkat bebas terlupa batas sampai saling berpeluk-pelukan, tentu saja memancing nafsu birahi terpendam sang mertua kepada menantunya ini. Maklum kebiasaan genit terpengaruh lingkungan Panti Pijit masih melekat pada Lasmi, teristimewa kepada laki-laki setengah umur seusia Pak Suryo. Gairah kelelakian Pak Suryo yang terpendam kepada Lasmi memang menuntut karena sang menantu makin dipandang makin menggiurkan saja. 

Ditahan makin lama makin meluap dan ketika dicoba mengutarakannya dengan memancing-mancing sambil mengobral banyak pemberian nampaknya tidak ada penolakan dari Lasmi, dengan sendirinya kelanjutan ke arah hubungan terlarang ini menjadi semakin mulus. Tidak bisa disalahkan, Lasmi yang latar belakangnya binal kalau sudah terlalu dekat apalagi sudah terlalu banyak dibanjiri hadiah sang mertua, maka kesadarannya pun cepat saja jadi buntu ketika itu. Jelas, karena sebenarnya bukan baru dimulai saat itu saja tapi dari awalnya Lasmi memang sudah diincar oleh Pak Suryo dan Lasmi sendiri juga sudah menaruh perasaan tertarik kepada bossnya yang simpatik ini. Cuma saja karena keburu diserobot duluan oleh Mas Indra yang lebih ngotot maka perasaan hati keduanya sempat tersendat dan sekarang mulai terungkit kembali. Menggelegak semakin hari semakin matang sampai kemudian di suatu sore yang merupakan penentuan ketika Pak Suryo mencoba sedikit nekat untuk menangkap menantu cantik ini dalam pelukannya tapi kali ini disertai dengan menyosor bibir Lasmi. 

"Hffmm.. hghh.." Lasmi mengejang tersumbat mulutnya oleh lumatan nafsu Pak Suryo tapi  egitupun dia tidak berontak. Ada beberapa saat dia ikut terhanyut dalam asyiknya berciuman bergelut lidah dan ketika cukup untuk saling melepas, terlihat air mukanya merah merona.

"Bapak nekatt.." komentarnya malu-malu geli. "Abisnya kamu ngegemesin"

Bapak sih.." Itu awal pertama percobaan Pak Suryo. Tentu saja melihat ada lampu hijau seperti ini jelas membuatnya lebih berani lagi.

Dia sudah mulai mencari simpati dengan cerita tentang Bu Suryo yang mulai kurang memberinya kebutuhan penyaluran seks. Dan ternyata meskipun tidak terucapkan tapi dari mimik wajah Lasmi 
tertangkap oleh Pak Suryo bahwa sang menantu ini mulai terpengaruh prihatin kepadanya. Terbukti ketika pada kesempatan hari berikutnya dia mengulang lagi memeluk dan mengajak berciuman tapi kali ini sambil sebelah tangannya menggerayangi bagian-bagian kewanitaan Lasmi, mulai dari kedua susunya sampai kemudian menyusup ke selangkangan, meremas gemas bukit vaginanya, lagi-lagi tidak ada penolakan dari sang menantu cantik ini. Seperti yang pertama Lasmi juga membiarkan sebentar dan ikut terhanyut oleh ajakan berciuman yang hangat bernafsu ini, hanya saja ketika terasa akan terlupa daratan segera dia minta melepas ciuman. 

"Pak jangan sekarang.. Lasmi takut kalo ketauan.." bisiknya cemas karena sudah terasa jari nakal Pak Suryo menyusup mengorek-ngorek di celah kemaluan di bagian klitorisnya. Mendapat peringatan ini Pak Suryo pun seperti tersadar dan melepaskan Lasmi.

"Heehh.. nanti kalau ada kesempatan Bapak ke kamarmu, ya?" katanya masih sempat memesan.

Lasmi hanya mengiyakan dan segera berlalu dari situ meninggalkan Pak Suryo yang meskipun masih nampak penasaran tapi dalam hatinya lega karena yakin bahwa pada kesempatan berikut tentu dia pasti dapat meniduri menantu cantik ini. 

Suatu hari Mas Indra akan dinas keluar kota, pagi-pagi buta itu Lasmi sudah kembali naik tidur setelah mengantar Mas Indra cuma sampai di pintu kamar untuk berangkat ke airport. Membanting tubuhnya lemas karena Mas Indra masih sempat mengajaknya bermain cinta sesaat sebelum berangkat. Ketika setengah layap-layap itulah dia dihampiri Pak Suryo yang masuk ke kamarnya tanpa sepengetahuannya. Begitu datang Pak Suryo yang rupanya sudah lama menunggu kesempatan baik ini langsung ikut naik berbaring dan mulai menggerayangi tubuh Lasmi yang masih bertelanjang bulat dan hanya menutupi tubuh atasnya dengan sehelai kain.

Lasmi sempat mengira bahwa itu Mas Indra lagi tapi segera tersadar karena perbedaan yang nyata di antara kedua lelaki itu. Mas Indra agak kecil sedang Pak Suryo yang pendek itu besar gempal tubuhnya. Lasmi jadi kaget.

"Ehh Bapakk?! kaget aku Paak.. kirain siapa."

"Ah masak sama Bapak nggak kenal, kan Bapak sudah pernah bilang mau nyusul ke sini kalo ada kesempatan."

"Abis nggak kedengaran masuknya, tapi Ibu mana Pak?" kata Lasmi yang karena merasa tidak bisa menghindar lagi, dia bergerak bangun maksudnya akan mencuci dulu bekas-bekas dengan Mas Indra.

"Ibu masih pules, nggak bakalan tau kalau Bapak ke sini.." tukas Pak Suryo yang rupanya sudah tidak sabaran lagi langsung menahan Lasmi bangun. Tanpa memberi kesempatan bicara bagi Lasmi, dia sudah menyerbu perempuan itu dengan bernafsu. Mencium langsung melumat bibirnya sambil dibarengi remasan- remasan gemas di mana pun bagian tubuh sang menantu yang cantik menggiurkan ini terpegang tangannya. Lasmi gelagapan sesaat, tapi lagi-lagi dia mengalah mencoba mengerti emosi nafsu laki-laki setengah umur yang menurut pengakuan kepadanya sudah jarang diberi penyaluran seks oleh istrinya.

Pasrah saja dia membiarkan Pak Suryo dan malah ikut mengimbangi lumatan laki-laki itu sama bernafsunya meskipun kelanjutannya agak membuat risih juga karena serbuan-serbuan Pak Suryo benar-benar kelewat rakus. Dari saling bertemu bibir ciuman Pak Suryo menurun melanda kedua susunya, di sini hanya berhenti beberapa saat untuk mengisap kedua puncak bukit kembar itu dan sebentar menjilati putingnya lalu kemudian diteruskan lebih ke bawah melewati perut Lasmi yang sudah menggembung empat bulan itu sampai kemudian mendarat di vaginanya. Ini yang agak terasa kurang sreg bagi Lasmi karena Pak Suryo seperti pura-pura lupa bahwa lubang itu masih belum sempat dicucinya, tapi dia enak saja mengerjai bagian itu dengan jilatan-jilatannya bahkan juga disedot-sedotnya.

Mau dia mencegah tapi Pak Suryo masih lebih ngotot di situ malah semakin coba ditolak, semakin keras juga Pak Suryo bertahan. Terpaksa Lasmi diam saja sampai akhirnya dia sendiri terbawa tidak perduli karena vaginanya yang dikerjai mulut lelaki memang merangsang nafsunya dengan cepat. 

"Aasshhg.. hngghh.. sshhg.." kontan melintir, bergeliat-geliat dia oleh kilikan jilatan di klitorisnya yang begitu menggelitik geli-geli enak dan sodokan-sodokan ujung lidah di lubangnya yang begitu membuatnya penasaran, sementara Pak Suryo tambah bersemangat memainkan kepintaran mulutnya. Menyosor seolah-olah ingin menyembunyikan wajahnya tenggelam di lubang menganga milik menantunya ini. 

Padahal Lasmi baru saja terpuaskan dalam sanggama bersama Mas Indra, tapi rangsangan sang mertua ini begitu luar biasa menaikkan kembali birahi nafsunya seolah-olah tenaga untuk bercinta datang berlipat ganda. Masih beberapa saat Pak Suryo membakar bara nafsu Lasmi, baru ketika dilihatnya sang menantu cantik ini sudah matang dituntut birahinya di situlah Pak Suryo berhenti dan mempersiapkan batangannya. Sudah cukup tegang, tinggal membasahi sedikit dengan ludahnya untuk kemudian dituntun menempel di mulut lubang, langsung ditusuk masuk. 

"Hhgghh.." sekali lagi Lasmi mengejang kali ini oleh sodokan penis Pak Suryo. Tapi karena sudah cukup siap dia bisa langsung menerima batang yang sebenarnya masih asing baginya. Malah tuntutannya kepingin cepat terpenuhi, dia pun ikut menyambut dengan memutar pantatnya membuat batang Pak Suryo terasa seperti disedot masuk, cepat saja amblas ke mulut vagina yang lapar itu. Tapi begitu tertanam dalam, mulutnya langsung menganga kaku menahan pinggang Pak Suryo agar sodokan jangan berlanjut dan ini dipenuhi Pak Suryo karena memang batangnya sudah tertanam habis. Menunggu sesaat sampai Lasmi kelihatan sudah agak mengendor barulah Pak Suryo menyambung dengan gerak memompa keluar masuk penisnya pelan-pelan. Lasmi sendiri masih sedikit tegang wajahnya dalam usaha menyesuaikan diri dengan sodokan-sodokan Pak Suryo tapi cuma sebentar, karena rasa baru yang diterimanya cepat saja membuainya, sama cepat seperti barusan dia dirangsang mulut Pak Suryo di vaginanya.

Ada yang luar biasa pada milik mertuanya ini sehingga Lasmi mengalihkan pandangannya ke bawah ingin lebih jelas apa yang menjadi penyebabnya. Karena bukan hanya bisa membuat daya rangsangan yang begitu besar dengan teknik mulutnya tapi juga memberi pemenuhan yang pas untuk tuntutannya. Yaitu dari dalamnya batang yang menyumbat lubang vaginanya terasa ukurannya agak 
berlebih dari yang biasa dialaminya dengan Mas Indra. 

Pak Suryo bisa membaca pikiran Lasmi. Dia merenggang sedikit dan mencabut batangnya agak panjang memberi kesempatan Lasmi memperhatikannya.

Meskipun tidak terlalu jelas karena ruangan hanya diterangi lampu dinding kecil tapi masih bisa tertangkap mata Lasmi yang begitu melihat langsung meringis wajahnya. "Hhssh Bapaakk.. dalemm 
bangett Paak.." spontan keluar komentar kagumnya memaksudkan penis Pak Suryo yang memang lebih panjang meskipun tidak lebih besar dari milik Mas Indra. Memang, Lasmi sudah pernah tidur dengan beberapa lelaki tapi dia mengakui juga ukuran penis sang mertua yang cukup mantap ini. "He.ehh.. tapi kan nggak sakit?" kata Pak Suryo sambil menurunkan tubuhnya agak menempel karena khawatir dengan ukuran panjangnya ini Lasmi berubah pikiran minta batal sampai di sini. Padahal tidak perlu. Lasmi cuma berkomentar bukan berarti ngeri. Justru dia merasa batang itu memberi keasyikan lebih dengan ukurannya yang tidak seperti biasa didapat dari suaminya. Terbukti ketika Pak Suryo mulai menggesek baru dua tiga gerakan ternyata sudah mendapat sambutan menyenangkan dari si cantik yang segera jadi bergairah merangkul leher Pak Suryo berikut kedua kakinya naik membelit paha sebagai tanda bahwa dia menyukai disetubuhi penis Pak Suryo ini. Inipun jelas terbaca dari mimik muka Lasmi, malah tidak sungkan-sungkan mengutarakannya ketika dipancing Pak Suryo yang karena cukup berpengalaman jelas bisa membaca gelagat Lasmi.

"Gimana rasanya.. sakit nggak?"

"Nggak.. enak malah Pak, geli sampe ke dalem-dalem sini." jawabnya sambil mengusap- usap perut atasnya.

"Apanya yang enak?"

"Ngg.. kontoll Bapak.." jawab Lasmi genit-genit senang.

Mendengar ini tentu saja Pak Suryo jadi lega dan leluasa sudah dia bermain menggoyang penisnya yang disambut Lasmi dengan juga mengimbangi mengocok vaginanya. Masing- masing tenggelam menikmati asyiknya senggama dalam suasana yang cepat sekali akrab, sama-sama lupa tentang status hubungan mereka antara anak menantu dan mertuanya. 

Memang ada perbedaan pada kedua lelaki lawan mainnya ini. Bersama Mas Indra seperti masih ada gengsi-gengsian yang membatasinya kurang begitu saling terbuka, tapi dengan Pak Suryo biarpun baru kali ini, entah mungkin karena Lasmi sudah biasa bermanja-manja dengan pengalaman lalunya yang umumnya laki-laki tua berduit dan bersikap kebapakan, maka rasanya dia tidak sungkan-sungkan dan malu lagi mengutarakan apa yang dialaminya saat ini, teristimewa waktu mencapai orgasmenya yang diikuti juga oleh Pak Suryo.

 "Paak ennakk Paak.. Iyya.. Duhh Bapaak dalem bangett masuknya Paakk.. Aaa.. dikorek-korek gitu Lasmi pengenn kluarrin.. Ayyo Pakk.. adduuh..

Iyya ayyo aahhgh.. sshgh.. hghrf.. ennaak punyamu Lass..

Bapakk juga kluaarr.. sshmmh.." 

Tapi hubungan lama-lama semakin nekat. Tidak hanya waktu suasana rumah sepi tapi sekalipun suaminya sedang ada di rumah pun Lasmi berani juga mencuri-curi waktu bercinta dengan Pak Suryo.Ceritanya hari itu menjelang maghrib Mas Indra sudah berdua dengan Lasmi di dalam kamar ketika tidak lama kemudian Pak Suryo pulang dari kerjanya. Seperti biasa Bu Suryo baru akan pulang dari mini marketnya menjelang larut malam. Kedua pasangan muda itu sudah akan bermain cinta, masing-masing sudah saling terangsang dan baru saja akan mulai tiba-tiba terdengar pintu kamar diketok.

Spontan Lasmi terburu-buru berpakaian dan keluar dari kamar, ternyata Pak Suryo yang ada di depan situ. Dia rupanya akan meminta pijit dari Lasmi tapi ketika diberi tahu bahwa Mas Indra sedang ada di kamar, Pak Suryo pun membatalkan niatnya. Masuk ke kamar lagi Lasmi langsung tersenyum geli kepada Mas Indra.

"Barusan Bapak yang ngetok pintu. Dia minta tolong dipijitin tapi begitu kukasih tau Mas masih ada di kamar, Bapak jadi batal."

"Oh ya? Ya udah, ke sana aja dulu pijetin Bapak, nanti baru ke sini lagi kan juga masih sore." 

"Idih Mas gimana sih. Masak aku musti ke sana duluan, lalu Mas sendiri gimana dong?"

"Nggak gitu, soalnya barusan kan Bapak mungkin lagi pegel minta dipijit, kalo kamu nggak ngikutin kan nggak enak jadinya."

Mendengar ini Lasmi berlagak pasang muka ragu sebentar tapi kemudian beranjak juga.

"Mas sih bukannya tadi-tadi ngasihnya.. Awas lho kalo aku dateng lagi Mas nggak mau ngasih, aku marah beneran." katanya dengan mimik muka cemberut tapi sebenarnya dalam hati girang bukan main. 

"Nggak usah kuatir, pasti Mas kasih kalo kamu abis dari sana."

Bukan main, gayanya seperti berat terpaksa tapi sebenarnya inilah yang diharapkan Lasmi. Karena begitu menyusul Pak Suryo di kamarnya dia sudah langsung meloncat dan memeluk dengan wajah girang. Pak Suryo sendiri baru selesai membuka bajunya tinggal celana dalam dan masih berdiri di samping tempat tidur ketika itu. 

"Lo, lo, lo, kok cepet sekali ke sininya. Gimana bilangnya sama Indra?" tanya Pak Suryo heran.

"Las bilang aja terus terang barusan Bapak manggil minta dipijetin jadi Mas Indra ngasih ijin ke sini."

"Oh ya? Bukannya Bapak tadi liat kamu lagi kusut, baru mau maen apa udah selesai?"

"Tadinya emang mau maen, tapi baru mau dimasukin udah keburu Bapak ngetok pintu.."

"Waduh maaf kalo gitu. Lagi kepengen-kepengennya langsung disetop begitu kan penasaran."

"Malah kebeneran Pak.. kan terusannya bisa dapet ini yang lebih mantep lagi." kata Lasmi sambil menjulurkan tangannya meremasi penis Pak Suryo.

"Jadi, lobang yang lagi penasaran ini sekarang malah mau dikasih Bapak dulu, ya?" tanya lagi Pak Suryo dengan membalas meremasi gundukan vagina Lasmi.

"Iya, iya Paak.. di situ yang aku kepengenn sekalli.." baru diremas sebentar saja, Lasmi yang memang sedang terangsang penasaran sudah langsung gemetaran suaranya,

"Ayoo Pak.. buka juga Bappak

punya.." lanjutnya dengan terburu-buru melepas bajunya. Pak Suryo menyusul hanya tinggal melepas celana dalamnya tapi Lasmi sudah lebih dulu selesai. Dan baru saja penis Pak Suryo bebas Lasmi sudah berlutut, menangkap batang itu langsung mencaplok mengisap-isapnya dengan rakus. Diserbu rangsangan begini batang itu cepat saja mengeras dan Lasmi seperti tidak ingin membuang-buang waktu. Dia naik duluan menelentang dan mengangkang memasang vaginanya siap untuk segera dimasuki. Sampai di bagian ini semua memang bisa serba cepat tapi pada giliran batang akan dimasukkan mau tidak mau tempo harus diperlambat. Sebab meskipun sudah terbiasa tapi penis ukuran lebih besar dari suaminya ini tetap saja tidak bisa langsung main tancap sekaligus. Perlu hati-hati dan harus ada kerja sama untuk saling menggesek dan memutar membuat lebih licin dalam beberapa waktu, sekalipun rahang Lasmi sudah gemetaran kaku menunggu lewatnya masa itu sebelum mendapatkan rasanya. Tapi kalau batang sudah tertancap dalam dan Lasmi sudah bisa menyesuaikan ukurannya. Hmm.. jangan bilang lagi nikmatnya. Langsung gayanya berubah kontras sewaktu mulai dipompa oleh Pak Suryo. 

"Hhss.. aduuhh tobatt aku Paak.. hahgh ooghh.. kontol kok dalem sekali Pak.. tobat akuu.. 
ampun Bapaak, gedee sekalli

aduuh.. Pakk.." Nada suara Lasmi

merintih-rintih mengaduh ampun tobat, ditambah lagi

dengan gayanya yang meliuk-

liuk mata terbalik seperti orang

kesakitan, yang begini kalau

didengar dan dilihat Mas Indra

tentu akan menggiris karena mengira istrinya sudah tidak

tahan disiksa oleh Pak Suryo.

Apalagi kalau bisa melihat lebih

jelas bagaimana kewanitaan

sang istri yang sering diusapi

sayang itu, sekarang sampai sudah dipaksa mekar membulat

lantaran menampung besar

keliling batang dan itu pun

masih harus lagi disodok-sodok

kasar seperti tidak mengenal

belas kasihan. Tentu, kalau belum mengerti Mas Indra pasti

tambah menggiris melihatnya.

Padahal kebalikan dari ini justru

Lasmi sedang tenggelam dalam

nikmat yang mengasyikan saat

itu. Pak Suryo sudah hafal benar

gaya Lasmi, makin dipompa

keras makin dirasakan enak

bagi Lasmi, dan gaya ini juga

malah menimbulkan rangsangan

tersendiri bagi Pak Suryo untuk membawanya tiba menuju

puncak permainan bersama

Lasmi. Terlebih kalau Lasmi

sudah meminta tambahan

rangsangan baru di bagian

susunya, itu tanda dia sudah akan mendekati orgasmenya.

"Heg.. yaang kerass Pak.. shh

iya gittu.. aduh.. sshgh.. heehh..

ayyo.. ayoo Paak.. aahgh..

sshgh.. Iyya Pakk Laas udah

keluarr.. aduhh.. hghshh.. hrrgh.." Seiring remasan tangan Pak

Suryo di susunya diperkeras,

Lasmi pun tiba orgasmenya. Di

bagian ini nampaknya lebih sadis

lagi. Sebab buah dada yang

biasanya diperlakukan Mas Indra dengan gemas-gemas

sayang ini di tangan Pak Suryo

diremasi tidak tanggung-

tanggung lagi. Tidak ubahnya

seperti sedang menggilas baju

di papan cucian, kedua daging kenyal itu sampai meleot-leot

sesekali mencuat putingnya dari

sela-sela jari tangan besar Pak

Suryo. Malah waktu mengiringi

orgasmenya Lasmi terlonjak-

lonjak dengan dada membusung, di situ seolah-olah

tubuhnya terangkat-angkat

oleh tarikan Pak Suryo yang

mencengkeram kedua bukit

daging itu. Pokoknya jika bisa

melihat secara keseluruhan bagaimana cara Pak Suryo

mengasari istrinya, Mas Indra

bisa pingsan dibuatnya. Tapi

justru begini yang paling disukai

Lasmi karena dia merasa

seolah-olah seluruh kepuasannya dibetot keluar

tanpa tersisa. Rupanya 'kesadisan' Pak Suryo

belum selesai. Sesaat setelah

Lasmi selesai berorgasme maka

giliran Pak Suryo yang

mengambil bagiannya. Tapi

menjelang tiba di saat ejakulasinya tiba-tiba dia

mencabut batangnya dan

langsung tegak berlutut sambil

menarik kedua lengan Lasmi

membawanya terikut bangun

duduk. Lasmi sempat bingung tapi ketika Pak Suryo

menjambak rambutnya dan

menarik kepalanya

mendekatkan ke penisnya,

segera dia mengerti maksud

Pak Suryo, apalagi Pak Suryo juga menjelaskan lewat kata-

katanya. "Ayyo Las, isepin

Bapak sampe keluarr.." Tanpa

ragu-ragu Lasmi langsung

mencaplok dan melocok batang

itu dengan mulutnya. Tentu tidak bisa semua, hanya

tertampung bagian kepalanya

saja tapi ini sudah cukup bagi

Pak Suryo untuk bisa

menyalurkan kepuasannya. Dan

begitu kepala batang itu mengembang, sedetik kemudian

dia pun menyemburkan cairan

maninya tumpah di mulut Lasmi.

Agak tersekat Lasmi dengan

semprotan tiba-tiba ini, serasa

ingin mencabut kepalanya tapi tangan Pak Suryo menekan

kepalanya tidak ingin

melepaskan kuluman mulutnya

sehingga mani yang tumpah itu

pun tertelan semua oleh Lasmi.

Ini baru pertama kali dia melakukan hal ini sehingga

ketika permainan berakhir dan

Lasmi bisa melepas mulutnya,

langsung meringis aneh

mukanya. "Kenapa Las, nggak enak ya

rasanya?" tanya Pak Suryo geli.

"Asin rasanya Pak.." jawab Lasmi

terikut geli.

"Maaf ya? Terpaksa Bapak

tumpahin di mulut, soalnya kalo di lobangmu nanti bisa ketauan

sama Masmu."

"Nggak pa-pa, sekali-sekali buat

pengalaman baru kok.."

"Kalo sering-sering emang

kenapa?" "Ya bagaimana Bapak.. Emang

enak sih dikeluarin pake

mulut?" kata Lasmi dengan

bergerak bangun untuk ke

kamar mandi mencuci bekas-

bekas permainan ini. "Oo.. sama Lasmi sih pasti enak

aja." jawab Pak Suryo sambil

ikut bangun menyusul Lasmi. Selepas beristirahat sebentar

Lasmi pun kembali ke kamarnya

menemui suaminya. Tentu saja

dengan bersandiwara seolah-

olah dia tidak ada apa-apa

dengan permainan bersama Pak Suryo. Begitu datang dia

langsung menubruk Mas Indra

dengan gaya tidak sabaran

menggerayangi penis Mas Indra.

Jelas gaya yang membuat Mas

Indra bangga padahal justru yang terjadi kebalikannya,

sebab barusan mengalami hal

yang paling asyik kemudian

turun ke yang biasa. Lasmi

dalam senggama berikutnya

bersama Mas Indra hampir- hampir tidak ada rasanya sama

sekali. Hanya gayanya saja

yang tetap meyakinkan bahwa

dia sudah terpuaskan dengan

Mas Indra, tapi kecuali sempat

terangsang sedikit Lasmi tidak sampai mengalami orgasme

dengan suaminya. Meskipun

begitu dia tidak penasaran

karena sudah terbayang

sepeninggal Mas Indra besok

pagi ke kantornya, dia akan minta lagi pada mertuanya

untuk meluapkan kerinduannya. Begitu, dalam enak

dirasakannya bersetubuh

dengan sang mertua yang

punya batang panjang bisa

mengilik jauh ke dalam

rahimnya, Lasmi praktis jadi ketagihan untuk mengulang

setiap kali ada kesempatan bisa

mencuri-curi